Varian Tulisan Mahasiswa FKIP Untan Pontianak dalam Mata Kuliah Jurnalistik tersaji dalam Blog j-edutan (Jurnalistik Education Untan).
"Kupersembahkan Karyaku Untuk Indonesia"
Tak pandang panas maupun hujan, untuk
melaksanakan tugas harian seorang pria paruh baya bergegas untuk bekerja, yang
menjadi kewajibannya sebagai seorang tukang becak dan sebagai sumber nafkah
untuk anak istrinya.
Tiap pagi sampai siang Pak Karim harus
berangkat kerja. Melepas lelah sejenak, beberapa saat setelah duduk ditempat
biasa dia mangkal, muncullah beberapa orang untuk meminta mengantarkan barang
pesanan. Pak tua berusia 52 tahun itu masih dengan semangatnya menyusuri jalan
sambil membawa barang-barang yang di suruh untuk mengantar barang pesanan
tersebut. Nampak wajah dan kaos yang melekat di tubuhnya dibasahi keringat karena
udara siang itu begitu menyengat kulit. Tapi tidak membuat Pak Karim terhenti
untuk mengayuh becak sepanjang jalan. Itulah aktifitasnya ditengah
paerjuangannya menantang tua yang tak pernah menyerah untuk terus berjalan
maju.
Sudah 6 tahun ini, Pak Karim bekerja
sebagai tukang becak miliki Pak Suwan. “Tugas saya mengantarkan barang pesanan
orang seperti beras dan bahan pokok lainnya,”ujar Karim.
Sebagai tukang becak milik Pak Suwan itu
hanya ditangani 5 orang. Karim menceritakan, dulu sebagai tukang becak
sebenarnya dikerjakan oleh 11 orang. Namun kini sudah berkurang karena para
pekerja harian merasa kurang cocok dengan gaji yang diterima. Menurutnya, sejak
beroperasi tahun 2007 hingga saat ini upah tenaga kerja harian tidak pernah
naik dan hanya di gaji 10 ribu rupiah. “Tidak ada kenaikan gaji,” kata Karim
singkat.
Namun, pria asli balai Desa Sepempang
ini lebih bersyukur, karena gaji harian yang diterimanya lebih besar dibanding
rekan-rekan kerja lain. Pak Karim bekerja dari pukul 08.00-16.00 WIB, dari
pekerjaan yang menguras tenaga ini hanya dihargai 20.000 rupiah per hari.
“Alhamdulillah, walau sering kekurangan
saya tetap bersyukur atas rezeki yang didapat,” kata Karim penuh syukur. Karim
bekerja harian dari Senin hingga Sabtu, jika dikalkulasikan maka pendapatan
rata-rata tiap bulan yang Karim kantongi hanya 520 ribu rupiah.
“Walau digaji kecil, saya harus tetap
bekerja karena kalau tidak masuk kerja, maka kasihan anak istri harus menahan
lapar,” ungkap Karim. Menurutnya, tiap hari harus mengeluarkan minimal uang
54.000,-rupiah untuk belanja beras 6 kg dan belanja sayuran 20.000 rupiah. Tapi
kalau ditambah dengan biaya sekolah anak bisa lebih dari itu.
Di zaman ekonomi berbiaya tinggi, tentu
pendapatan sebagai tukang becak tidak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari.
Apalagi Pak Karim masih menanggung biaya sekolah Rina dan adiknya Reni yang
masih kecil hasil pernikahan dengan Saidah (40), yang kini duduk di bangku
kelas IV SD Jemengan.
Dia mengaku, penghasilan dari bekerja
seorang tukang becak tidak cukup untuk sepekan, hampir tiap Jumat uang sudah
habis. Sehingga sering kali dia menyuruh Rina anak sulungnya untuk tidak masuk
sekolah tiap hari Jumat, ”kalau tidak ada ongkos Rina harus jalan ke sekolah
sejauh sekitar dua kilo meter, ”ujarnya dengan nada sedih.
Walau dalam keterbatasan perekonomian
keluarga, Pak Karim tetap bersabar dan menjalin hubungan baik dengan para
tetangga. Jika ada tetangga yang datang ke rumah Pak Karim, selalu di sambutnya
dengan ramah.
Karena kebaikannya ini, dia dikenal
banyak orang hingga di lingkungan selain di Desa Sepempang tempat tinggalnya tersebut.
Suatu hari, pria yang dikenal sebagai tukang becak ini mendapat kabar baik dari
Pak Anam, Kepala Dusun RT 03/ RW 04 Kelurahan Sepempang, bahwa ada program
pemberdayaan peternak dari Kampung Ternak, dan menyarankan kepada Pak Karim
untuk mendaftar dalam hal program ini. Pak Karim tidak menyiakan kesempatan
baik ini, bergegas dia langsung ikut mendaftar.
Selama proses seleksi, dia selalu
mengikuti agenda rapat tiap pekan sekali dengan para penerima manfaat lainnya.
Pak Karim mengungkapkan dalam rapat dibahas materi-materi skill seputar
pemeliharaan dan perawatan ayam serta bebek, juga materi keagamaan, “Materi
agama yang disampaikan sangat menyentuh hati, karena mengingatkan akan
kebesaran dan kemurahan rezeki Allah swt, “ucapnya.
