Kehidupannya di
keluarga Basuni dimulai sejak usianya menginjak 6 tahun. Ia diangkat menjadi
anak dalam keluarga itu bertepatan pada hari ulang tahunnya, 28 Februari
1990. Uwek, begitu ibu kandungnya disapa
sekarang tinggal bersama tetangga yang telah dianggapnya seperti keluarga di Takong.
Ningsih, adik
ipar Basuni merupakan keponakan dari Uwek. Ia ingin membantu Uwek untuk
memelihara anak ini. Tapi sang suami melarangnya. Suaminya takut jika kelak
Ningsih tidak dapat membagi waktunya karena pada saat itu mereka telah memiliki
3 orang anak. Lalu Ningsih pun meminta bantuan kepada Basuni agar dapat
mengadopsi anak Uwek ini. Uwek hidup bersama anaknya. Suaminya telah meninggal
dunia saat anaknya ini berusia 2 tahun. Uwek sering sakit-sakitan. Ia pun
merasa dirinya sudah tidak mampu lagi menghidupi anaknya. Akhirnya sang anak
ini diadopsi oleh keluarga Basuni. Sang anak memiliki orangtua baru.
Orangtua barunya
ini juga memiliki beberapa anak, 1 orang laki-laki yang lebih tua 2 tahun
darinya dan 2 orang perempuan. Kedua orangtua barunya itu tidak membeda-bedakan
antara anak kandung dan anak angkatnya.
Sejak ia
diangkat menjadi anak oleh Basuni dan Nur, ia berganti agama yang semula memeluk
agama kristen khatolik menjadi agama islam mengikuti keyakinan agama keluarga
itu. Di dalam keluarga itu ia diajarkan sholat, puasa, ajaran-ajaran yang ada
dalam agama islam baik itu wajib maupun sunat.
Pada saat ia
telah sah memeluk agama islam, nama Ristor, berganti menjadi As’ad. Semula ia
tidak setuju namanya diganti, “nanti teman-temanku tidak mengenaliku lagi. Lagi
pula susah sekali menyebut nama itu”. Katanya kepada ibu angkatnya. Belum lama
ini Nur mengatakan As’ad meminta kepada teman-teman di lingkungan barunya
memanggil namanya dengan panggilan A’at.
Sejak kecil A’at
memang dikenal luar biasa nakalnya. Orangtua barunya telah berjanji kepada Uwek
untuk mendidik A’at menjadi lebih baik. Kala itu, dalam usia kanak-kanak, ia
telah tercetak sebagai preman kecil di kampungnya. Keadaan itupun terbawa saat
berada di rumah orangtua barunya. A’at sering berkelahi dengan teman-temannya,
bermain ke tempat-tempat jauh tanpa pamit kepada orangtuanya. Ia senang sekali
bermain di hutan-hutan, “mencari kroak.” Katanya.
Sampai usianya
menginjak 7 tahun, ternyata kelakuannya tidak jauh berbeda dengan kelakuan
disaat ia masih menjadi seorang Ristor. Ia akhirnya di sekolahkan di sebuah
pondok pesantren yang ada di daerah Kuala Secapah. Di sana A’at dididik
selayaknya seorang santri. Ia diajarkan mandiri dan berbuat selayaknya manusia
islami.
Apa yang
diperbuat kedua orangtuanya untuk memperbaiki hidupnya tidak membuahkan hasil.
Di dalam pondok pesantren ia masih saja mencuri uang milik temannya, serta
melarikan diri dari pesantren. “Memang A’at susah untuk dikendalikan lagi.”
Kata Basuni.
“saat itu kepala
sekolah pesantren datang menemui kami. Kami mengira ada berita baik yang dibawa
oleh kepala sekolah itu. Ternyata bukan. Sudah tiga hari A’at tidak pulang ke
pondok. Sudah dicari kemana-mana tidak ketemu. Kami merasa malu sekali. Kami
pun memutar otak untuk memikirkan bagaimana caranya agar anak ini dapat hidup
normal seperti anak-anak lain.” Kata ayah angkatnya itu.
Pada hari
keempat ia menghilang, ternyata A’at pulang dengan santai ke rumah Basuni.
Tanpa merasa bersalah sedikitpun. Dengan gayanya yang memang sering tersenyum,
ia mencium tangan kedua orangtuanya.
Ia diberi
kesempatan untuk membersihkan diri, makan, dan lainnya. Orangtuanya
memperlakukan ia seperti itu karena umurnya masih kecil. Ia tidak pernah
diperlakukan kasar sampai di luar batas. Setelah itu ia diminta untuk duduk di
ruang tamu untuk diinterogasi.
“tiga hari ini
kamu kemana, At?” tanya Nur.
“ke rumah kawan,
mak.” Katanya.
“ke rumah
kawanmu yang mana?” tanya Nur.
“kawan dekat
pondok situ lah.” Katanya santai.
“kamu kan sudah
tau peraturan di pondok itu seperti apa. Kenapa masih kamu langgar? Apa kamu
tidak bisa membuat orang tuamu tenang sedikit? Kami ini mengangkatmu menjadi
anak kami agar kamu bisa hidup lebih baik. Bukan malah menjadi lebih buruk!”
kata Basuni.
A’at terdiam. Ia
menunduk. Sama seperti biasanya saat ia dimarahi oleh kedua orangtuanya. Jika
ia menjawab, maka masalahnya akan lebih panjang.
“besok kamu akan
dikembalikan ke pondok. Kami akan menghubungi pengurus pondok di sana. Tolong
kamu jangan melakukan hal yang nuruk lagi.” Kata Basuni.
Ia pun akhirnya
dipulangkan ke pondok pesantrennya. Hal serupa terjadi kembali. A’at kemudian
dipindahkan ke pesantren Sengkubang. Di tempat ini abang angkat A’at juga
pernah disekolahkan. Di sini ia menjadi lebih baik. Setiap minggu ia dikontrol
oleh kedua orangtuanya. Pada saat hal ini ditanyakan, terlihat jelas raut wajah
kedua orangtuanya merasa mendapat sedikit kelegaan.
A’at dapat
bertahan di pondok itu sampai ia tamat madrasah ibtidayah (setingkat sekolah
dasar). “keadaannya begitu terarah, terlihat bersih. Terlihat jauh berbeda
dengan sebelumnya.” Kata Basuni mengingat saar-saat itu.
Untuk
melanjutkan sekolahnya, ia meminta kedua orangtuanya agar menyekolahkannya di
daerah tempat mereka tinggal saja. Ia beralasan masih rindu dengan keluarganya
“jika aku di
sini aku bisa bantu mama sama bapak sepulang sekolah.” Katanya kepada Basuni dan
Nur yang saat itu memiliki usaha kue kering. Mereka pun setuju dengan alasan
A’at kali ini.
Berjalan beberapa
bulan kemudian, Datang kabar bahwa Uwek telah meninggal dunia. A’at meminta
Basuni dan Nur mengantarnya ke Takong untuk melayat ibu kandungnya. Saat berada
di sana keluarga A’at terkejut dengan keadaannya yang jauh lebih baik daripada
ia masih bersama Uweknya. Setelah mengantar Uwek pada peristirahatan
terakhirnya, Basuni dan Nur pamit untuk pulang. Tapi A’at meminta izin tinggal
di situ untuk beberapa hari, ia merasa rindu dengan keluarga besarnya setelah
bertahun-tahun tidak berjumpa.
“aku minta izin
sehari, dua hari nginap di sini ya, mak.” Katanya kepada Nur.
“nanti sekolahmu
terbengkalai, At.” kata Nur.
“hanya beberapa
hari saja mak, nanti Wa’ta’ yang
mengantarku kembali ke rumah.” Katanya menyebut panggilan untuk pamannya.
“tapi jangan
sampai tak kembali kamu ya, At.” kata Nur.
“iya, mak.”
katanya.
Hari demi
haripun berlalu. A’at melanggar janjinya. Sudah dua bulan ia tidak kembali ke
rumah Basuni. Basuni menanyakan kepada Ningsih apakah A’at memberinya kabar.
Ningsih pun tidak mengetahui kabar A’at.
“aku pikir ada
sebaiknya kita susul saja dia.” Kata Basuni kepada istrinya.
“sebenarnya
sejak kemarin aku ingin membahas ini. Besok sepulang dari kantor kita berangkat
ke Takong.” Kata Nur.
“baiklah. Semoga
malam dia kembali.” Kata Basuni berharap.
Pita, anak
bungsu dari Nur dan Basuni mengatakan betapa sayang kedua orangtuanya kepada
A’at. Tapi sepertinya A’at tak menyadari hal itu. Ia masih saja merasa dirinya
anak adopsi, hanya sebatas anak adopsi. Padahal kenyataannya tidak seperti yang
dia pikirkan.
Pucuk dicinta
ulampun tiba, saat Basuni hendak menurunkan sepeda motornya dari teras rumah,
terdengar suara salam di belakangnya.
“assalamualaikum.”
Kata A’at.
“wa’alaikumsalam.
Panjang umur, baru saja ku hendak menurunkan motor untuk menjemputmu, At.
Masuklah dulu.” Sambut Basuni sambil mempersilahkan A’at dan Wa’ Ta’ untuk
masuk ke rumahnya.
A’at pun masuk
dengan membawa sekarung ubi kayu, daun ubi, serta beberapa tandan pisang nipah.
“aku baru sempat
mengantar Ristor kembali. Pekerjaanku menumpuk.” Kata Wa’ Ta’ kepada Basuni.
Keluarganya di
Takong masih memanggilnya dengan nama yang diberikan oleh rang tua kandungnya.
A’at hanya diam. Baru dua bulan dia di sana, ia seperti tidak terurus. Wajahnya
kumal, tersirat keletihan yang begitu besar.
Selepas Wa’Ta’
pergi. A’at seperti tak suka berada di rumah itu. Ia memang tidak mengatakan
apa-apa. Sifatnya memang pendiam. Jarang sekali berbicara. Oleh karena itu,
orang-orang susah untuk menebak apa yang terjadi pada dirinya.
Basuni merasakan
ada kejanggalan pada diri A’at. “kau tampak kurus. Apa yang kau kerjakan di
sana?” tanya Basuni kepada A’at.
“bantu-bantu
Wa’Ta’ dan Bi’ Tina di ladang.” Katanya singkat.
Meskipun
pekerjaan itu berat, tapi A’at sungguh menyenangi pekerjaan seperti itu dibanding
dengan pekerjaan yang wajib dilakukannya, seperti sekolah. A’at sebenarnya tidak
ingin sekolah. Hal itu pernah ia katakan kepada Pita, saudara angkatnya. Mungkin
dikarenakan sejak kecil ia telah terbiasa dengan didikan yang agak ekstrim yang
dilakukan oleh orangtua kandungnya. Ia telah terbiasa dengan pekerjaan
mencangkul, menyadap getah, menanam ubi, dan sebagainya.
Basuni dapat
menebak apa yang dirisaukan oleh A’at. saat disuruh untuk sekolah, ia
mengatakan kepada Nur agar ia berhenti sekolah saja. Ia merasa tidak mampu
menerima pelajaran di sekolah. Ia ingin kembali hidup dengan keluarganya di
Takong.
Basuni marah
besar. Ia sangat menginginkan A’at berhasil. Ia rela membiayai kehidupan dan
pendidikan sampai A’at menjadi orang yang berhasil. Hal itu ia lakukan bukan
untuk dirinya, tapi untuk masa depan A’at. ia telah berjanji kepada Uwek agar
mendidik A’at seperti anak kandungnya sendiri.
Basuni tidak
mengizinkan A’at untuk kembali ke kampungnya, karena ia yakin di sana A’at akan
kembali ke kehidupannya silam. Oleh karena kekerasan A’at, ia kabur dari rumah.
Basuni yakin A’at pasti kembali ke kampungnya. Ia tak akan menjemputnya.
Sudah lama
cerita itu berlalu, entah angin apa yang membawa ceritaa itu kembali lagi. A’at
kemudian datang kembali bersama seorang temannya. Kala itu ia seperti preman
pasar yang bertato di tubuhnya, berperawakan kasar. Ia masih mengucapkan salam
saat ingin memasuki rumah Basuni. Oleh karena Basuni benar-benar menganggapnya anak,
dengan keadaan seperti itu ia masih menerima A’at sebagai anaknya.
Sampai sabtu
malam, A’at pulang dengan membawa minuman keras. Cairan itu ia tempatkan ke
dalam botol bekas air mineral. Nur lah yang mencium aroma alkohol dari tubuh
A’at ketika melintas di hadapannya, keadaan itu dilaporkan kepada Basuni.
Basuni tidak tidak dapat mentoleransi perbuatan A’at untuk hal yang satu ini.
Akhirnya, ia memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan A’at, bahkan ia sampai
membuat bukti hitam di atas putih yang menyatakan A’at bukan bagian dari
keluarganya lagi. Bukti tertulis itu ditandatangani oleh kepala lurah setempat
sebagai saksi.
“aku betul-betul
ingat, malam itu malam minggu sekitar tahun 1997. Sebelumnya dia sudah pamit
untuk keluar sebentar bersama teman yang dibawanya, akupun tak pernah
menanyakan nama temannya itu saat dia ada di rumah. Telingaku panas ketika Nur
mengatakan A’at membawa minuman keras di rumah. Aku sudah menghajarnya dengan
tanganku. Aku masih merasa ada beban jika hal ini tak ku sudahi. Akhirnya ku
buat bukti hitam di atas putih yang di dalamnya kutulis bahwa dia tidak lagi
menjadi bagian dari keluargaku.” Kata Basuni.
A’at diminta
pulang ke kampungnya. Sejak itu, berbagai jenis berita mengenai kehidupan A’at
telah sampai dalam keluarga Basuni. Mulai dari kabar ia ditangkap polisi karena
ketahuan mencuri uang milik tetangganya, bahkan ada pula kabar yang mengatakan
bahwa ia telah meninggal dunia.
“aku sebenarnya
merasa kasian dengan dia. Tak sampai hati ku berbuat begitu padanya. Mengingat
Uwek yang begitu mempercayaiku menjaga dan mendidik anaknya. “ kata Basuni.
“berita-berita
itu tidak ada yang kupercaya satupun. Aku yakin jika dia merasa susah pasti dia
akan kembali.” Kata Basuni.
Benar saja, pada
tahun 2002 A’at datang dengan membawa
istri dan kedua orang anaknya, yang sulung berumur 5 tahun dan yang bungsu baru
berumur 2 tahun. Ternyata A’at telah menikah bersama seorang wanita yang
berasal dari kampungnya, Takong pada tahun 1998. Rita, begitu ia memanggil nama
istrinya.Wanita itu beragama kristen.
“kami nikah
dengan resepsi seadanya saja. Pernikahan kami menggunakan cara kristiani.” Kata
Rita yang mengetahui bahwa orangtua angkatnya memeluk agama islam, termasuk
A’at.
Saat mereka
menikah, usia Rita baru menginjak 16 tahun. Orangtuanya menyerahkan Rita kepada
A’at sepenuhnya.
Basuni
mengatakan bahwa ia juga merasa A’at telah kembali memeluk agama kristen.
Begitu melihat kedua anaknya, Basuni menjadi iba. Kedua anaknya begitu kurus.
A’at juga sedang sakit paru-paru. Ia pun diperiksakan ke dokter. Penyakit A’at
belum begitu gawat. ia kemudian diberi kesempatan untuk memperbaiki keluarga
dan tinggal bersama keluarga Basuni.
“A’at datang
dengan keadaan sakit. Dia membawa istri dan kedua anaknya. Selama ini
kehidupannya di sana tidak juga membaik. Entah karena kerja keras atau karena
perbuatannya yang sering mabuk-mabukan sehingga membuatnya sakit seperti itu.
Ia tidak menceritakannya secara jelas.” Kata Nur.
Setelah
penyakitnya berangsur-angsur membaik, A’at ingin membawa istri dan anak-anaknya
pulang ke Takong. Basuni menyayangkan hal itu. Basuni ingin A’at tetap tinggal
bersamanya agar dapat menghidupi istri dan anak-anaknya. Basuni juga sedang
mencarikan A’at pekerjaan yang layak. A’at tetaplah A’at, selalu keras kepala.
Ia mengatakan kepada Basuni bahwa ia dapat menghidupi keluarganya di kampung.
Basuni tidak dapat berkata apa-apa lagi.
“tinggallah di
sini, At. kasian istri dan anak-anakmu. Aku masih mencarikanmu pekerjaan yang
layak agar kau dapat menghidupi keluargamu. Kalau kau kembali ke kampungmu, aku
takut kesehatanmu memburuk. Kau belum benar-benar sembuh.” Bujuk Basuni.
“di sana Rita
juga punya ladang, pak. Memang ada pamannya yang mengurus selama kami
tinggalkan. Baiknya kami pulang ke kampung saja lah pak. Aku merasa penyakitku
juga sudah membaik. ” Kata A’at.
Tenyata di saat
ia dan keluarganya kembali ke Takong, hidupnya tetap tak dapat berubah. Ia
selalu mengarahkannya ke jalan yang buruk untuknya. Ia tak memikirkan istri dan
anak-anaknya. Bahkan A’at meninggalkan istri dan anaknya dengan alasan mencari
kerja di Ketapang.
Istri dan
anak-anaknya kemudian tinggal bersama keluarga Basuni. Istri A’at adalah seseorang
yang ulet dan pekerja keras. Ia sangat rajin. Ia membantu usaha yang digeluti
oleh Nur dan Udin yaitu usaha menjual kue kering, mulai dari semprit, tar
nanas, dan roti kap. Lama-kelamaan Rita dapat membuat usaha sendiri dengan
bantuan modal dari Basuni, Rita pun membuka sebuah warung sembako kecil-kecilan
di depan rumah Basuni. Usahanya membuahkan hasil. Rita begitu menyayangkan
keadaan suaminya yang tidak mau mengikuti jalan kedua orangtua angkatnya yang
mengarahkannya ke jalan yang benar. Dengan keikhlasan hati dan keyakinan
dirinya, Ritapun memeluk agama islam. Ia begitu taat dalam beribadah. Ia dan
anak-anaknya belajar agama, mengikuti pengajian bersama dengan mertua
perempuannya, dan kegiatan-kegiatan agama lainnya.
“sekitar
pertengahan tahun 2005, Rita memeluk agama islam. Anak itu begitu taat
beribadah. Mengenai usaha, warung Rita telah bertambah luas. Aku dan Nur tidak
berbuat banyak untuk dia. Dia sendiri yang mengembangkan usahanya.” Kata
Basuni.
Secara
tiba-tiba, A’at muncul kembali. Sejak menghilang ia mengatakan bahwa ia bekerja
di ketapang. Tapi tidak ada hasil yang ia bawa pulang. Keadaannya tidak
berubah, sama dengan sebelum ia pergi. Setelah kehidupan istrinya berjalan
tentram sepeninggalannya, ia pun mengacaukannya kembali.
“hanya sebulan
saja dia betah hidup dengan kami di sini bersama istrinya. Ia pun mengajak
istrinya pulang ke kampung. Awalnya Rita tak mau pulang karena bersama kami ia
merasa hidupnya terarah.” Kata Basuni.
Tapi akal busuk
A’at membuat Rita terpaksa ikut bersama suaminya pulang ke kampung. A’at
mengatakan kepadanya jika ia tidak ikut bersama A’at maka A’at akan
menceraikannya. Rita adalah istri yang setia. Lagi pula A’at juga lah yang membawanya kemari,
mengenal keluarga Basuni, Orangtua angkatnya. meskipun dengan cara yang salah.
Mereka
dibekalkan modal oleh Basuni untuk dikembangkan di kampungnya. Agar mereka
hidup layak, dengan memiliki penghasilan. Tapi, lagi-lagi A’at menghabiskan
modal itu dengan keperluannya sendiri. Ia habiskan uang tersebut untuk mabuk
dan berjudi.
Merasa tak kuat,
Rita pun pulang ke rumah orangtuanya di Sintang. Ia membawa kedua anaknya. A’at
mengetahui hal itu. Tapi ia membiarkan Rita pergi tanpa dirinya. Basuni
mendapat berita ini karena Rita meneleponnya selang beberapa bulan dari waktu
A’at membawanya pulang ke kampung.
Ayah Rita marah
besar setelah mendengar pengakuan Rita mengenai hidupnya selama ini. Ternyata
Rita menyembunyikan masalah kehidupan keluarganya kepada orangtuanya, karena ia
tahu akhirnya pasti akan fatal. Benar saja, A’at dicari oleh orangtua Rita.
Ayah Rita akan membunuhnya.
“Kala itu
suasana benar-benar panas. Saya terkejut saat Rita mengabari saya lewat
telepon. Saya tidak tahu A’at berada di mana. Rita meminta saya untuk mencari
kabar mengenai keadaan A’at.” Kata Basuni.
Akhirnya Basuni mendapat
kabar dari Ningsih, A’at sedang berada di Toho. Ia disembunyikan di rumah
temannya. Ia telah dihantam oleh ayah Rita yang datang bersama paman dan abang
Rita beserta teman-temannya.
Saat itu ningsih
datang bersama suaminya. Ia membawa kabar mengenai A’at.
“Wa’ta’
mengabariku bahwa A’at berada di Toho. Dia di sembunyikan di rumah temannya.”
Kata Ningsih
“bagaimana
keadaannya?” tanya Nur cemas.
“kepalanya pecah
dihantam oleh gerombolan Ayah Rita. Beruntung saat itu ramai yang melerainya.
Kalau tidak, sekarang pasti A’at sudah tinggal nama.” Kata Ningsih.
“apakah ada cara
untuk menghubunginya? Aku khawatir, sebaiknya suruh dia sembunyi di sini.” Kata
Nur cemas.
“nanti aku
hubungi Wa’Ta’ untuk menyampaikan kabar ini kepadanya.” Kata Ningsih.
Selang beberapa
hari, A’at datang ke rumah Basuni. Dengan badan luka-luka bekas dibantai oleh
gerombolan Ayah Rita. Berjalan sambil terpincang-pincang. Kepalanya yang bocor
masih dibaluti perban.
“sudah begini
kau masih saja tidak mendengar perkataanku, At?” kata Basuni
A’at hanya diam,
tak berani menjawab.
“jika sejak dulu
kau mau mendengar perkataan kami, tak mungkin keadaanmu menjadi seperti ini.
Sekarang kau seperti buronan. Kau masih dicari oleh keluarga Rita.” Kata Nur.
“sudah kau
nikahi anak mereka, mengapa kau sia-siakan? Hidupnya berjalan membaik di sini,
tapi kau datang memaksa mereka untuk ikut pulang ke kampung bersamamu. Kau
rusak lagi hidup mereka.” Sambung Nur.
“sekarang apa
yang akan kita lakukan? Aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku
serahkan kepadamu. Jika kau mau benar-benar berubah itu bisa membuat keadaan
menjadi lebih baik.” Kata Basuni hampir putus asa.
A’at masih
terdiam. Basuni mengatakan bahwa ia tidak dapat mengetahui apa yang diinginkan
A’at pada waktu itu. A’at tidak memberikan jawaban sepatah kata pun. Ia hanya
terdiam dengan pandangan mata menerawang jauh.
Hari berganti
hari, waktu berganti waktu. Keadaan A’at pun membaik. Ia memberanikan diri
untuk berbicara kepada Basuni. Ia meminta tolong kepadanya agar menemui
keluarga Rita. Ia ingin memperbaiki hubungan perkawinannya dan memulai
kehidupannya dari awal.
“aku sebenarnya
tidak bisa mempercayaimu lagi.” Kata Basuni.
“kami ingin
melihat keseriusanmu untuk berubah. Lakukan dengan perbuatan, bukan hanya
sekedar omongan.” Kata Nur.
Mulai saat itu
A’at berubah. Ia sangat membantu Basuni dan Nur dalam menjalankan usaha kue
keringnya. Ia juga mengembangkan usaha warung yang kemarin dikelola Rita. Ia
diajarkan keyakinan agama islam kembali. Ternyata selama ini ia tidak kembali
kepada agama lamanya. Ia tetap mempertahakankan agama Islamnya.
“kami telah
melihat usahamu berubah. Kami mencoba yakin dan percaya kepadamu.”kata Nur.
“kami tidak akan
membiarkanmu hidup menderit, At. Sejak dahulu kami telah menganggapmu sebagai
anak kandung kami sendiri.” Kata Basuni
“maafkan aku,
mak, pak. Aku sebenarnya hanya ingin hidup mandiri. Aku merasa tidak cocok
hidup seperti yang kalian jalani ini. Aku merasa hidupku lebih cocok untuk
bekerja menjadi seorang petani, seorang yang bekerja untuk pekerjaan yang
kasar.” Kata A’at.
“hidup seseorang
berubah karena ia sendiri yang merubahnya. Setiap orang berhak hidup layak.”
Kata Basuni.
Sejak saat itu,
mereka mengatur cara untuk menemui keluarga Rita, karena nomor yang biasa
digunakan Rita untuk menghubungi Basuni sudah tidak aktif lagi. Untungnya,
beberapa bulan kemudian Rita menghubungi Basuni. Ia menanyakan kabar dari dari
keluarga yang dulu pernah menampungnya itu. Basunipun menyampaikan berita
mengenai A’at yang telah berubah.
“A’at ingin
memperbaiki hubungannya denganmu dan keluargamu. Aku yakin kali ini ia pasti
serius. Berbagai cobaan hidup telah dilaluinya. Semoga dapat menjadi pelajaran
baginya.” Kata Basuni kepada Rita.
Rita yang memang
masih mencintai A’at menyetujui hal itu. Ia menyampaikan berita itu kepada
ayahnya. Sang ayah pun dapat menerima A’at kembali. Mereka kemudian tinggal di
Sintang, hidup berdampingan dengan keluarga Rita.
“Sekitar bulan
April tahun 2008 April kami berangkat mengantar A’at ke Sintang. Ayah Rita
meminta agar mereka hidup berdekatan dengan keluarga Rita, ayah Rita masih
khawatir jika A’at tidak benar-benar berubah.” Papar Basuni.
Mereka diberi
satu kektar tanah. Lahan itu kemudian ditanam karet dan ubi kayu. Hasil dari
lahan tersebut dapat menjadi biaya hidup mereka. Saat berita ini diturunkan,
A’at tidak pernah berkunjung ke rumah Basuni. Bahkan kabar berita darinya pun
tidak pernah terdengar. A’at tidak pernah menghubungi Basuni lagi. Basuni
mengatakan semoga saja mereka hidup bahagia di sana dan A’at tidak mengulangi
kesalahannya seperti yang telah lalu.
Penulis: Hira Wahyuni (F11409016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar