Rabu, 18 Juli 2012

Selalu Bersyukur, Walau Seorang Tukang Becak

Tak pandang panas maupun hujan, untuk melaksanakan tugas harian seorang pria paruh baya bergegas untuk bekerja, yang menjadi kewajibannya sebagai seorang tukang becak dan sebagai sumber nafkah untuk anak istrinya.
Tiap pagi sampai siang Pak Karim harus berangkat kerja. Melepas lelah sejenak, beberapa saat setelah duduk ditempat biasa dia mangkal, muncullah beberapa orang untuk meminta mengantarkan barang pesanan. Pak tua berusia 52 tahun itu masih dengan semangatnya menyusuri jalan sambil membawa barang-barang yang di suruh untuk mengantar barang pesanan tersebut. Nampak wajah dan kaos yang melekat di tubuhnya dibasahi keringat karena udara siang itu begitu menyengat kulit. Tapi tidak membuat Pak Karim terhenti untuk mengayuh becak sepanjang jalan. Itulah aktifitasnya ditengah paerjuangannya menantang tua yang tak pernah menyerah untuk terus berjalan maju.
Sudah 6 tahun ini, Pak Karim bekerja sebagai tukang becak miliki Pak Suwan. “Tugas saya mengantarkan barang pesanan orang seperti beras dan bahan pokok lainnya,”ujar Karim.
Sebagai tukang becak milik Pak Suwan itu hanya ditangani 5 orang. Karim menceritakan, dulu sebagai tukang becak sebenarnya dikerjakan oleh 11 orang. Namun kini sudah berkurang karena para pekerja harian merasa kurang cocok dengan gaji yang diterima. Menurutnya, sejak beroperasi tahun 2007 hingga saat ini upah tenaga kerja harian tidak pernah naik dan hanya di gaji 10 ribu rupiah. “Tidak ada kenaikan gaji,” kata Karim singkat.

Namun, pria asli balai Desa Sepempang ini lebih bersyukur, karena gaji harian yang diterimanya lebih besar dibanding rekan-rekan kerja lain. Pak Karim bekerja dari pukul 08.00-16.00 WIB, dari pekerjaan yang menguras tenaga ini hanya dihargai 20.000 rupiah per hari.
“Alhamdulillah, walau sering kekurangan saya tetap bersyukur atas rezeki yang didapat,” kata Karim penuh syukur. Karim bekerja harian dari Senin hingga Sabtu, jika dikalkulasikan maka pendapatan rata-rata tiap bulan yang Karim kantongi hanya 520 ribu rupiah.
“Walau digaji kecil, saya harus tetap bekerja karena kalau tidak masuk kerja, maka kasihan anak istri harus menahan lapar,” ungkap Karim. Menurutnya, tiap hari harus mengeluarkan minimal uang 54.000,-rupiah untuk belanja beras 6 kg dan belanja sayuran 20.000 rupiah. Tapi kalau ditambah dengan biaya sekolah anak bisa lebih dari itu.
Di zaman ekonomi berbiaya tinggi, tentu pendapatan sebagai tukang becak tidak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi Pak Karim masih menanggung biaya sekolah Rina dan adiknya Reni yang masih kecil hasil pernikahan dengan Saidah (40), yang kini duduk di bangku kelas IV SD Jemengan.
Dia mengaku, penghasilan dari bekerja seorang tukang becak tidak cukup untuk sepekan, hampir tiap Jumat uang sudah habis. Sehingga sering kali dia menyuruh Rina anak sulungnya untuk tidak masuk sekolah tiap hari Jumat, ”kalau tidak ada ongkos Rina harus jalan ke sekolah sejauh sekitar dua kilo meter, ”ujarnya dengan nada sedih.
Walau dalam keterbatasan perekonomian keluarga, Pak Karim tetap bersabar dan menjalin hubungan baik dengan para tetangga. Jika ada tetangga yang datang ke rumah Pak Karim, selalu di sambutnya dengan ramah.
Karena kebaikannya ini, dia dikenal banyak orang hingga di lingkungan selain di Desa Sepempang tempat tinggalnya tersebut. Suatu hari, pria yang dikenal sebagai tukang becak ini mendapat kabar baik dari Pak Anam, Kepala Dusun RT 03/ RW 04 Kelurahan Sepempang, bahwa ada program pemberdayaan peternak dari Kampung Ternak, dan menyarankan kepada Pak Karim untuk mendaftar dalam hal program ini. Pak Karim tidak menyiakan kesempatan baik ini, bergegas dia langsung ikut mendaftar.
Selama proses seleksi, dia selalu mengikuti agenda rapat tiap pekan sekali dengan para penerima manfaat lainnya. Pak Karim mengungkapkan dalam rapat dibahas materi-materi skill seputar pemeliharaan dan perawatan ayam serta bebek, juga materi keagamaan, “Materi agama yang disampaikan sangat menyentuh hati, karena mengingatkan akan kebesaran dan kemurahan rezeki Allah swt, “ucapnya.
Saat ini, Pak Karim tergabung dalam kelompok Pulo Makmur yang terdiri dari enam penerima manfaat. Tepat Maret 2009 dia mendapat amanah untuk memelihara hewan ternak sebanyak 10 ekor ayam. Menurutnya, berhubungan dengan dunia ayam bukanlah hal yang asing untuknya, karena sejak kecil Pak Karim sudah terbiasa memelihara ayam milik almarhum ayahnya. “Jodi saye ndok membe nak nguros ayam, karene lah tebiose gok, “yang artinya jadi saya tidak masalah jika ngurusin ayam karena sudah terbiasa juga, “pungkasnya.
Sejak menerima amanah hewan ternak, Pak Karim harus membagi waktu dengan pekerjaan utamanya sebagai tukang becak. “Kalau pagi sampai siang saya ngurusin becak dulu, kemudian sekitar jam empat sore saya melihat-lihat ayam ternakan saya tetapi sebelum jam empat sore tersebut, pagi-pagi shubuh saya bangun dan sekitar jam setengah tujuh saya memberi makan pada ternakan ayam saya tersebut, “ujarnya.
Untuk memahami pakan 10 ekor ayam, tiap hari Pak Karim harus memberi ayamnya makan seperti ketupang (kelapa yang di iris kecil-kecil) dan beras. Pak Karim kembali bersyukur karena dia dapat bekerja sebagai peternak ayam sekaligus sebagai tukang becak, “Alhamdulillah dapat pekerjaan tambahan setidaknya dapat menambah biaya hidup keluarga saya, “ucapnya.
Untuk merawat ayam, sebagai peternak ayam Pak Karim juga rajin membersihkan para ayam tersebut seperti membersihkan kandang ayam dan menyiramnya dengan air dengan harapan agar tidak dihinggapi penyakit.
Pak Karim berharap, dalam proses kerjanya sebagai tukang becak dapat berjalan lancar dan keuntungan dari becak sekaligus sebagai peternak ayam dapat membantu menutupi kebutuhan kelurganya. “Yang penting cukup untuk makan walau hanya dengan lauk teri, “ucap Karim dengan penuh syukur. Begitulah berjalan sepanjang waktu.
          Penulis: Anita (F11409004)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar