Rabu, 18 Juli 2012

Selalu Bersyukur, Walau Seorang Tukang Becak

Tak pandang panas maupun hujan, untuk melaksanakan tugas harian seorang pria paruh baya bergegas untuk bekerja, yang menjadi kewajibannya sebagai seorang tukang becak dan sebagai sumber nafkah untuk anak istrinya.
Tiap pagi sampai siang Pak Karim harus berangkat kerja. Melepas lelah sejenak, beberapa saat setelah duduk ditempat biasa dia mangkal, muncullah beberapa orang untuk meminta mengantarkan barang pesanan. Pak tua berusia 52 tahun itu masih dengan semangatnya menyusuri jalan sambil membawa barang-barang yang di suruh untuk mengantar barang pesanan tersebut. Nampak wajah dan kaos yang melekat di tubuhnya dibasahi keringat karena udara siang itu begitu menyengat kulit. Tapi tidak membuat Pak Karim terhenti untuk mengayuh becak sepanjang jalan. Itulah aktifitasnya ditengah paerjuangannya menantang tua yang tak pernah menyerah untuk terus berjalan maju.
Sudah 6 tahun ini, Pak Karim bekerja sebagai tukang becak miliki Pak Suwan. “Tugas saya mengantarkan barang pesanan orang seperti beras dan bahan pokok lainnya,”ujar Karim.
Sebagai tukang becak milik Pak Suwan itu hanya ditangani 5 orang. Karim menceritakan, dulu sebagai tukang becak sebenarnya dikerjakan oleh 11 orang. Namun kini sudah berkurang karena para pekerja harian merasa kurang cocok dengan gaji yang diterima. Menurutnya, sejak beroperasi tahun 2007 hingga saat ini upah tenaga kerja harian tidak pernah naik dan hanya di gaji 10 ribu rupiah. “Tidak ada kenaikan gaji,” kata Karim singkat.

Namun, pria asli balai Desa Sepempang ini lebih bersyukur, karena gaji harian yang diterimanya lebih besar dibanding rekan-rekan kerja lain. Pak Karim bekerja dari pukul 08.00-16.00 WIB, dari pekerjaan yang menguras tenaga ini hanya dihargai 20.000 rupiah per hari.
“Alhamdulillah, walau sering kekurangan saya tetap bersyukur atas rezeki yang didapat,” kata Karim penuh syukur. Karim bekerja harian dari Senin hingga Sabtu, jika dikalkulasikan maka pendapatan rata-rata tiap bulan yang Karim kantongi hanya 520 ribu rupiah.
“Walau digaji kecil, saya harus tetap bekerja karena kalau tidak masuk kerja, maka kasihan anak istri harus menahan lapar,” ungkap Karim. Menurutnya, tiap hari harus mengeluarkan minimal uang 54.000,-rupiah untuk belanja beras 6 kg dan belanja sayuran 20.000 rupiah. Tapi kalau ditambah dengan biaya sekolah anak bisa lebih dari itu.
Di zaman ekonomi berbiaya tinggi, tentu pendapatan sebagai tukang becak tidak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi Pak Karim masih menanggung biaya sekolah Rina dan adiknya Reni yang masih kecil hasil pernikahan dengan Saidah (40), yang kini duduk di bangku kelas IV SD Jemengan.
Dia mengaku, penghasilan dari bekerja seorang tukang becak tidak cukup untuk sepekan, hampir tiap Jumat uang sudah habis. Sehingga sering kali dia menyuruh Rina anak sulungnya untuk tidak masuk sekolah tiap hari Jumat, ”kalau tidak ada ongkos Rina harus jalan ke sekolah sejauh sekitar dua kilo meter, ”ujarnya dengan nada sedih.
Walau dalam keterbatasan perekonomian keluarga, Pak Karim tetap bersabar dan menjalin hubungan baik dengan para tetangga. Jika ada tetangga yang datang ke rumah Pak Karim, selalu di sambutnya dengan ramah.
Karena kebaikannya ini, dia dikenal banyak orang hingga di lingkungan selain di Desa Sepempang tempat tinggalnya tersebut. Suatu hari, pria yang dikenal sebagai tukang becak ini mendapat kabar baik dari Pak Anam, Kepala Dusun RT 03/ RW 04 Kelurahan Sepempang, bahwa ada program pemberdayaan peternak dari Kampung Ternak, dan menyarankan kepada Pak Karim untuk mendaftar dalam hal program ini. Pak Karim tidak menyiakan kesempatan baik ini, bergegas dia langsung ikut mendaftar.
Selama proses seleksi, dia selalu mengikuti agenda rapat tiap pekan sekali dengan para penerima manfaat lainnya. Pak Karim mengungkapkan dalam rapat dibahas materi-materi skill seputar pemeliharaan dan perawatan ayam serta bebek, juga materi keagamaan, “Materi agama yang disampaikan sangat menyentuh hati, karena mengingatkan akan kebesaran dan kemurahan rezeki Allah swt, “ucapnya.
Saat ini, Pak Karim tergabung dalam kelompok Pulo Makmur yang terdiri dari enam penerima manfaat. Tepat Maret 2009 dia mendapat amanah untuk memelihara hewan ternak sebanyak 10 ekor ayam. Menurutnya, berhubungan dengan dunia ayam bukanlah hal yang asing untuknya, karena sejak kecil Pak Karim sudah terbiasa memelihara ayam milik almarhum ayahnya. “Jodi saye ndok membe nak nguros ayam, karene lah tebiose gok, “yang artinya jadi saya tidak masalah jika ngurusin ayam karena sudah terbiasa juga, “pungkasnya.
Sejak menerima amanah hewan ternak, Pak Karim harus membagi waktu dengan pekerjaan utamanya sebagai tukang becak. “Kalau pagi sampai siang saya ngurusin becak dulu, kemudian sekitar jam empat sore saya melihat-lihat ayam ternakan saya tetapi sebelum jam empat sore tersebut, pagi-pagi shubuh saya bangun dan sekitar jam setengah tujuh saya memberi makan pada ternakan ayam saya tersebut, “ujarnya.
Untuk memahami pakan 10 ekor ayam, tiap hari Pak Karim harus memberi ayamnya makan seperti ketupang (kelapa yang di iris kecil-kecil) dan beras. Pak Karim kembali bersyukur karena dia dapat bekerja sebagai peternak ayam sekaligus sebagai tukang becak, “Alhamdulillah dapat pekerjaan tambahan setidaknya dapat menambah biaya hidup keluarga saya, “ucapnya.
Untuk merawat ayam, sebagai peternak ayam Pak Karim juga rajin membersihkan para ayam tersebut seperti membersihkan kandang ayam dan menyiramnya dengan air dengan harapan agar tidak dihinggapi penyakit.
Pak Karim berharap, dalam proses kerjanya sebagai tukang becak dapat berjalan lancar dan keuntungan dari becak sekaligus sebagai peternak ayam dapat membantu menutupi kebutuhan kelurganya. “Yang penting cukup untuk makan walau hanya dengan lauk teri, “ucap Karim dengan penuh syukur. Begitulah berjalan sepanjang waktu.
          Penulis: Anita (F11409004)

SEORANG PENGUSAHA SUKSES

Kesuksesan lelaki satu ini merupakan bukti dari keseriusannya menjalankan usaha. Meskipun dalam perjalanannya penuh liku dan kucuran keringat. Namun, kini ia menjadi salah satu pedagang sekaligus agen telur yang diperhitungkan di kota Pontianak.
Menjadi orang sukses, apapun impiannya, memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Tentu saja diperlukan mental yang kuat, keuletan juga kesabaran penuh untuk bisa mewujudkan itu semua. Meskipun dalam perjalanannya banyak yang mengalami kegagalan, namun tidak sedikit pula orang yang mampu mencapainya. Bahkan ada yang hanya mengawalinya dengan jenis usaha yang sangat sederhana.
Salah satunya adalah Arman Riyadi, berusia 44 tahun, warga desa Sungai Raya, kecamatan Sei Raya, kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Dengan kerja keras dan perjuangannya yang tidak kenal lelah, ia berupaya sekuat tenaga mewujudkan mimpinya itu menjadi pedagang telur yang sukses.
Kiprah bisnis Arman sehingga memilih terjun menjadi pedagang telur berawal pada usia 18 tahun. Waktu itu ia melihat kondisi ekonomi keluarganya morat marit, dalam arti, bisa makan rutin setiap hari itu sudah dianggap lebih dari cukup. Sebagai anak laki laki satu satunya dari dua bersaudara, ia merasa sangat bertanggung jawab atas nasib yang menimpa keluarganya itu. Tak ingin berlama lama menjadi beban orang tuanya, akhirnya, pada tahun 1984, ia pun berhenti bersekolah. Yang ketika itu ia sedang duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Tingkat Atas di Pontianak.
Kondisi itu juga mengundang keprihatinan ayah tiga anak ini. Ia merasa sangat sedih karena harus meninggalkan pendidikannya yang tinggal beberapa bulan lagi. Apalagi ketika ia melihat teman teman seusianya yang begitu mudah menjalani hidup, terkadang ada muncul rasa iri dalam hatinya berkecamuk. Faktor usia yang terbilang masih muda, tak heran jika Arman sempat kebingungan menentukan langkah waktu itu. Ia bingung harus berbuat apa dan harus memulai darimana. Ingin menjadi penggiat usaha, namun ia tidak mempunyai uang sepeserpun dalam genggamannya.
Namun Arman tidak ingin terlalu larut dalam kegundahan itu. Ia mencoba sekuat tenaga mengembalikan dirinya kepada realitas hidup. Ia kamudian sadar, kalau apa yang ia dan keluarganya alami ketika itu bukanlah kutukan, melainkan adalah sebuah peluang dan pintu masuk untuk menjadikan dirinya sebagai orang yang kuat nantinya. Ia sangat yakin ada harapan di balik itu semua. Sebuah pintu sudah ia temukan meskipun tertutup rapat. Kini, tinggal bagaimana cara ia menemukan kunci yang tepat agar pintu itu dapat dibuka selebar lebarnya.