Saat ini, Pak Karim tergabung dalam
kelompok Pulo Makmur yang terdiri dari enam penerima manfaat. Tepat Maret 2009
dia mendapat amanah untuk memelihara hewan ternak sebanyak 10 ekor ayam.
Menurutnya, berhubungan dengan dunia ayam bukanlah hal yang asing untuknya,
karena sejak kecil Pak Karim sudah terbiasa memelihara ayam milik almarhum
ayahnya. “Jodi saye ndok membe nak nguros
ayam, karene lah tebiose gok, “yang artinya jadi saya tidak masalah jika
ngurusin ayam karena sudah terbiasa juga, “pungkasnya.
Sejak menerima amanah hewan ternak, Pak
Karim harus membagi waktu dengan pekerjaan utamanya sebagai tukang becak.
“Kalau pagi sampai siang saya ngurusin becak dulu, kemudian sekitar jam empat
sore saya melihat-lihat ayam ternakan saya tetapi sebelum jam empat sore
tersebut, pagi-pagi shubuh saya bangun dan sekitar jam setengah tujuh saya
memberi makan pada ternakan ayam saya tersebut, “ujarnya.
Untuk memahami pakan 10 ekor ayam, tiap
hari Pak Karim harus memberi ayamnya makan seperti ketupang (kelapa yang di
iris kecil-kecil) dan beras. Pak Karim kembali bersyukur karena dia dapat
bekerja sebagai peternak ayam sekaligus sebagai tukang becak, “Alhamdulillah
dapat pekerjaan tambahan setidaknya dapat menambah biaya hidup keluarga saya,
“ucapnya.
Untuk merawat ayam, sebagai peternak
ayam Pak Karim juga rajin membersihkan para ayam tersebut seperti membersihkan
kandang ayam dan menyiramnya dengan air dengan harapan agar tidak dihinggapi
penyakit.
Pak Karim berharap, dalam proses
kerjanya sebagai tukang becak dapat berjalan lancar dan keuntungan dari becak
sekaligus sebagai peternak ayam dapat membantu menutupi kebutuhan kelurganya.
“Yang penting cukup untuk makan walau hanya dengan lauk teri, “ucap Karim
dengan penuh syukur. Begitulah berjalan sepanjang waktu.
Kesuksesan lelaki
satu ini merupakan bukti dari keseriusannya menjalankan usaha. Meskipun dalam
perjalanannya penuh liku dan kucuran keringat. Namun, kini ia menjadi salah
satu pedagang sekaligus agen telur yang diperhitungkan di kota Pontianak.
Menjadi orang
sukses, apapun impiannya, memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Tentu
saja diperlukan mental yang kuat, keuletan juga kesabaran penuh untuk bisa
mewujudkan itu semua. Meskipun dalam perjalanannya banyak yang mengalami
kegagalan, namun tidak sedikit pula orang yang mampu mencapainya. Bahkan ada
yang hanya mengawalinya dengan jenis usaha yang sangat sederhana.
Salah satunya
adalah Arman Riyadi, berusia 44 tahun, warga desa Sungai Raya, kecamatan Sei
Raya, kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Dengan kerja keras dan
perjuangannya yang tidak kenal lelah, ia berupaya sekuat tenaga mewujudkan
mimpinya itu menjadi pedagang telur yang sukses.
Kiprah bisnis
Arman sehingga memilih terjun menjadi pedagang telur berawal pada usia 18
tahun. Waktu itu ia melihat kondisi ekonomi keluarganya morat marit, dalam
arti, bisa makan rutin setiap hari itu sudah dianggap lebih dari cukup. Sebagai
anak laki laki satu satunya dari dua bersaudara, ia merasa sangat bertanggung
jawab atas nasib yang menimpa keluarganya itu. Tak ingin berlama lama menjadi
beban orang tuanya, akhirnya, pada tahun 1984, ia pun berhenti bersekolah. Yang
ketika itu ia sedang duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Tingkat Atas
di Pontianak.
Kondisi itu juga
mengundang keprihatinan ayah tiga anak ini. Ia merasa sangat sedih karena harus
meninggalkan pendidikannya yang tinggal beberapa bulan lagi. Apalagi ketika ia
melihat teman teman seusianya yang begitu mudah menjalani hidup, terkadang ada
muncul rasa iri dalam hatinya berkecamuk. Faktor usia yang terbilang masih
muda, tak heran jika Arman sempat kebingungan menentukan langkah waktu itu. Ia
bingung harus berbuat apa dan harus memulai darimana. Ingin menjadi penggiat
usaha, namun ia tidak mempunyai uang sepeserpun dalam genggamannya.
Namun Arman tidak
ingin terlalu larut dalam kegundahan itu. Ia mencoba sekuat tenaga
mengembalikan dirinya kepada realitas hidup. Ia kamudian sadar, kalau apa yang
ia dan keluarganya alami ketika itu bukanlah kutukan, melainkan adalah sebuah
peluang dan pintu masuk untuk menjadikan dirinya sebagai orang yang kuat
nantinya. Ia sangat yakin ada harapan di balik itu semua. Sebuah pintu sudah ia
temukan meskipun tertutup rapat. Kini, tinggal bagaimana cara ia menemukan
kunci yang tepat agar pintu itu dapat dibuka selebar lebarnya.
Arman lantas
berpikir keras dan merenung. Dalam perenungan panjang itu, ia kemudian
menemukan jalan keluar atas apa yang diinginkannya. Apalagi kalau bukan modal
usaha. Dan untuk mensiasati itu, ia pun memutuskan untuk bekerja.
Arman bekerja di
sebuah agen telur ayam lumayan besar di kota Pontianak. Namun ia sama sekali
belum bisa menemukan gambaran, bidang usaha apa kira kira cocok buat dirinya
kelak setelah modal itu terkumpul. Beberapa tahun kemudian, ia pun mulai
terbiasa dengan bidang pekerjaan itu. Ia bekerja sekaligus belajar. Mulai
bagaimana membedakan telur yang baik dan tidak, sampai perhitungan untung dan
ruginya.
“Saat bekerja di
agen telur itu lahir bidang usaha yang cocok buat saya. Yaitu bidang usaha yang
saya geluti saat ini. Saya pun sedikit demi sedikit mengumpulkan uang dari gaji
yang saya terima tiap bulan untuk modal usaha,” ungkap Arman saat ditemui di
rumahnya di kompleks perumahan Grya Husada Sungai Raya dalam.
Arman kemudian
menikah dengan Kartini, kini berusia 44 tahun. Dan pada tahun 1990 Arman
memutuskan berhenti bekerja di agen telur itu. Modal yang terkumpul dinilai
masih sangat minim. Ia pun merantau ke Sukabumi Jawa Barat, dan bekerja selama
tiga tahun di peternakan ayam telur di kota tersebut. Itu juga merupakan salah
satu strateginya untuk belajar lebih banyak lagi mengenai telur
Pada tahun 1994
Arman kembali ke Pontianak. Namun ketika ia akan memulai usahanya, kembali masalah
modal menjadi kendala. Modal ia sudah kumpulkan selama sekian tahun bekerja di
dua tempat itu terus mengalami penyusutan. Itu dikarenakan Arman sudah memiliki
tanggungan yaitu istri dan anak. Sementara saat itu untuk memenuhi kebutuhan
hidup sehari hari ia hanya mengandalkan upah sebagai pekerja lepas.
“Sekitar 8 juta
rupiah waktu itu. Awalnya saya ragu, tapi karena tekat sudah bulat, akhirnya
saya pun memberanikan diri memulai usaha,” tutur Arman.
Uang itu kemudian
ia belikan telur pada agen di kota Singkawang. Ada sekitar ribuan telur yang
mampu diborongnya waktu itu. Ribuan telur itulah kemudian dijajakkannya sedikit
demi sedikit bersama Kartini, menggunakan sepeda.
“Agak kelimpungan
juga waktu itu. Berjualan dengan sepeda, belum memiliki pelanggan. Terkadang
sampai berhari hari ribuan stok telur itu bertahan. Sehingga sulit mencapai
target,” ungkap lelaki berdarah Tiong Hua itu.
Meski demikian,
Arman tak lantas patah semangat. Karena sebelum memulai usaha, ia sudah
memperhitungkan semuanya. Hasilnya, perlahan tapi pasti, banyak konsumen mulai
meliriknya kemudian menjadi pelanggan tetapnya. Namun bukanlah usaha jika tidak
ada rintangan. Arman pun mengalaminya pula. Ia menjelaskan, beberapa kali
dirinya mengalami kerugian karena ulah konsumen. Mereka sering berhutang
kepadanya tapi tidak mau membayar.
“Sering terjadi.
Kadang sedih juga kalau ingat waktu itu. Apalagi saya harus membayar kontrakan
rumah. Belum lagi makan anak istri. Tapi setelah lama, saya tidak terlalu
memperdulikannya. Saya anggap itu adalah bagian dari sebuah proses,” tutur
lelaki yang gemar mengenakan celana pendek itu.
Di balik kisah
miris Arman Riyadi, ternyata ada juga kejadian lucu yang mewarnai masa masa
perjuangannya dulu. Saat ditanya apa itu, ia tertawa renyah. Seakan kejadian
itu benar benar menggelitik hatinya. Ia pun kemudian menceritakan kalau ia dan
istrinya sering dikejar kejar anjing ketika berjualan menggunakan sepeda.
“Kejadian itu dua
kali tepatnya di depan gereja. Saat kami melintas di sana, tiba tiba anjing itu
menggonggong dan mengejar kami. Bukan main takutnya. Wajah istri saya sampai
pucat. Tapi untung saja saat lari, telur telur dalam keranjang sepeda tidak
pecah,” cerita Arman singkat yang peristiwa itu terjadi ketika subuh dan siang
hari.
Investasi kerja
keras Arman yang dirintisnya dari bawah mulai membuahkan hasil. Pada tahun 1998
dirinya sudah mampu menyewa sebuah kios kecil lengkap dengan lapak di pasar
tradisonal Flamboyan, Pontianak. Dengan biaya sewa 8 juta pertahun. Kios
berukuran kira kira 4×3 meter itu digunakan sebagai gudang penyimpanan telur.
Sementara lapak digunakan sebagai stand untuk berjualan. Dari situ pula ia
dapat menjaring banyak pelanggan.
Kini, Arman tidak
saja bertindak sebagai pedagang, tapi juga sudah menjadi salah satu agen telur
di kota Pontianak. Dari hasil itu ia sudah memiliki dua buah rumah di kompleks
perumahan yang berbeda. Ia juga telah mampu menyelesaikan pendidikan anak
pertamanya sampai tingkat sarjana. Sementara anak keduanya tengah menempuh
pendidikan di fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia Jogjakarta, dan
masih banyak lagi yang lain yang sudah dapat raihnya. Saat ditanya berapa omset
perbulannya, Arman tersenyum. Kemudian ia mengatakan, kurang lebih sekitar 150
juta rupiah perbulan.
“Nilai itu bisa
kurang, bisa juga lebih. Karena harga telur di pasar fluktuatif (turun naik).
Namun tidak pernah sampai anjlok,” ungkap Arman saat ditemui di lapaknya, di
pasar tradisional Flamboyan.
Dalam satu butir
telur, Arman mengambil keuntungan 50 rupiah. Memang terdengar sangat kecil.
Namun ia mampu menjual habis sekitar 4000 sampai 5000 butir telur perhari.
Bahkan pernah bisa sampai 9000 butir perhari. Sekarang ia mempunyai dua lapak
atau stand di pasar tradisonal yang berbeda. Masing masing lapak mampu
menghabiskan telur dengan jumlah yang sama dalam satu hari, dan itu adalah
jumlah telur yang dijual secara eceran kepada konsumen lepas. Untuk pelanggan
pelanggan tetapnya, ia menggunakan sistim drop. Jadi sekitar 100 ribu butir
telur habis terjual dalam satu hari.
“Itu pada hari
hari normal saja. Permintaan pasar dapat naik signifikan pada saat menjelang
hari raya. Apalagi bulan depan sudah masuk bulan puasa. Sehingga saya harus
menyediakan lebih banyak stok telur lagi di gudang. Karena dari yang sudah
sudah, untuk eceran 12 ribu butir telur bisa habis terjual dalam satu hari,”
ungkap lelaki yang memulai aktivitasnya dari jam 4 subuh itu.
Ia juga berpesan
pada siapa saja yang ingin terjun dalam dunia kewirausahaan. Ada tiga hal yang
perlu diperhatikan dan itu merupakan prinsip dasar dalam menjalankan usaha.
Disiplin waktu, disiplin manajemen dan disiplin administrasi.
“Jangan lupa,
perketat juga pengeluaran untuk hal hal yang tidak perlu. Kalau kita masih
dalam tahap memulai usaha,” saran Arman, menutup pembicaraan pagi itu.
Demikianlah
sedikit pengalaman Arman Riyadi, seorang pedagang telur yang sukses di
Pontianak. Semoga dapat menjadi motivasi sebagai pelaku usaha.
Arroyan
Dwi Andini bernama asli Dini Irawati adalah seorang seniman atau
penulis Kalimantan Barat, yang terlahir, di Metro Lampung 10 Desember 1975.
Beliau senang menekuni di bidang menulis seperti menulis cerpen, puisi, dan
pembedahan buku hingga menjadi sebuah naskah. Dini Irawati sering mengikuti
berbagai acara atau kegiatan Forum Lingkar Pena, Kalimantan Barat. Dini Irawati
menikah pada tahun (1995) dan melahirkan seorang putri bernama Firda Aulia Rakhman pada tahun
(1996). Rumahnya
berada di Jalan Dr. Wahidin, Gang Fastabiqul Khoirot Kec. Kota Pontianak,
Kalimantan Barat.
Dini
Irawati juga adalah seorang pemilik usaha Diarfi Kue. Di tengah kesibukannya
mengurus bisnis kue, ia masih menyempatkan waktu untuk menulis. Semenjak
meninggalnya suami tercinta, kini status Dini Irawati menjadi single parent. Single
parent dari seorang putri bernama Firda Aulia Rakhman yang bersekolah di Husnul
Khotimah Boarding School Kuningan, Jawa Barat ini, merupakan teman satu
pengajian drg Trisnawati. drg. Trisnawati Tjahyadi adalah lulusan Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Gajah Mada. Beliau aktif sebagai Pegawai Negeri di
Dinas Kesehatan Kota Pontianak. Buku Gigi Sehat Ibadah Dahsyat adalah buku
ketiga yang ditulisnya setelah SE dan
Curhat Qurani.
Pengalaman menulis yang digeluti oleh Arroyan
Dwi Andini atau kerap dipanggil Dini Irawati yakni sejak dari kecil dan sejak
duduk dibangku SMA pada tahun (1994) sampai sekarang yaitu sebagai penulis
seperti menulis cerpen. “Saya menulis sudah suka sejak dari
kecil, cuma belum jadi suatu profesi,sejak SMA mulai menulis seperti menulis sebuah cerpen tetapi belum
dipublikasikan, mulai kuliah tulisan saya copy dan kasik ke teman-teman, dan
dapat respon yang bagus tapi belum berani untuk mengajukan ke penerbit,” ujar
Dini Irawati.
Sejak tahun 2005 sudah menulis, kebetulan yang pertama
tulisan yang di publikasi itu selama satu tahun, dan pada tahun 2008 bentuknya
novel yang berjudul SE Cinta Diujung Karir dan Iman, dengan jalan ceritanya
perjalanan hidup seorang wanita yang bertitel sarjana ekonomi. SE yang bekerja
menjadi pelayanan rumah makan. Dari sini baru saya intens menulisnya dan berani
untuk mengajukan karya-karya saya kepenerbit nasional.
Buku terbitan nasional semuanya berjumlah 4 buah
buku, 1 diantaranya di kategorikan novel yang berjudul Gigi Sehat Ibadah Mantap
tetapi diubah sama penerbitnya menjadi Gigi Sehat Ibadah Dahsyat, Curhat
Qurani, Menulis Bersama Allah, dan Muslimah Cantik Cerdas di Dapur.
Sinopsis dari buku Gigi Sehat
Ibadah Dahsyat diantaranya seperti berikut. Berdirilah di depan kaca, lihatlah gigi
dengan membuka mulut. Sadarilah betapa gigi bagaikan mutiara putih berkilau
yang sangat berharga. Memiliki gigi yang sehat merupakan dambaan semua orang.
Dengan gigi sehat seseorang dapat terhindar dari berbagai penyakit yang
berkaitan dengan penyakit gigi yang dideritanya.
Kesehatan mulut dan gigi sebenarnya pintu menuju
kesehatan tubuh secara keseluruhan. Apa pun yang kita konsumsi sebagai
penunjang semua aktivitas tubuh, pertama kali akan masuk melalui mulut dan diolah
oleh gigi. Maka, Rasulullah pun memberikan teladan kepada umatnya dengan
bersiwak atau membersihkan gigi dalam mengawali aktivitas keseharian. Karena
gigi sehat tak sekadar enak dipandang mata lawan bicara namun sekaligus pula
menjadikan aktivitas beribadah kita lancar.
Buku ini membahas manfaat dan tata cara merawat
gigi. Juga menjelaskan kaitan erat gigi dengan peningkatan amal ibadah kita.
Disusun dengan bahasa komunikatif oleh dokter gigi langsung, menjadikan buku
ini memadai menjadi referensi kita dalam meningkatkan kualitas iman dan
kesehatan.
Sinopsis dari buku Menulis Bersama Allah diantaranya seperti berikut.
Sesungguhnya aku tidak tahu
Bagaimana cara mendekatiMu selain cara itu
Sesungguhnya aku tidak tahu
Apakah Engkau mau aku dekati
Sesungguhnya aku tidak tahu
Apakah Engkau dan aku bisa bersama-sama
Tapi setelah ini aku tahu
Ternyata tulisanMu mendekatkan aku padaMu
Dan tulisanku mendekatkan aku padaMu
Karena sesungguhnya aku menulis karenaMu
Tidak banyak
yang tahu bahwa menulis atau pekerjaan sebagai penulis bisa menjadi ladang
penghasilan tanpa harus terjauhkan dari Allah. Dengan menulis kita bisa menjadi
lebih dekat dengan Allah. Bukan hanya dekat bahkan kita bisa bersama-sama
Allah. Tulisan bisa menjadi sesuatu yang menakjubkan. Bukankah mukjizat
terbesar yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. adalah Al-qur'an yang
merupakan tulisan dari kalam Allah?
“Hal inilah
yang memotivasi terlahirnya buku 'Menulis Bersama Allah' ini. Bahwa dengan
menulis, kita bisa berpenghasilan sekaligus berpahala. Bahwa dengan menulis
kita bukan saja bisa berbagi ilmu, tapi kita juga bisa berbagi suka, duka,
tangis, tawa, sekaligus beribadah serta dekat dengan Allah,” Ujar Dini Irawati.
Sinopsis dari buku Curhat Qurani diantaranya seperti berikut. Jika orang
lain mengutarakan isi hatinya kepada sahabatnya, maka lain dengan perempuan
satu ini. Nurul Aini. Dia mengadu kepada Penciptanya seperti halnya orang lain
mengadu kepada sahabat atau orang tuanya. Segala uneg uneg yang tak terjawab,
dia dapatkan jawabannya di surat surat cinta yang terjabar dalam ayat ayat suci
dalam Kitabullah.
”Mengapa aku
ini terlahir sebagai perempuan ya Allah.? Mengapa aku harus berjilbab? Ya Allah
siapakah jodohku? Ya Allah mengapa musibah ini menimpaku?” Begitulah sebagian
pertanyaan Nurul Aini kepada Allah, dimana pertanyaan pertanyaan itu terjawab
melalui dialognya dengan Al Qur'an. Walau dalam keadaan kesal atau mendapat
musibah Nurul tetap melampiaskan curhatnya ke Allah. Sampai akhimya dia betul
betul yakin bahwa Allah menurunkan Al Qur'an sebagai pedoman hidup yang sebenar
benarnya.
Curhat
Qur'ani membawa pembaca untuk lebih dekat dengan Al Qur'an. Mau tidak mau
pembaca diharuskan membaca ayat demi ayat untuk tahu bagaimana jalan cerita
berlangsung. Dengan penulisan yang tidak menggunakan bahasa yang rumit,
mudah-mudahan pembaca dapat memahami dan terpacu untuk membuka Al Qur'an dan
membaca terjemahannya. Ternyata curhat kepada Allah, dan mencari jawaban curhat
kita dalam kitabullah, akan membuat kita lebih tenang. Seperti yang dirasakan
Aini, tokoh dalam buku ini.
Sinopsis dari buku Muslimah
Cantik Cerdas di Dapurdiantaranya seperti berikut. Ada kejadian yang dialami oleh sebagian
rumah tangga baru: sang istri cemas. Istri cemas lantaran sebelumnya tidak
terbiasa beraktivitas di dapur alias tidak bisa memasak. Setelah menikah, ia
tersadar bahwa keluarga yang baru saja dibentuk dan dibinanya itu membutuhkan
makan. Walhasil, setiap hari ia menelepon sang ...bunda untuk bertanya resep
masak dan cara membuatnya. Setelah diberi tahu, ternyata tidak mudah untuk
langsung dipraktikkan.
Di
sinilah letak pentingnya mempelajari aktivitas di dapur sebelum menikah. Buku
ini memaparkan secara ringkas dan utuh bagaimana menjadi perempuan yang
terampil di dapur hingga akhirnya terbantu cita-cita hadirnya keluarga yang sehat,
hangat, dan berkualitas.
Buku ini membahas topik yang
dekat dengan kejadian sehari-hari, antara lain:
Penyebab dan solusi perempuan
enggan ke dapur; - Manfaat memasak sendiri yang sering
terabaikan;
- Menata interior dan peralatan dapur;
- Cermat dan hemat berbelanja;
- Mengatasi kesalahan dalam mengolah makanan;
- Tips tetap cantik di dapur;
- Dapur halal dan sehat.
Buku
ini ditujukan bagi perempuan yang belum ataupun telah terbiasa di dapur, baik
yang belum ataupun telah berkeluarga. Sebagai bonus, buku ini juga dilengkapi
resep memasak praktis, simpel, dan kaya gizi.
Buku
ini juga membantu diri kita sendiri bagaimana memfungsikan dapur secara
maksimal, pertama kali terbentuknya buku Muslimah Cantik Cerdas di Dapur
merupakan awal dari kerja anak-anak STAIN karena mau menulis.
Dalam
kepenulisan kerap sama anak-anak disebuah organisasi Forum Lingkar Pena (FLP)
dan saya bertugas sebagai dewan penasehat. Dalam FLP Kalbar tersebut saya
ditugaskan untuk membuat sebuah buku seperti kumpulan cerpen-cerpen dari
anak-anak. Dalam FLP yang menerbitkan adalah anak-anak dari STAIN.
FLP
merupakan sebuah organisasi yang bergerak di kepenulisan seperti sajak, puisi,
cerpen, novel, opini dll. FLP memiliki banyak cabang diseluruh Indonesia
termasuk di Kalbar bahkan luar negeri. Nah, dalam moment ini FLP Kalbar telah
berencana melakukan perekrutan anggota baru. Untuk menjadi anggota baru
tidaklah harus dasarnya memang sudah bisa menulis tapi tidak bisa dan ingin
belajarpun bisa juga bergabung. Anggotanya tidak mengenal usia, mulai dari SMP
sampai yang sudah menikah dan mempunyai anak juga ada. Untuk Menjadi anggota
ada beberapa tahap yang harus dilewati, yang pertama yaitu wajib ikut Pedasmen.
Pedasmen merupakan pelatihan dasar menulis.
Kegiatan
FLP ini terbuka bagi siapa saja (UMUM). Dengan membayar biaya kontribusi Rp
15.000 dan memberikan sebuah karya dalam bentuk apa saja (cerpen, artikel,
essay atau puisi), anda bisa menjadi peserta dalam kegiatan ini. Karya yang
dibuat akan dibahas pada sesi acara. Segenap panitia kegiatan ini sangat
mengharapkan masyarakat Pontianak atau pendatang yang masih berada di Pontianak
dapat ikut serta dalam kegiatan ini agar semakin bersemangat untuk berkarya.
Dalam
acara itu, Forum Lingkar Pena juga meluncingkan salah satu antologi cerpen yang
ditulis oleh beberapa penulis kalbar seperti Ferry Hadari, Rae Sitta Patappa
dan Harmi Cahyani serta beberapa pengurus FLP lainnya. Antologi yang berjudul Mozaik Peradaban dari Khatulistiwa
ini merupakan karya pertama yang diberikan oleh Forum Lingkar Pena Kalbar.
Seluruh pengurus FLP tentu saja sangat berrharap bahwa ini merupakan awal yang
baik untuk melahirkan karya berikutnya.
