Rabu, 18 Juli 2012

BERKAH KASIH SAYANG KEDUA ORANGTUA ANGKAT

Kehidupannya di keluarga Basuni dimulai sejak usianya menginjak 6 tahun. Ia diangkat menjadi anak dalam keluarga itu bertepatan pada hari ulang tahunnya, 28 Februari 1990.  Uwek, begitu ibu kandungnya disapa sekarang tinggal bersama tetangga yang telah dianggapnya seperti keluarga di Takong.
Ningsih, adik ipar Basuni merupakan keponakan dari Uwek. Ia ingin membantu Uwek untuk memelihara anak ini. Tapi sang suami melarangnya. Suaminya takut jika kelak Ningsih tidak dapat membagi waktunya karena pada saat itu mereka telah memiliki 3 orang anak. Lalu Ningsih pun meminta bantuan kepada Basuni agar dapat mengadopsi anak Uwek ini. Uwek hidup bersama anaknya. Suaminya telah meninggal dunia saat anaknya ini berusia 2 tahun. Uwek sering sakit-sakitan. Ia pun merasa dirinya sudah tidak mampu lagi menghidupi anaknya. Akhirnya sang anak ini diadopsi oleh keluarga Basuni. Sang anak memiliki orangtua baru.
Orangtua barunya ini juga memiliki beberapa anak, 1 orang laki-laki yang lebih tua 2 tahun darinya dan 2 orang perempuan. Kedua orangtua barunya itu tidak membeda-bedakan antara anak kandung dan anak angkatnya.
Sejak ia diangkat menjadi anak oleh Basuni dan Nur, ia berganti agama yang semula memeluk agama kristen khatolik menjadi agama islam mengikuti keyakinan agama keluarga itu. Di dalam keluarga itu ia diajarkan sholat, puasa, ajaran-ajaran yang ada dalam agama islam baik itu wajib maupun sunat.
Pada saat ia telah sah memeluk agama islam, nama Ristor, berganti menjadi As’ad. Semula ia tidak setuju namanya diganti, “nanti teman-temanku tidak mengenaliku lagi. Lagi pula susah sekali menyebut nama itu”. Katanya kepada ibu angkatnya. Belum lama ini Nur mengatakan As’ad meminta kepada teman-teman di lingkungan barunya memanggil namanya dengan panggilan A’at.
Sejak kecil A’at memang dikenal luar biasa nakalnya. Orangtua barunya telah berjanji kepada Uwek untuk mendidik A’at menjadi lebih baik. Kala itu, dalam usia kanak-kanak, ia telah tercetak sebagai preman kecil di kampungnya. Keadaan itupun terbawa saat berada di rumah orangtua barunya. A’at sering berkelahi dengan teman-temannya, bermain ke tempat-tempat jauh tanpa pamit kepada orangtuanya. Ia senang sekali bermain di hutan-hutan, “mencari kroak.” Katanya.
Sampai usianya menginjak 7 tahun, ternyata kelakuannya tidak jauh berbeda dengan kelakuan disaat ia masih menjadi seorang Ristor. Ia akhirnya di sekolahkan di sebuah pondok pesantren yang ada di daerah Kuala Secapah. Di sana A’at dididik selayaknya seorang santri. Ia diajarkan mandiri dan berbuat selayaknya manusia islami.
Apa yang diperbuat kedua orangtuanya untuk memperbaiki hidupnya tidak membuahkan hasil. Di dalam pondok pesantren ia masih saja mencuri uang milik temannya, serta melarikan diri dari pesantren. “Memang A’at susah untuk dikendalikan lagi.” Kata Basuni.
“saat itu kepala sekolah pesantren datang menemui kami. Kami mengira ada berita baik yang dibawa oleh kepala sekolah itu. Ternyata bukan. Sudah tiga hari A’at tidak pulang ke pondok. Sudah dicari kemana-mana tidak ketemu. Kami merasa malu sekali. Kami pun memutar otak untuk memikirkan bagaimana caranya agar anak ini dapat hidup normal seperti anak-anak lain.” Kata ayah angkatnya itu.
Pada hari keempat ia menghilang, ternyata A’at pulang dengan santai ke rumah Basuni. Tanpa merasa bersalah sedikitpun. Dengan gayanya yang memang sering tersenyum, ia mencium tangan kedua orangtuanya.
Ia diberi kesempatan untuk membersihkan diri, makan, dan lainnya. Orangtuanya memperlakukan ia seperti itu karena umurnya masih kecil. Ia tidak pernah diperlakukan kasar sampai di luar batas. Setelah itu ia diminta untuk duduk di ruang tamu untuk diinterogasi.
“tiga hari ini kamu kemana, At?” tanya Nur.
“ke rumah kawan, mak.” Katanya.
“ke rumah kawanmu yang mana?” tanya Nur.
“kawan dekat pondok situ lah.” Katanya santai.
“kamu kan sudah tau peraturan di pondok itu seperti apa. Kenapa masih kamu langgar? Apa kamu tidak bisa membuat orang tuamu tenang sedikit? Kami ini mengangkatmu menjadi anak kami agar kamu bisa hidup lebih baik. Bukan malah menjadi lebih buruk!” kata Basuni.
A’at terdiam. Ia menunduk. Sama seperti biasanya saat ia dimarahi oleh kedua orangtuanya. Jika ia menjawab, maka masalahnya akan lebih panjang.
“besok kamu akan dikembalikan ke pondok. Kami akan menghubungi pengurus pondok di sana. Tolong kamu jangan melakukan hal yang nuruk lagi.” Kata Basuni.
Ia pun akhirnya dipulangkan ke pondok pesantrennya. Hal serupa terjadi kembali. A’at kemudian dipindahkan ke pesantren Sengkubang. Di tempat ini abang angkat A’at juga pernah disekolahkan. Di sini ia menjadi lebih baik. Setiap minggu ia dikontrol oleh kedua orangtuanya. Pada saat hal ini ditanyakan, terlihat jelas raut wajah kedua orangtuanya merasa mendapat sedikit kelegaan.
A’at dapat bertahan di pondok itu sampai ia tamat madrasah ibtidayah (setingkat sekolah dasar). “keadaannya begitu terarah, terlihat bersih. Terlihat jauh berbeda dengan sebelumnya.” Kata Basuni mengingat saar-saat itu.
Untuk melanjutkan sekolahnya, ia meminta kedua orangtuanya agar menyekolahkannya di daerah tempat mereka tinggal saja. Ia beralasan masih rindu dengan keluarganya
“jika aku di sini aku bisa bantu mama sama bapak sepulang sekolah.” Katanya kepada Basuni dan Nur yang saat itu memiliki usaha kue kering. Mereka pun setuju dengan alasan A’at kali ini.
Berjalan beberapa bulan kemudian, Datang kabar bahwa Uwek telah meninggal dunia. A’at meminta Basuni dan Nur mengantarnya ke Takong untuk melayat ibu kandungnya. Saat berada di sana keluarga A’at terkejut dengan keadaannya yang jauh lebih baik daripada ia masih bersama Uweknya. Setelah mengantar Uwek pada peristirahatan terakhirnya, Basuni dan Nur pamit untuk pulang. Tapi A’at meminta izin tinggal di situ untuk beberapa hari, ia merasa rindu dengan keluarga besarnya setelah bertahun-tahun tidak berjumpa.
“aku minta izin sehari, dua hari nginap di sini ya, mak.” Katanya kepada Nur.
“nanti sekolahmu terbengkalai, At.” kata Nur.
“hanya beberapa hari saja mak, nanti Wa’ta’  yang mengantarku kembali ke rumah.” Katanya menyebut panggilan untuk pamannya.
“tapi jangan sampai tak kembali kamu ya, At.” kata Nur.
“iya, mak.” katanya.

Hari demi haripun berlalu. A’at melanggar janjinya. Sudah dua bulan ia tidak kembali ke rumah Basuni. Basuni menanyakan kepada Ningsih apakah A’at memberinya kabar. Ningsih pun tidak mengetahui kabar A’at.
“aku pikir ada sebaiknya kita susul saja dia.” Kata Basuni kepada istrinya.
“sebenarnya sejak kemarin aku ingin membahas ini. Besok sepulang dari kantor kita berangkat ke Takong.” Kata Nur.
“baiklah. Semoga malam dia kembali.” Kata Basuni berharap.
Pita, anak bungsu dari Nur dan Basuni mengatakan betapa sayang kedua orangtuanya kepada A’at. Tapi sepertinya A’at tak menyadari hal itu. Ia masih saja merasa dirinya anak adopsi, hanya sebatas anak adopsi. Padahal kenyataannya tidak seperti yang dia pikirkan.
Pucuk dicinta ulampun tiba, saat Basuni hendak menurunkan sepeda motornya dari teras rumah, terdengar suara salam di belakangnya.
“assalamualaikum.” Kata A’at.
“wa’alaikumsalam. Panjang umur, baru saja ku hendak menurunkan motor untuk menjemputmu, At. Masuklah dulu.” Sambut Basuni sambil mempersilahkan A’at dan Wa’ Ta’ untuk masuk ke rumahnya.
A’at pun masuk dengan membawa sekarung ubi kayu, daun ubi, serta beberapa tandan pisang nipah.
“aku baru sempat mengantar Ristor kembali. Pekerjaanku menumpuk.” Kata Wa’ Ta’ kepada Basuni.
Keluarganya di Takong masih memanggilnya dengan nama yang diberikan oleh rang tua kandungnya. A’at hanya diam. Baru dua bulan dia di sana, ia seperti tidak terurus. Wajahnya kumal, tersirat keletihan yang begitu besar.
Selepas Wa’Ta’ pergi. A’at seperti tak suka berada di rumah itu. Ia memang tidak mengatakan apa-apa. Sifatnya memang pendiam. Jarang sekali berbicara. Oleh karena itu, orang-orang susah untuk menebak apa yang terjadi pada dirinya.
Basuni merasakan ada kejanggalan pada diri A’at. “kau tampak kurus. Apa yang kau kerjakan di sana?” tanya Basuni kepada A’at.
“bantu-bantu Wa’Ta’ dan Bi’ Tina di ladang.” Katanya singkat.
Meskipun pekerjaan itu berat, tapi A’at sungguh menyenangi pekerjaan seperti itu dibanding dengan pekerjaan yang wajib dilakukannya, seperti sekolah. A’at sebenarnya tidak ingin sekolah. Hal itu pernah ia katakan kepada Pita, saudara angkatnya. Mungkin dikarenakan sejak kecil ia telah terbiasa dengan didikan yang agak ekstrim yang dilakukan oleh orangtua kandungnya. Ia telah terbiasa dengan pekerjaan mencangkul, menyadap getah, menanam ubi, dan sebagainya.
Basuni dapat menebak apa yang dirisaukan oleh A’at. saat disuruh untuk sekolah, ia mengatakan kepada Nur agar ia berhenti sekolah saja. Ia merasa tidak mampu menerima pelajaran di sekolah. Ia ingin kembali hidup dengan keluarganya di Takong.
Basuni marah besar. Ia sangat menginginkan A’at berhasil. Ia rela membiayai kehidupan dan pendidikan sampai A’at menjadi orang yang berhasil. Hal itu ia lakukan bukan untuk dirinya, tapi untuk masa depan A’at. ia telah berjanji kepada Uwek agar mendidik A’at seperti anak kandungnya sendiri.
Basuni tidak mengizinkan A’at untuk kembali ke kampungnya, karena ia yakin di sana A’at akan kembali ke kehidupannya silam. Oleh karena kekerasan A’at, ia kabur dari rumah. Basuni yakin A’at pasti kembali ke kampungnya. Ia tak akan menjemputnya.
Sudah lama cerita itu berlalu, entah angin apa yang membawa ceritaa itu kembali lagi. A’at kemudian datang kembali bersama seorang temannya. Kala itu ia seperti preman pasar yang bertato di tubuhnya, berperawakan kasar. Ia masih mengucapkan salam saat ingin memasuki rumah Basuni. Oleh karena Basuni benar-benar menganggapnya anak, dengan keadaan seperti itu ia masih menerima A’at sebagai anaknya.
Sampai sabtu malam, A’at pulang dengan membawa minuman keras. Cairan itu ia tempatkan ke dalam botol bekas air mineral. Nur lah yang mencium aroma alkohol dari tubuh A’at ketika melintas di hadapannya, keadaan itu dilaporkan kepada Basuni. Basuni tidak tidak dapat mentoleransi perbuatan A’at untuk hal yang satu ini. Akhirnya, ia memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan A’at, bahkan ia sampai membuat bukti hitam di atas putih yang menyatakan A’at bukan bagian dari keluarganya lagi. Bukti tertulis itu ditandatangani oleh kepala lurah setempat sebagai saksi.
“aku betul-betul ingat, malam itu malam minggu sekitar tahun 1997. Sebelumnya dia sudah pamit untuk keluar sebentar bersama teman yang dibawanya, akupun tak pernah menanyakan nama temannya itu saat dia ada di rumah. Telingaku panas ketika Nur mengatakan A’at membawa minuman keras di rumah. Aku sudah menghajarnya dengan tanganku. Aku masih merasa ada beban jika hal ini tak ku sudahi. Akhirnya ku buat bukti hitam di atas putih yang di dalamnya kutulis bahwa dia tidak lagi menjadi bagian dari keluargaku.” Kata Basuni.
A’at diminta pulang ke kampungnya. Sejak itu, berbagai jenis berita mengenai kehidupan A’at telah sampai dalam keluarga Basuni. Mulai dari kabar ia ditangkap polisi karena ketahuan mencuri uang milik tetangganya, bahkan ada pula kabar yang mengatakan bahwa ia telah meninggal dunia.
“aku sebenarnya merasa kasian dengan dia. Tak sampai hati ku berbuat begitu padanya. Mengingat Uwek yang begitu mempercayaiku menjaga dan mendidik anaknya. “ kata Basuni.
“berita-berita itu tidak ada yang kupercaya satupun. Aku yakin jika dia merasa susah pasti dia akan kembali.” Kata Basuni.
Benar saja, pada tahun 2002  A’at datang dengan membawa istri dan kedua orang anaknya, yang sulung berumur 5 tahun dan yang bungsu baru berumur 2 tahun. Ternyata A’at telah menikah bersama seorang wanita yang berasal dari kampungnya, Takong pada tahun 1998. Rita, begitu ia memanggil nama istrinya.Wanita itu beragama kristen.
“kami nikah dengan resepsi seadanya saja. Pernikahan kami menggunakan cara kristiani.” Kata Rita yang mengetahui bahwa orangtua angkatnya memeluk agama islam, termasuk A’at.
Saat mereka menikah, usia Rita baru menginjak 16 tahun. Orangtuanya menyerahkan Rita kepada A’at sepenuhnya.
Basuni mengatakan bahwa ia juga merasa A’at telah kembali memeluk agama kristen. Begitu melihat kedua anaknya, Basuni menjadi iba. Kedua anaknya begitu kurus. A’at juga sedang sakit paru-paru. Ia pun diperiksakan ke dokter. Penyakit A’at belum begitu gawat. ia kemudian diberi kesempatan untuk memperbaiki keluarga dan tinggal bersama keluarga Basuni.
“A’at datang dengan keadaan sakit. Dia membawa istri dan kedua anaknya. Selama ini kehidupannya di sana tidak juga membaik. Entah karena kerja keras atau karena perbuatannya yang sering mabuk-mabukan sehingga membuatnya sakit seperti itu. Ia tidak menceritakannya secara jelas.” Kata Nur.
Setelah penyakitnya berangsur-angsur membaik, A’at ingin membawa istri dan anak-anaknya pulang ke Takong. Basuni menyayangkan hal itu. Basuni ingin A’at tetap tinggal bersamanya agar dapat menghidupi istri dan anak-anaknya. Basuni juga sedang mencarikan A’at pekerjaan yang layak. A’at tetaplah A’at, selalu keras kepala. Ia mengatakan kepada Basuni bahwa ia dapat menghidupi keluarganya di kampung. Basuni tidak dapat berkata apa-apa lagi.
