Tak pandang panas maupun hujan, untuk
melaksanakan tugas harian seorang pria paruh baya bergegas untuk bekerja, yang
menjadi kewajibannya sebagai seorang tukang becak dan sebagai sumber nafkah
untuk anak istrinya.
Tiap pagi sampai siang Pak Karim harus
berangkat kerja. Melepas lelah sejenak, beberapa saat setelah duduk ditempat
biasa dia mangkal, muncullah beberapa orang untuk meminta mengantarkan barang
pesanan. Pak tua berusia 52 tahun itu masih dengan semangatnya menyusuri jalan
sambil membawa barang-barang yang di suruh untuk mengantar barang pesanan
tersebut. Nampak wajah dan kaos yang melekat di tubuhnya dibasahi keringat karena
udara siang itu begitu menyengat kulit. Tapi tidak membuat Pak Karim terhenti
untuk mengayuh becak sepanjang jalan. Itulah aktifitasnya ditengah
paerjuangannya menantang tua yang tak pernah menyerah untuk terus berjalan
maju.
Sudah 6 tahun ini, Pak Karim bekerja
sebagai tukang becak miliki Pak Suwan. “Tugas saya mengantarkan barang pesanan
orang seperti beras dan bahan pokok lainnya,”ujar Karim.
Sebagai tukang becak milik Pak Suwan itu
hanya ditangani 5 orang. Karim menceritakan, dulu sebagai tukang becak
sebenarnya dikerjakan oleh 11 orang. Namun kini sudah berkurang karena para
pekerja harian merasa kurang cocok dengan gaji yang diterima. Menurutnya, sejak
beroperasi tahun 2007 hingga saat ini upah tenaga kerja harian tidak pernah
naik dan hanya di gaji 10 ribu rupiah. “Tidak ada kenaikan gaji,” kata Karim
singkat.
Namun, pria asli balai Desa Sepempang
ini lebih bersyukur, karena gaji harian yang diterimanya lebih besar dibanding
rekan-rekan kerja lain. Pak Karim bekerja dari pukul 08.00-16.00 WIB, dari
pekerjaan yang menguras tenaga ini hanya dihargai 20.000 rupiah per hari.
“Alhamdulillah, walau sering kekurangan
saya tetap bersyukur atas rezeki yang didapat,” kata Karim penuh syukur. Karim
bekerja harian dari Senin hingga Sabtu, jika dikalkulasikan maka pendapatan
rata-rata tiap bulan yang Karim kantongi hanya 520 ribu rupiah.
“Walau digaji kecil, saya harus tetap
bekerja karena kalau tidak masuk kerja, maka kasihan anak istri harus menahan
lapar,” ungkap Karim. Menurutnya, tiap hari harus mengeluarkan minimal uang
54.000,-rupiah untuk belanja beras 6 kg dan belanja sayuran 20.000 rupiah. Tapi
kalau ditambah dengan biaya sekolah anak bisa lebih dari itu.
Di zaman ekonomi berbiaya tinggi, tentu
pendapatan sebagai tukang becak tidak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari.
Apalagi Pak Karim masih menanggung biaya sekolah Rina dan adiknya Reni yang
masih kecil hasil pernikahan dengan Saidah (40), yang kini duduk di bangku
kelas IV SD Jemengan.
Dia mengaku, penghasilan dari bekerja
seorang tukang becak tidak cukup untuk sepekan, hampir tiap Jumat uang sudah
habis. Sehingga sering kali dia menyuruh Rina anak sulungnya untuk tidak masuk
sekolah tiap hari Jumat, ”kalau tidak ada ongkos Rina harus jalan ke sekolah
sejauh sekitar dua kilo meter, ”ujarnya dengan nada sedih.
Walau dalam keterbatasan perekonomian
keluarga, Pak Karim tetap bersabar dan menjalin hubungan baik dengan para
tetangga. Jika ada tetangga yang datang ke rumah Pak Karim, selalu di sambutnya
dengan ramah.
Karena kebaikannya ini, dia dikenal
banyak orang hingga di lingkungan selain di Desa Sepempang tempat tinggalnya tersebut.
Suatu hari, pria yang dikenal sebagai tukang becak ini mendapat kabar baik dari
Pak Anam, Kepala Dusun RT 03/ RW 04 Kelurahan Sepempang, bahwa ada program
pemberdayaan peternak dari Kampung Ternak, dan menyarankan kepada Pak Karim
untuk mendaftar dalam hal program ini. Pak Karim tidak menyiakan kesempatan
baik ini, bergegas dia langsung ikut mendaftar.
Selama proses seleksi, dia selalu
mengikuti agenda rapat tiap pekan sekali dengan para penerima manfaat lainnya.
Pak Karim mengungkapkan dalam rapat dibahas materi-materi skill seputar
pemeliharaan dan perawatan ayam serta bebek, juga materi keagamaan, “Materi
agama yang disampaikan sangat menyentuh hati, karena mengingatkan akan
kebesaran dan kemurahan rezeki Allah swt, “ucapnya.
Saat ini, Pak Karim tergabung dalam
kelompok Pulo Makmur yang terdiri dari enam penerima manfaat. Tepat Maret 2009
dia mendapat amanah untuk memelihara hewan ternak sebanyak 10 ekor ayam.
Menurutnya, berhubungan dengan dunia ayam bukanlah hal yang asing untuknya,
karena sejak kecil Pak Karim sudah terbiasa memelihara ayam milik almarhum
ayahnya. “Jodi saye ndok membe nak nguros
ayam, karene lah tebiose gok, “yang artinya jadi saya tidak masalah jika
ngurusin ayam karena sudah terbiasa juga, “pungkasnya.
Sejak menerima amanah hewan ternak, Pak
Karim harus membagi waktu dengan pekerjaan utamanya sebagai tukang becak.
“Kalau pagi sampai siang saya ngurusin becak dulu, kemudian sekitar jam empat
sore saya melihat-lihat ayam ternakan saya tetapi sebelum jam empat sore
tersebut, pagi-pagi shubuh saya bangun dan sekitar jam setengah tujuh saya
memberi makan pada ternakan ayam saya tersebut, “ujarnya.
Untuk memahami pakan 10 ekor ayam, tiap
hari Pak Karim harus memberi ayamnya makan seperti ketupang (kelapa yang di
iris kecil-kecil) dan beras. Pak Karim kembali bersyukur karena dia dapat
bekerja sebagai peternak ayam sekaligus sebagai tukang becak, “Alhamdulillah
dapat pekerjaan tambahan setidaknya dapat menambah biaya hidup keluarga saya,
“ucapnya.
Untuk merawat ayam, sebagai peternak
ayam Pak Karim juga rajin membersihkan para ayam tersebut seperti membersihkan
kandang ayam dan menyiramnya dengan air dengan harapan agar tidak dihinggapi
penyakit.
Pak Karim berharap, dalam proses
kerjanya sebagai tukang becak dapat berjalan lancar dan keuntungan dari becak
sekaligus sebagai peternak ayam dapat membantu menutupi kebutuhan kelurganya.
“Yang penting cukup untuk makan walau hanya dengan lauk teri, “ucap Karim
dengan penuh syukur. Begitulah berjalan sepanjang waktu.
Penulis:
Anita (F11409004)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar