Minggu, 15 April 2012

Identitas Mahasiswa Teknik

Sore itu di sudut sebuah kantin, beberapa Mahasiswa berambut panjang terlihat sedang duduk-duduk mengobrol sambil menghisap rokok. Dengan sekali melihat saja, bisa ditebak bahwa mereka adalah Mahasiswa Fakultas Teknik Untan. Perkiraan saya ternyata benar karena pada saat itu seorang Mahasiswa dengan ciri yang sama (berambut panjang) datang menghampiri mereka dengan membawa peralatan untuk mengukur jalan. Pertanyaan pun muncul dalam kepala ini. Mengapa mereka identik dengan rambut panjang? Apa sebenarnya alasan mereka memanjangkan rambut? Karena rasa penasaran tersebut, ingin sekali rasanya bertanya langsung dan mengenal Mahasiswa tersebut. Namun, hal itu urung saya lakukan saat itu karena situasi dan kondisi yang kurang tepat. Terlihat dari raut wajah mereka, sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang agak serius.

Rasa penasaran ini membuat saya mulai berpikir untuk mencari narasumber yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Secara tidak sengaja, keesokan harinya saya bertemu dengan seorang teman yang kuliah di Fakultas Teknik Untan. Setelah cukup lama berbicara dengan Mahasiswa tersebut, akhirnya rasa penasaran saya terjawab. Mahasiswa yang tidak mau disebutkan namanya ini mengatakan, “Rambut panjang sebenarnya adalah pilihan, tidak ada keharusan ataupun perbedaan di dalamnya. Memiliki rambut panjang bagi sebagian Mahasiswa Teknik sudah dianggap sebagai identitas kampus dan sudah menjadi adat istiadat”. Senada pernyataan di atas, Mahasiswa Teknik lain yang juga tidak ingin disebut namanya menambahkan, “Sebenarnya mahasiswa yang berambut panjang tidak hanya di Teknik, di kampus lain juga banyak yang berambut panjang. Kalau bagi saya pribadi, mumpung lagi kuliah, kapan lagi mau memanjangkan rambut kalau tidak sekarang? Di sisi lain, mungkin secara kebetulan Output dari Mahasiswa Teknik adalah orang lapangan. Jadi, untuk menghadapi tantangan yang ada di lapangan, Mahasiswa diharapkan harus mempunyai mental dan penampilan yang berani dan meyakinkan.” ujarnya.

Penulis: Rizka

Megamol, Tempat Seru bagi Remaja

Pontianak-Satu di antara tempat di Pontianak yang tidak pernah sepi oleh pengunjung ialah Megamol Ayani Pontianak. “Tempat ini bisa menjadi alternatif untuk menyegarkan pikiran. Tempat ini juga bisa menjadi sumber inspirasi bagi saya. Di sini saya bisa melihat berbagai model pakaian, baik dari yang dikenakan orang maupun yang dipajang. Kebetulan saya sangat senang merancang pakaian.”, jelas Eka (19th), satu di antara pengunjung Megamol Pontianak.

Menurut beberapa remaja dari kalangan pelajar dan mahasiswa yang diwawancarai mengatakan bahwa Mengamol merupakan satu di antara tempat yang seru. Tempat ini menawarkan berbagai hiburan dan kesegaran untuk kota Pontianak yang cukup panas. Banyak hal yang dapat dilakukan di dalam Megamol seperti membaca buku, menonton film, bermain, makan-makan, dan sebagainya. Tak heran banyak remaja yang memilih megamol sebagai tempat favorit mereka untuk bertemu dengan teman-temannya.

Banyak hal yang dapat dinikmati di Megamol tanpa harus mengeluarkan biaya mahal. Cukup dengan membayar parkir mulai dari seribu hingga lima ribu rupiah saja, kita sudah bisa menikmati Megamol Pontianak. Membaca buku di Gramedia, mengobrol dengan teman, foto-foto, menyaksikan pameran dan pertunjukan adalah beberapa kegiatan yang dapat kita nikmati di Megamol tanpa harus mengeluarkan biaya mahal.

Lain halnya dengan Mahasiswa Politeknik Pontianak yang satu ini, Faisal (22) yang kurang menyukai Megamol. “Tempatnya ribut, barang-barang yang dijual juga mahal. Saya terpaksa ke sini untuk membeli buku. Sebenarnya saya tidak suka tempat-tempat yang banyak orangnnya. Saya lebih senang menghabiskan waktu di depan televisi daripada harus pergi ke tempat ini”, ujarnya. Menurut Faisal, remaja yang ke Megamol kebanyakan hanya membuang-buang waktu dan uang orang tua mereka dengan membeli barang-barang yang mahal dan sebenarnya belum begitu penting bagi mereka.