Arman lantas berpikir keras dan merenung. Dalam perenungan panjang itu, ia kemudian menemukan jalan keluar atas apa yang diinginkannya. Apalagi kalau bukan modal usaha. Dan untuk mensiasati itu, ia pun memutuskan untuk bekerja.
Arman bekerja di sebuah agen telur ayam lumayan besar di kota Pontianak. Namun ia sama sekali belum bisa menemukan gambaran, bidang usaha apa kira kira cocok buat dirinya kelak setelah modal itu terkumpul. Beberapa tahun kemudian, ia pun mulai terbiasa dengan bidang pekerjaan itu. Ia bekerja sekaligus belajar. Mulai bagaimana membedakan telur yang baik dan tidak, sampai perhitungan untung dan ruginya.
“Saat bekerja di agen telur itu lahir bidang usaha yang cocok buat saya. Yaitu bidang usaha yang saya geluti saat ini. Saya pun sedikit demi sedikit mengumpulkan uang dari gaji yang saya terima tiap bulan untuk modal usaha,” ungkap Arman saat ditemui di rumahnya di kompleks perumahan Grya Husada Sungai Raya dalam.
Arman kemudian menikah dengan Kartini, kini berusia 44 tahun. Dan pada tahun 1990 Arman memutuskan berhenti bekerja di agen telur itu. Modal yang terkumpul dinilai masih sangat minim. Ia pun merantau ke Sukabumi Jawa Barat, dan bekerja selama tiga tahun di peternakan ayam telur di kota tersebut. Itu juga merupakan salah satu strateginya untuk belajar lebih banyak lagi mengenai telur
Pada tahun 1994 Arman kembali ke Pontianak. Namun ketika ia akan memulai usahanya, kembali masalah modal menjadi kendala. Modal ia sudah kumpulkan selama sekian tahun bekerja di dua tempat itu terus mengalami penyusutan. Itu dikarenakan Arman sudah memiliki tanggungan yaitu istri dan anak. Sementara saat itu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari ia hanya mengandalkan upah sebagai pekerja lepas.
“Sekitar 8 juta rupiah waktu itu. Awalnya saya ragu, tapi karena tekat sudah bulat, akhirnya saya pun memberanikan diri memulai usaha,” tutur Arman.
Uang itu kemudian ia belikan telur pada agen di kota Singkawang. Ada sekitar ribuan telur yang mampu diborongnya waktu itu. Ribuan telur itulah kemudian dijajakkannya sedikit demi sedikit bersama Kartini, menggunakan sepeda.
“Agak kelimpungan juga waktu itu. Berjualan dengan sepeda, belum memiliki pelanggan. Terkadang sampai berhari hari ribuan stok telur itu bertahan. Sehingga sulit mencapai target,” ungkap lelaki berdarah Tiong Hua itu.
Meski demikian, Arman tak lantas patah semangat. Karena sebelum memulai usaha, ia sudah memperhitungkan semuanya. Hasilnya, perlahan tapi pasti, banyak konsumen mulai meliriknya kemudian menjadi pelanggan tetapnya. Namun bukanlah usaha jika tidak ada rintangan. Arman pun mengalaminya pula. Ia menjelaskan, beberapa kali dirinya mengalami kerugian karena ulah konsumen. Mereka sering berhutang kepadanya tapi tidak mau membayar.
“Sering terjadi. Kadang sedih juga kalau ingat waktu itu. Apalagi saya harus membayar kontrakan rumah. Belum lagi makan anak istri. Tapi setelah lama, saya tidak terlalu memperdulikannya. Saya anggap itu adalah bagian dari sebuah proses,” tutur lelaki yang gemar mengenakan celana pendek itu.
Di balik kisah miris Arman Riyadi, ternyata ada juga kejadian lucu yang mewarnai masa masa perjuangannya dulu. Saat ditanya apa itu, ia tertawa renyah. Seakan kejadian itu benar benar menggelitik hatinya. Ia pun kemudian menceritakan kalau ia dan istrinya sering dikejar kejar anjing ketika berjualan menggunakan sepeda.
“Kejadian itu dua kali tepatnya di depan gereja. Saat kami melintas di sana, tiba tiba anjing itu menggonggong dan mengejar kami. Bukan main takutnya. Wajah istri saya sampai pucat. Tapi untung saja saat lari, telur telur dalam keranjang sepeda tidak pecah,” cerita Arman singkat yang peristiwa itu terjadi ketika subuh dan siang hari.
Investasi kerja keras Arman yang dirintisnya dari bawah mulai membuahkan hasil. Pada tahun 1998 dirinya sudah mampu menyewa sebuah kios kecil lengkap dengan lapak di pasar tradisonal Flamboyan, Pontianak. Dengan biaya sewa 8 juta pertahun. Kios berukuran kira kira 4×3 meter itu digunakan sebagai gudang penyimpanan telur. Sementara lapak digunakan sebagai stand untuk berjualan. Dari situ pula ia dapat menjaring banyak pelanggan.
Kini, Arman tidak saja bertindak sebagai pedagang, tapi juga sudah menjadi salah satu agen telur di kota Pontianak. Dari hasil itu ia sudah memiliki dua buah rumah di kompleks perumahan yang berbeda. Ia juga telah mampu menyelesaikan pendidikan anak pertamanya sampai tingkat sarjana. Sementara anak keduanya tengah menempuh pendidikan di fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia Jogjakarta, dan masih banyak lagi yang lain yang sudah dapat raihnya. Saat ditanya berapa omset perbulannya, Arman tersenyum. Kemudian ia mengatakan, kurang lebih sekitar 150 juta rupiah perbulan.
“Nilai itu bisa kurang, bisa juga lebih. Karena harga telur di pasar fluktuatif (turun naik). Namun tidak pernah sampai anjlok,” ungkap Arman saat ditemui di lapaknya, di pasar tradisional Flamboyan.
Dalam satu butir telur, Arman mengambil keuntungan 50 rupiah. Memang terdengar sangat kecil. Namun ia mampu menjual habis sekitar 4000 sampai 5000 butir telur perhari. Bahkan pernah bisa sampai 9000 butir perhari. Sekarang ia mempunyai dua lapak atau stand di pasar tradisonal yang berbeda. Masing masing lapak mampu menghabiskan telur dengan jumlah yang sama dalam satu hari, dan itu adalah jumlah telur yang dijual secara eceran kepada konsumen lepas. Untuk pelanggan pelanggan tetapnya, ia menggunakan sistim drop. Jadi sekitar 100 ribu butir telur habis terjual dalam satu hari.
“Itu pada hari hari normal saja. Permintaan pasar dapat naik signifikan pada saat menjelang hari raya. Apalagi bulan depan sudah masuk bulan puasa. Sehingga saya harus menyediakan lebih banyak stok telur lagi di gudang. Karena dari yang sudah sudah, untuk eceran 12 ribu butir telur bisa habis terjual dalam satu hari,” ungkap lelaki yang memulai aktivitasnya dari jam 4 subuh itu.
Ia juga berpesan pada siapa saja yang ingin terjun dalam dunia kewirausahaan. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dan itu merupakan prinsip dasar dalam menjalankan usaha. Disiplin waktu, disiplin manajemen dan disiplin administrasi.
“Jangan lupa, perketat juga pengeluaran untuk hal hal yang tidak perlu. Kalau kita masih dalam tahap memulai usaha,” saran Arman, menutup pembicaraan pagi itu.
Demikianlah sedikit pengalaman Arman Riyadi, seorang pedagang telur yang sukses di Pontianak. Semoga dapat menjadi motivasi sebagai pelaku usaha.
         Penulis: Anita (F11409004)

BIOGRAFI PENULIS KALBAR

“ARROYAN DWI ANDINI”
Arroyan Dwi Andini bernama asli Dini Irawati adalah seorang seniman atau penulis Kalimantan Barat, yang terlahir, di Metro Lampung 10 Desember 1975. Beliau senang menekuni di bidang menulis seperti menulis cerpen, puisi, dan pembedahan buku hingga menjadi sebuah naskah. Dini Irawati sering mengikuti berbagai acara atau kegiatan Forum Lingkar Pena, Kalimantan Barat. Dini Irawati menikah pada tahun (1995) dan melahirkan seorang putri bernama Firda Aulia Rakhman pada tahun (1996). Rumahnya berada di Jalan Dr. Wahidin, Gang Fastabiqul Khoirot Kec. Kota Pontianak, Kalimantan Barat.
Dini Irawati juga adalah seorang pemilik usaha Diarfi Kue. Di tengah kesibukannya mengurus bisnis kue, ia masih menyempatkan waktu untuk menulis. Semenjak meninggalnya suami tercinta, kini status Dini Irawati menjadi single parent. Single parent dari seorang putri bernama Firda Aulia Rakhman yang bersekolah di Husnul Khotimah Boarding School Kuningan, Jawa Barat ini, merupakan teman satu pengajian drg Trisnawati. drg. Trisnawati Tjahyadi adalah lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gajah Mada. Beliau aktif sebagai Pegawai Negeri di Dinas Kesehatan Kota Pontianak. Buku Gigi Sehat Ibadah Dahsyat adalah buku ketiga yang ditulisnya setelah  SE dan Curhat Qurani.
Pengalaman menulis yang digeluti oleh Arroyan Dwi Andini atau kerap dipanggil Dini Irawati yakni sejak dari kecil dan sejak duduk dibangku SMA pada tahun (1994) sampai sekarang yaitu sebagai penulis seperti menulis cerpen. “Saya menulis sudah suka sejak dari kecil, cuma belum jadi suatu profesi,  sejak SMA mulai menulis seperti menulis sebuah cerpen tetapi belum dipublikasikan, mulai kuliah tulisan saya copy dan kasik ke teman-teman, dan dapat respon yang bagus tapi belum berani untuk mengajukan ke penerbit,” ujar Dini Irawati.
Sejak tahun 2005 sudah menulis, kebetulan yang pertama tulisan yang di publikasi itu selama satu tahun, dan pada tahun 2008 bentuknya novel yang berjudul SE Cinta Diujung Karir dan Iman, dengan jalan ceritanya perjalanan hidup seorang wanita yang bertitel sarjana ekonomi. SE yang bekerja menjadi pelayanan rumah makan. Dari sini baru saya intens menulisnya dan berani untuk mengajukan karya-karya saya kepenerbit nasional.
Buku terbitan nasional semuanya berjumlah 4 buah buku, 1 diantaranya di kategorikan novel yang berjudul Gigi Sehat Ibadah Mantap tetapi diubah sama penerbitnya menjadi Gigi Sehat Ibadah Dahsyat, Curhat Qurani, Menulis Bersama Allah, dan Muslimah Cantik Cerdas di Dapur.
Sinopsis dari buku Gigi Sehat Ibadah Dahsyat diantaranya seperti berikut. Berdirilah di depan kaca, lihatlah gigi dengan membuka mulut. Sadarilah betapa gigi bagaikan mutiara putih berkilau yang sangat berharga. Memiliki gigi yang sehat merupakan dambaan semua orang. Dengan gigi sehat seseorang dapat terhindar dari berbagai penyakit yang berkaitan dengan penyakit gigi yang dideritanya.
Kesehatan mulut dan gigi sebenarnya pintu menuju kesehatan tubuh secara keseluruhan. Apa pun yang kita konsumsi sebagai penunjang semua aktivitas tubuh, pertama kali akan masuk melalui mulut dan diolah oleh gigi. Maka, Rasulullah pun memberikan teladan kepada umatnya dengan bersiwak atau membersihkan gigi dalam mengawali aktivitas keseharian. Karena gigi sehat tak sekadar enak dipandang mata lawan bicara namun sekaligus pula menjadikan aktivitas beribadah kita lancar.
Buku ini membahas manfaat dan tata cara merawat gigi. Juga menjelaskan kaitan erat gigi dengan peningkatan amal ibadah kita. Disusun dengan bahasa komunikatif oleh dokter gigi langsung, menjadikan buku ini memadai menjadi referensi kita dalam meningkatkan kualitas iman dan kesehatan.
Sinopsis dari buku Menulis Bersama Allah diantaranya seperti berikut.
Sesungguhnya aku tidak tahu
Bagaimana cara mendekatiMu selain cara itu
Sesungguhnya aku tidak tahu
Apakah Engkau mau aku dekati
Sesungguhnya aku tidak tahu
Apakah Engkau dan aku bisa bersama-sama
Tapi setelah ini aku tahu
Ternyata tulisanMu mendekatkan aku padaMu
Dan tulisanku mendekatkan aku padaMu
Karena sesungguhnya aku menulis karenaMu

Tidak banyak yang tahu bahwa menulis atau pekerjaan sebagai penulis bisa menjadi ladang penghasilan tanpa harus terjauhkan dari Allah. Dengan menulis kita bisa menjadi lebih dekat dengan Allah. Bukan hanya dekat bahkan kita bisa bersama-sama Allah. Tulisan bisa menjadi sesuatu yang menakjubkan. Bukankah mukjizat terbesar yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. adalah Al-qur'an yang merupakan tulisan dari kalam Allah?
“Hal inilah yang memotivasi terlahirnya buku 'Menulis Bersama Allah' ini. Bahwa dengan menulis, kita bisa berpenghasilan sekaligus berpahala. Bahwa dengan menulis kita bukan saja bisa berbagi ilmu, tapi kita juga bisa berbagi suka, duka, tangis, tawa, sekaligus beribadah serta dekat dengan Allah,” Ujar Dini Irawati.
Sinopsis dari buku Curhat Qurani diantaranya seperti berikut. Jika orang lain mengutarakan isi hatinya kepada sahabatnya, maka lain dengan perempuan satu ini. Nurul Aini. Dia mengadu kepada Penciptanya seperti halnya orang lain mengadu kepada sahabat atau orang tuanya. Segala uneg uneg yang tak terjawab, dia dapatkan jawabannya di surat surat cinta yang terjabar dalam ayat ayat suci dalam Kitabullah.
”Mengapa aku ini terlahir sebagai perempuan ya Allah.? Mengapa aku harus berjilbab? Ya Allah siapakah jodohku? Ya Allah mengapa musibah ini menimpaku?” Begitulah sebagian pertanyaan Nurul Aini kepada Allah, dimana pertanyaan pertanyaan itu terjawab melalui dialognya dengan Al Qur'an. Walau dalam keadaan kesal atau mendapat musibah Nurul tetap melampiaskan curhatnya ke Allah. Sampai akhimya dia betul betul yakin bahwa Allah menurunkan Al Qur'an sebagai pedoman hidup yang sebenar benarnya.
Curhat Qur'ani membawa pembaca untuk lebih dekat dengan Al Qur'an. Mau tidak mau pembaca diharuskan membaca ayat demi ayat untuk tahu bagaimana jalan cerita berlangsung. Dengan penulisan yang tidak menggunakan bahasa yang rumit, mudah-mudahan pembaca dapat memahami dan terpacu untuk membuka Al Qur'an dan membaca terjemahannya. Ternyata curhat kepada Allah, dan mencari jawaban curhat kita dalam kitabullah, akan membuat kita lebih tenang. Seperti yang dirasakan Aini, tokoh dalam buku ini.
Sinopsis dari buku Muslimah Cantik Cerdas di Dapur diantaranya seperti berikut. Ada kejadian yang dialami oleh sebagian rumah tangga baru: sang istri cemas. Istri cemas lantaran sebelumnya tidak terbiasa beraktivitas di dapur alias tidak bisa memasak. Setelah menikah, ia tersadar bahwa keluarga yang baru saja dibentuk dan dibinanya itu membutuhkan makan. Walhasil, setiap hari ia menelepon sang ...bunda untuk bertanya resep masak dan cara membuatnya. Setelah diberi tahu, ternyata tidak mudah untuk langsung dipraktikkan.
Di sinilah letak pentingnya mempelajari aktivitas di dapur sebelum menikah. Buku ini memaparkan secara ringkas dan utuh bagaimana menjadi perempuan yang terampil di dapur hingga akhirnya terbantu cita-cita hadirnya keluarga yang sehat, hangat, dan berkualitas.
Buku ini membahas topik yang dekat dengan kejadian sehari-hari, antara lain:
Penyebab dan solusi perempuan enggan ke dapur;
- Manfaat memasak sendiri yang sering terabaikan;
- Menata interior dan peralatan dapur;
- Cermat dan hemat berbelanja;
- Mengatasi kesalahan dalam mengolah makanan;
- Tips tetap cantik di dapur;
- Dapur halal dan sehat.
Buku ini ditujukan bagi perempuan yang belum ataupun telah terbiasa di dapur, baik yang belum ataupun telah berkeluarga. Sebagai bonus, buku ini juga dilengkapi resep memasak praktis, simpel, dan kaya gizi.
Buku ini juga membantu diri kita sendiri bagaimana memfungsikan dapur secara maksimal, pertama kali terbentuknya buku Muslimah Cantik Cerdas di Dapur merupakan awal dari kerja anak-anak STAIN karena mau menulis.
Dalam kepenulisan kerap sama anak-anak disebuah organisasi Forum Lingkar Pena (FLP) dan saya bertugas sebagai dewan penasehat. Dalam FLP Kalbar tersebut saya ditugaskan untuk membuat sebuah buku seperti kumpulan cerpen-cerpen dari anak-anak. Dalam FLP yang menerbitkan adalah anak-anak dari STAIN.
FLP merupakan sebuah organisasi yang bergerak di kepenulisan seperti sajak, puisi, cerpen, novel, opini dll. FLP memiliki banyak cabang diseluruh Indonesia termasuk di Kalbar bahkan luar negeri. Nah, dalam moment ini FLP Kalbar telah berencana melakukan perekrutan anggota baru. Untuk menjadi anggota baru tidaklah harus dasarnya memang sudah bisa menulis tapi tidak bisa dan ingin belajarpun bisa juga bergabung. Anggotanya tidak mengenal usia, mulai dari SMP sampai yang sudah menikah dan mempunyai anak juga ada. Untuk Menjadi anggota ada beberapa tahap yang harus dilewati, yang pertama yaitu wajib ikut Pedasmen. Pedasmen merupakan pelatihan dasar menulis.
Kegiatan FLP ini terbuka bagi siapa saja (UMUM). Dengan membayar biaya kontribusi Rp 15.000 dan memberikan sebuah karya dalam bentuk apa saja (cerpen, artikel, essay atau puisi), anda bisa menjadi peserta dalam kegiatan ini. Karya yang dibuat akan dibahas pada sesi acara. Segenap panitia kegiatan ini sangat mengharapkan masyarakat Pontianak atau pendatang yang masih berada di Pontianak dapat ikut serta dalam kegiatan ini agar semakin bersemangat untuk berkarya.
Dalam acara itu, Forum Lingkar Pena juga meluncingkan salah satu antologi cerpen yang ditulis oleh beberapa penulis kalbar seperti Ferry Hadari, Rae Sitta Patappa dan Harmi Cahyani serta beberapa pengurus FLP lainnya. Antologi yang berjudul Mozaik Peradaban dari Khatulistiwa ini merupakan karya pertama yang diberikan oleh Forum Lingkar Pena Kalbar. Seluruh pengurus FLP tentu saja sangat berrharap bahwa ini merupakan awal yang baik untuk melahirkan karya berikutnya.
Pengalaman Dini Irawati selama proses menulis untuk mendapatkan 1 buah buku akan menjadi terasa lama jika kita menulisnya dengan materi yang tidak kita kuasai, karena membutuhkan referensi untuk mencari narasumber, tetapi jika menulis dalam bidang yang kita kuasai prosesnya tidak terlalu lama. Dalam menulis 1 buah buku paling cepat prosesnya selama 3 bulan karena dalam menulis sudah mencari temanya, membuat outlinenya dan sudah dikerjakan sampai selesai sehingga menjadi sebuah naskah buku tetapi tidak secara langsung mengajukan kepenerbit melainkan setelah proses membaca ulang dan mengeditnya kembali, dan jika materi yang tidak kita kuasai prosesnya bisa bertahun-tahun.
Kesulitan yang pernah dialami dalam proses menulis yaitu pada saat pemilihan kata, seperti bagaimana supaya penggunaan kata-kata dalam kalimat tersebut mempunyai suatu kekuatan, misalnya setelah menulis/ditulis terkadang ada kata yang kurang pas dan ingin ganti, ganti, dan ganti lagi dengan kata yang lain supaya menjadi sebuah kalimat dengan kata yang benar-benar pas. Tetapi untuk dalam membuat sebuah alur atau bab demi bab dan panjang materinya yang memang benar-benar dikuasai atau referensinya sudah lengkap, hal tersebut tidak terlalu bermasalah.
Kurang suka membaca novel dan juga agak kurang suka membaca karena mata kurang kuat untuk membaca terlalu lama karena mata saya sering lelah. Seperti buku-buku referensi seperti kamus Al-qur’an, hadis, buku-buku panduan menulis dan lain sebagainya, dan buku-buku tersebut bukan untuk dibaca sekaligus melainkan sebagai buku pembanding pada saat saya ingin menulis harus tahu teori kepenulisan, ketika saya perlu buku panutan itu buku itupun sudah ada, dan buku yang paling banyak saya gunakan adalah buku referensi.
Adapun novel yang biasa dibaca seperti novel karya Marah Rusli, Habiburrahman El Shirazy, dan karya-karya lainnya. Buku-buku novel Habiburrahman El Shirazy yang biasa saya baca merupakan penulis buku Best Seller seperti novel Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dll.
Menulis bisa juga dikatakan seperti apapun kata-kata yang keluar lewat mulut dan kata-kata yang keluar lewat tangan itu sudah merupakan proses menulis. Dan perlu diingat sekali lagi bahwa menulis tidak tergantung pada faktor umur/usia, dan pekerjaannya seperti apa, maupun tinggi rendahnya pendidikan. Jadi, menulis adalah proses kemauan kita untuk menulis.
Salah satu buku Gigi Sehat Ibadah Dahsyat proses editnya oleh penerbit selama 1 (satu) tahun, karena kemauan penulis dengan kemauan penerbit berbeda jadi menyatukannya agak susah dan berujung dengan proses pembuatan yang agak lama. Dan selama proses menulis saya merasa kesulitan pada pembedahan buku bagian Gigi Sehat Ibadah Dahsyat ini, itu dikarenakan karena saya tidak mengusai materi karena buku tersebut lebih bersifat ilmiah dan memang harus orang yang profesinya sebagai dokter gigi pada kebahasaan ilmu kedokteran.
Adapun motivasi dan tujuan menulis yaitu ingin menjadi media berdakwah melalui dunia kepenulisan. Menulis sebagai dakwah karena ada yang ingin mau disampaikan. Allah saja menulis dan itu merupakan motivasi paling utama dari saya. Datangnya inspirasi untuk menulis itu ketika kita membaca terjemahan, misalnya dalam teori kepenulisan, datangnya sebuah ide dari teori kepenulisan itu seperti dari apa yang kita lihat, dengar, kita rasa, tetapi kalau saya dari sumber ilmu seperti dalam terjemahan 1 ayat, jika kita mau kupas itu sudah bisa berbuku-buku yang bisa kita tulis.
Dini irawati bekerja sebagai terima pesanan kue. Karena dari kecil. Menekuni di bidang menulis sejak SMA sejak tahun 1994. Orang tua mendukung dari kecil. Tempat tanggal lahir di Metro Lampung. 10 Desember 1975. Bapak asli Jawa Tengah, sedangkan Ibu asli di Singkawang, Kalbar. Dari 3 bersaudara dan saya anak tertua. Abi tinggal di Batam dan adik Cici tinggal di Bogor, semuanya sudah berkeluarga. Kuliah di Institut Sains dan Tekhnologi Al-Kamal. Menikah tahun 1995 anak lahir 1996 dan suami meninggal tahun 1998.
Ketika pindah di Pontianak, anak masih sekolah TK selama 3 bulan di Pontianak kemudian melanjutkan Sekolah Dasar (SD) selama 6 tahun, setelah lulus SD langsung ke Pondok Husnul Khotimah pesantren di Kuningan Jawa Barat, Cirebon. Setelah lulus dari pondok melanjutkan di Aliyah Negeri di Bogor dan tinggal bersama mertua.