Pengalaman
Dini Irawati selama proses menulis untuk mendapatkan 1 buah buku akan menjadi
terasa lama jika kita menulisnya dengan materi yang tidak kita kuasai, karena
membutuhkan referensi untuk mencari narasumber, tetapi jika menulis dalam
bidang yang kita kuasai prosesnya tidak terlalu lama. Dalam menulis 1 buah buku
paling cepat prosesnya selama 3 bulan karena dalam menulis sudah mencari
temanya, membuat outlinenya dan sudah dikerjakan sampai selesai sehingga
menjadi sebuah naskah buku tetapi tidak secara langsung mengajukan kepenerbit
melainkan setelah proses membaca ulang dan mengeditnya kembali, dan jika materi
yang tidak kita kuasai prosesnya bisa bertahun-tahun.
Kesulitan
yang pernah dialami dalam proses menulis yaitu pada saat pemilihan kata,
seperti bagaimana supaya penggunaan kata-kata dalam kalimat tersebut mempunyai
suatu kekuatan, misalnya setelah menulis/ditulis terkadang ada kata yang kurang
pas dan ingin ganti, ganti, dan ganti lagi dengan kata yang lain supaya menjadi
sebuah kalimat dengan kata yang benar-benar pas. Tetapi untuk dalam membuat
sebuah alur atau bab demi bab dan panjang materinya yang memang benar-benar
dikuasai atau referensinya sudah lengkap, hal tersebut tidak terlalu
bermasalah.
Kurang
suka membaca novel dan juga agak kurang suka membaca karena mata kurang kuat
untuk membaca terlalu lama karena mata saya sering lelah. Seperti buku-buku
referensi seperti kamus Al-qur’an, hadis, buku-buku panduan menulis dan lain
sebagainya, dan buku-buku tersebut bukan untuk dibaca sekaligus melainkan
sebagai buku pembanding pada saat saya ingin menulis harus tahu teori
kepenulisan, ketika saya perlu buku panutan itu buku itupun sudah ada, dan buku
yang paling banyak saya gunakan adalah buku referensi.
Adapun
novel yang biasa dibaca seperti novel karya Marah Rusli, Habiburrahman El Shirazy,
dan karya-karya lainnya. Buku-buku novel Habiburrahman El Shirazy yang biasa
saya baca merupakan penulis buku Best Seller seperti novel Ayat-Ayat Cinta,
Ketika Cinta Bertasbih, dll.
Menulis
bisa juga dikatakan seperti apapun kata-kata yang keluar lewat mulut dan kata-kata
yang keluar lewat tangan itu sudah merupakan proses menulis. Dan perlu diingat
sekali lagi bahwa menulis tidak tergantung pada faktor umur/usia, dan
pekerjaannya seperti apa, maupun tinggi rendahnya pendidikan. Jadi, menulis
adalah proses kemauan kita untuk menulis.
Salah
satu buku Gigi Sehat Ibadah Dahsyat proses editnya oleh penerbit selama 1
(satu) tahun, karena kemauan penulis dengan kemauan penerbit berbeda jadi
menyatukannya agak susah dan berujung dengan proses pembuatan yang agak lama. Dan
selama proses menulis saya merasa kesulitan pada pembedahan buku bagian Gigi
Sehat Ibadah Dahsyat ini, itu dikarenakan karena saya tidak mengusai materi
karena buku tersebut lebih bersifat ilmiah dan memang harus orang yang
profesinya sebagai dokter gigi pada kebahasaan ilmu kedokteran.
Adapun
motivasi dan tujuan menulis yaitu ingin menjadi media berdakwah melalui dunia
kepenulisan. Menulis sebagai dakwah karena ada yang ingin mau disampaikan.
Allah saja menulis dan itu merupakan motivasi paling utama dari saya. Datangnya
inspirasi untuk menulis itu ketika kita membaca terjemahan, misalnya dalam
teori kepenulisan, datangnya sebuah ide dari teori kepenulisan itu seperti dari
apa yang kita lihat, dengar, kita rasa, tetapi kalau saya dari sumber ilmu
seperti dalam terjemahan 1 ayat, jika kita mau kupas itu sudah bisa
berbuku-buku yang bisa kita tulis.
Dini
irawati bekerja sebagai terima pesanan kue. Karena dari kecil. Menekuni di
bidang menulis sejak SMA sejak tahun 1994. Orang tua mendukung dari kecil.
Tempat tanggal lahir di Metro Lampung. 10 Desember 1975. Bapak asli Jawa
Tengah, sedangkan Ibu asli di Singkawang, Kalbar. Dari 3 bersaudara dan saya
anak tertua. Abi tinggal di Batam dan adik Cici tinggal di Bogor, semuanya
sudah berkeluarga. Kuliah di Institut Sains dan Tekhnologi Al-Kamal. Menikah
tahun 1995 anak lahir 1996 dan suami meninggal tahun 1998.
Ketika
pindah di Pontianak, anak masih sekolah TK selama 3 bulan di Pontianak kemudian
melanjutkan Sekolah Dasar (SD) selama 6 tahun, setelah lulus SD langsung ke
Pondok Husnul Khotimah pesantren di Kuningan Jawa Barat, Cirebon. Setelah lulus
dari pondok melanjutkan di Aliyah Negeri di Bogor dan tinggal bersama mertua.