Penulis: Rizka

Wisata Kuliner Museum Kalbar

Pontianak-Selain dapat berwisata dengan melihat koleksi benda-benda bersejarah secara langsung, Museum Kalimantan Barat juga menawarkan wisata kulinernya. Berbagai makanan dapat kita temui dan nikmati di sini. Bakso, nasi goreng, mi goreng, martabak pisang, somay, rujak buah, chai kue, hingga steak adalah beberapa kuliner yang dapat dinikmati di sini. Dari sekian banyak makanan yang dapat dinikmati tersebut, sangat disayangkan justru makanan khas Kalimantan Barat yang hampir tidak ada dijual di sini. “Memang, sebagian besar kantin dan restoran di sini jarang yang menawarkan makanan-makanan khas daerah. Khusus kantin ini, kami hanya menjual makanan cepat saji seperti nasi goreng dan lain-lain. Kebetulan kami juga tidak pandai membuat makanan khas daerah Kalbar.” ujar Elsa (25 tahun) penjaga Kantin Ceria.

Ada dua kantin dan dua restoran di museum Kalbar. Selain keempat tempat makan tersebut, pedangang asongan juga banyak yang berjualan di sini. Mulai dari pedangang somay, keripik, rujak, minuman ringan, es krim, dan lain-lain juga ikut mencari nafkah di sini. Mereka bebas berdagang di museum asalkan bisa menjaga kebersihan lingkungan museum. Para pedagang asongan tersebut tidak dikenai pajak seperti pemilik kantin ataupun restoran karena mereka tidak menetap untuk berjualan di sana.

Pengunjung museum ada yang datang dari luar kota bahkan luar negeri, mereka biasanya akan menyempatkan diri untuk menikmati kuliner di sini. Pengunjung yang menikmati makanan di museum ini biasanya ialah masyarakat dari kalangan menengah ke atas. Mulai dari pelajar, mahasiswa, pegawai kantor hingga pejabat daerah, sering datang dan makan di kantin ataupun restoran museum Kalbar ini. Beberapa pengunjung berpendapat bahwa makanan yang ditawarkan cukup enak dan tempatnya juga nyaman. Pengunjung bebas memilih tempat makan dan bisa juga makan sambil menikmati pemandangan yang ada di sekitar museum ini. Selain itu, harga makanan yang ditawarkan juga bervariasi, sesuai dengan tempat dan menu makanan yang dipilih.


Penulis: Rizka

Mengunjungi Mega Mall Ayani

Kegiatan Akhir Pekan Pak Rudi Sekeluarga

PONTIANAK- Pak Rudi sekeluarga yang menghabiskan akhir pekan bersama keluarganya dengan berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota Pontiak, yaitu di Mega Mall, Sabtu (10/3).

Akhir pekan adalah hari-hari yang selalu dinantikan oleh keluarga Pak Rudi. Di akhir pekan itulah mereka bisa bersama-sama, karena setelah itu keluarga mereka disibukkan dengan berbagai aktifitas yang menyita waktu, sehingga tidak ada waktu untuk kumpul bersama keluarga,” ujar Bu Meli (38), istri Pak Rudi . Ini adalah momen yang sangat berharga bagi keluarga kami,” kata Pak Rudi.

Menurut Bu Meli, mereka sering pergi ke Mega Mall bersama keluarganya, yaitu bersama ketiga anak mereka Meri (17), Andi (15), dan Yesi (10). Jika tidak ada halangan kami selalu pergi ke sini dan yang biasa kami lakukan di sini adalah makan bersama. Kalau kedua anak saya, yaitu Meri dan Yesi paling suka ke gramedia, begitu juga dengan suami saya karena mereka sangat suka membaca. Namun, berbeda dengan Andi, dia sukanya main game. Kalau saya sendiri paling suka berbelanja kebutuhan pokok, maklum ibu-ibu. Jadi kalau pergi harus adil dan semua tempat yang kami senangi, pasti kami datangi. Mulai dari makan, ke gramedia, main game, dan berbelanja.

Kesukaan setiap orang tidak bisa diprediksikan, ada yang hobinya sama dan ada juga yang hobinya berbeda-beda, seperti hobi Meri dan Desi yang suka membaca buku, sedangkan Andi Hobinya bermain game. Pergi ke Mall adalah satu di antara kegiatan yang keluarga Pak Rudi lakukan pada akhir pekan, yang biasanya dilakukan bersama-sama.


Penulis: Marina Linda (F11109037)