Pekerjaan atau kegiatan sehari-hari saya memang hanya sebagai terima pesanan kue, dan kue saya juga ada yang di titipkan di super market. Ketika tidak ada pesanan atau pesanan kue lagi sepi baru saya mulai menulis. Jadi, dimana saya bisa untuk mengefisienkan waktu yang kosong. Apalagi seperti saya sebagai single parent, tidak mungkinlah tidak menghasilkan suatu penghasilan, sementara anak juga butuh biaya untuk keperluan lainnya jadi seperti apapun yang saya lakukan dirumah tapi harus tetap menghasilkan.
Dini Irawati adalah sosok tipe perempuan yang tidak suka berkeluyuran. Selain hanya beraktivitas dirumah saja sebagai ibu rumah tangga, adapun aktivitas yang dilakukan diluar rumah, pertama hanya untuk urusan keluarga, kedua mengantar pesanan kue, ketiga mengikuti kegiatan keagamaan seperti mengaji, dan terakhir sesuai dengan undangan yang diberikan seperti salah satunya diminta untuk memberi materi disuatu tempat dan untuk menghadiri bedah-bedah buku. Kegiatan-kegiatan itu, yang menjadi aktivitas kesehariannya Dini Irawati.
Untuk kegiatan latihan menulis hal yang bisa dilakukannya dengan cara membaca sebuah cerita, seperti kita ambil satu buah paragraf kemudian kita baca, setelah itu bagaimana cara kita untuk mengubah kalimat tersebut menjadi kalimat kita sendiri atau bisa kita ganti dengan cara mencari sinonim dan antonimnya dalam kalimat tersebut sebagai panduan atau latihan kita untuk bisa menulis. Misalnya ada ide untuk menulis apa?, nah disitu baru kita tuangkan ide-ide dan dari ide tersebut kita kumpulkan kemudian baru kita jadikan sebuah tulisan kita sendiri. Dengan seringnya melakukan latihan-latihan seperti itu, maka dapat memudahkan kita dalam hal menulis.
Menulis itu menjadi susah jika yang bergerak hanya otot karena jika hanya mengandalkan otot paling hanya 25%, misalnya jika ketika tangan kita sedang lumpuh hal tersebut tidak bisa diganti dan mungkin hanya bisa menggunakan dengan tangan orang lain, sedangkan jika menggunakan otak dan hati tidak bisa dibohongi, karena cara kerjanya memang betul-betul serius seperti bagaimana dalam mengolah dan menyusun kata, dan teori-teorinya yang digunakan, itu merupakan sebuah perjuangan. Dalam hal tersebut, maka menulis jangan dianggap sepele karena dari segi apapun dengan menulis merupakan suatu pekerjaan yang mulia karena saling berbagi ilmu, mendokumentasikan sebuah ide-idenya, dan dalam istilah juga memikirkan ekonomi keluarga sampai anak cucu dan hal itu adalah salah satu menjadi modal kehidupan.
“Jika ingin menulis, jangan kita terpikir akan hal takut salah, takut tulisannya jelek karena tidak bisa menulis, dan sebagainya, tetapi yang harus dipikirkan yaitu jadikan apa yang sudah kita tulis kita lepaskan saja. Satu hal yang terpenting dalam menulis yaitu menulis adalah menabung kenangan, menulis adalah menabung kebahagiaan, menulis adalah menabung harapan dibalik kesedihan dan yang pasti menulis berarti mewariskan sejarah dan ilmu pengetahuan.
Ada tiga buah jenis tulisan diantaranya: 1) fiksi yaitu tulisan yang berdasarkan pada khayalan, 2) non fiksi yaitu tulisan yang berdasarkan pada data dan fakta, dan 3) faksi yaitu tulisan yang berdasarkan data dan fakta tetapi penyampaiannya secara fiksi yaitu berdasarkan khayalan, jadi faksi merupakan sebuah gabungan antara fiksi dan non fiksi, “jelas Dini Irawati.
Sebagai contoh seperti  biografi merupakan sebuah fakta karena perjalanan hidup kisah nyata seseorang, cuma penyampaiannya secara cerita (fiksi) atau contoh lain seperti cerita bersejarah, dari cerita sejarah ini merupakan sebuah fakta dapat dilihat dari tahunnya dan kejadiannya adalah sesuatu hal yang fakta atau benar-benar terjadi tetapi penyampaiannya secara cerita (faksi) misalnya pada sebuah cerita sejarah perang Diponegoro.
Adapun kue-kue yang dijual oleh Dini Irawati sebagai profesi terima pesanan kue seperti kue brownies, lapis legit, risoles, cracker sanwich, makaroni goreng, kanape, pandan rool steam, peanut cake, dan lain sebagainya. Kue-kue tersebut dijual dimulai dengan harga 1000.00,- untuk harga pemesanan bisa menjadi naik di atas 1000.00,- sesuai dengan pesanan yang diminta.
Kue yang dijual sangat enak karena beraneka rasa dan jika dilihat sangat unik karena berbagai macam bentuk kue yang telah dibuatnya. Pemesanan kue ada yang dibungkus dengan kotak dan ada juga dengan tempat lain.
              Penulis: Anita (F11409004)