Pekerjaan
atau kegiatan sehari-hari saya memang hanya sebagai terima pesanan kue, dan kue
saya juga ada yang di titipkan di super market. Ketika tidak ada pesanan atau
pesanan kue lagi sepi baru saya mulai menulis. Jadi, dimana saya bisa untuk
mengefisienkan waktu yang kosong. Apalagi seperti saya sebagai single parent, tidak
mungkinlah tidak menghasilkan suatu penghasilan, sementara anak juga butuh
biaya untuk keperluan lainnya jadi seperti apapun yang saya lakukan dirumah
tapi harus tetap menghasilkan.
Dini
Irawati adalah sosok tipe perempuan yang tidak suka berkeluyuran. Selain hanya
beraktivitas dirumah saja sebagai ibu rumah tangga, adapun aktivitas yang
dilakukan diluar rumah, pertama hanya untuk urusan keluarga, kedua mengantar
pesanan kue, ketiga mengikuti kegiatan keagamaan seperti mengaji, dan terakhir
sesuai dengan undangan yang diberikan seperti salah satunya diminta untuk
memberi materi disuatu tempat dan untuk menghadiri bedah-bedah buku. Kegiatan-kegiatan
itu, yang menjadi aktivitas kesehariannya Dini Irawati.
Untuk
kegiatan latihan menulis hal yang bisa dilakukannya dengan cara membaca sebuah
cerita, seperti kita ambil satu buah paragraf kemudian kita baca, setelah itu
bagaimana cara kita untuk mengubah kalimat tersebut menjadi kalimat kita
sendiri atau bisa kita ganti dengan cara mencari sinonim dan antonimnya dalam
kalimat tersebut sebagai panduan atau latihan kita untuk bisa menulis. Misalnya
ada ide untuk menulis apa?, nah disitu baru kita tuangkan ide-ide dan dari ide
tersebut kita kumpulkan kemudian baru kita jadikan sebuah tulisan kita sendiri.
Dengan seringnya melakukan latihan-latihan seperti itu, maka dapat memudahkan
kita dalam hal menulis.
Menulis
itu menjadi susah jika yang bergerak hanya otot karena jika hanya mengandalkan
otot paling hanya 25%, misalnya jika ketika tangan kita sedang lumpuh hal
tersebut tidak bisa diganti dan mungkin hanya bisa menggunakan dengan tangan
orang lain, sedangkan jika menggunakan otak dan hati tidak bisa dibohongi,
karena cara kerjanya memang betul-betul serius seperti bagaimana dalam mengolah
dan menyusun kata, dan teori-teorinya yang digunakan, itu merupakan sebuah
perjuangan. Dalam hal tersebut, maka menulis jangan dianggap sepele karena dari
segi apapun dengan menulis merupakan suatu pekerjaan yang mulia karena saling berbagi
ilmu, mendokumentasikan sebuah ide-idenya, dan dalam istilah juga memikirkan
ekonomi keluarga sampai anak cucu dan hal itu adalah salah satu menjadi modal kehidupan.
“Jika
ingin menulis, jangan kita terpikir akan hal takut salah, takut tulisannya
jelek karena tidak bisa menulis, dan sebagainya, tetapi yang harus dipikirkan
yaitu jadikan apa yang sudah kita tulis kita lepaskan saja. Satu hal yang
terpenting dalam menulis yaitu menulis
adalah menabung kenangan, menulis adalah menabung kebahagiaan, menulis adalah
menabung harapan dibalik kesedihan dan yang pasti menulis berarti mewariskan
sejarah dan ilmu pengetahuan.
Ada
tiga buah jenis tulisan diantaranya: 1) fiksi yaitu tulisan yang berdasarkan
pada khayalan, 2) non fiksi yaitu tulisan yang berdasarkan pada data dan fakta,
dan 3) faksi yaitu tulisan yang berdasarkan data dan fakta tetapi
penyampaiannya secara fiksi yaitu berdasarkan khayalan, jadi faksi merupakan
sebuah gabungan antara fiksi dan non fiksi, “jelas Dini Irawati.
Sebagai
contoh seperti biografi merupakan sebuah
fakta karena perjalanan hidup kisah nyata seseorang, cuma penyampaiannya secara
cerita (fiksi) atau contoh lain seperti cerita bersejarah, dari cerita sejarah
ini merupakan sebuah fakta dapat dilihat dari tahunnya dan kejadiannya adalah
sesuatu hal yang fakta atau benar-benar terjadi tetapi penyampaiannya secara
cerita (faksi) misalnya pada sebuah cerita sejarah perang Diponegoro.
Adapun
kue-kue yang dijual oleh Dini Irawati sebagai profesi terima pesanan kue seperti
kue brownies, lapis legit, risoles, cracker sanwich, makaroni goreng, kanape,
pandan rool steam, peanut cake, dan lain sebagainya. Kue-kue tersebut dijual
dimulai dengan harga 1000.00,- untuk harga pemesanan bisa menjadi naik di atas
1000.00,- sesuai dengan pesanan yang diminta.
Kue
yang dijual sangat enak karena beraneka rasa dan jika dilihat sangat unik
karena berbagai macam bentuk kue yang telah dibuatnya. Pemesanan kue ada yang
dibungkus dengan kotak dan ada juga dengan tempat lain.