“tinggallah di sini, At. kasian istri dan anak-anakmu. Aku masih mencarikanmu pekerjaan yang layak agar kau dapat menghidupi keluargamu. Kalau kau kembali ke kampungmu, aku takut kesehatanmu memburuk. Kau belum benar-benar sembuh.” Bujuk Basuni.
“di sana Rita juga punya ladang, pak. Memang ada pamannya yang mengurus selama kami tinggalkan. Baiknya kami pulang ke kampung saja lah pak. Aku merasa penyakitku juga sudah membaik. ” Kata A’at.
Tenyata di saat ia dan keluarganya kembali ke Takong, hidupnya tetap tak dapat berubah. Ia selalu mengarahkannya ke jalan yang buruk untuknya. Ia tak memikirkan istri dan anak-anaknya. Bahkan A’at meninggalkan istri dan anaknya dengan alasan mencari kerja di Ketapang.
Istri dan anak-anaknya kemudian tinggal bersama keluarga Basuni. Istri A’at adalah seseorang yang ulet dan pekerja keras. Ia sangat rajin. Ia membantu usaha yang digeluti oleh Nur dan Udin yaitu usaha menjual kue kering, mulai dari semprit, tar nanas, dan roti kap. Lama-kelamaan Rita dapat membuat usaha sendiri dengan bantuan modal dari Basuni, Rita pun membuka sebuah warung sembako kecil-kecilan di depan rumah Basuni. Usahanya membuahkan hasil. Rita begitu menyayangkan keadaan suaminya yang tidak mau mengikuti jalan kedua orangtua angkatnya yang mengarahkannya ke jalan yang benar. Dengan keikhlasan hati dan keyakinan dirinya, Ritapun memeluk agama islam. Ia begitu taat dalam beribadah. Ia dan anak-anaknya belajar agama, mengikuti pengajian bersama dengan mertua perempuannya, dan kegiatan-kegiatan agama lainnya.
“sekitar pertengahan tahun 2005, Rita memeluk agama islam. Anak itu begitu taat beribadah. Mengenai usaha, warung Rita telah bertambah luas. Aku dan Nur tidak berbuat banyak untuk dia. Dia sendiri yang mengembangkan usahanya.” Kata Basuni.
Secara tiba-tiba, A’at muncul kembali. Sejak menghilang ia mengatakan bahwa ia bekerja di ketapang. Tapi tidak ada hasil yang ia bawa pulang. Keadaannya tidak berubah, sama dengan sebelum ia pergi. Setelah kehidupan istrinya berjalan tentram sepeninggalannya, ia pun mengacaukannya kembali.
“hanya sebulan saja dia betah hidup dengan kami di sini bersama istrinya. Ia pun mengajak istrinya pulang ke kampung. Awalnya Rita tak mau pulang karena bersama kami ia merasa hidupnya terarah.” Kata Basuni.
Tapi akal busuk A’at membuat Rita terpaksa ikut bersama suaminya pulang ke kampung. A’at mengatakan kepadanya jika ia tidak ikut bersama A’at maka A’at akan menceraikannya. Rita adalah istri yang setia. Lagi pula  A’at juga lah yang membawanya kemari, mengenal keluarga Basuni, Orangtua angkatnya. meskipun dengan cara yang salah.
Mereka dibekalkan modal oleh Basuni untuk dikembangkan di kampungnya. Agar mereka hidup layak, dengan memiliki penghasilan. Tapi, lagi-lagi A’at menghabiskan modal itu dengan keperluannya sendiri. Ia habiskan uang tersebut untuk mabuk dan berjudi.
Merasa tak kuat, Rita pun pulang ke rumah orangtuanya di Sintang. Ia membawa kedua anaknya. A’at mengetahui hal itu. Tapi ia membiarkan Rita pergi tanpa dirinya. Basuni mendapat berita ini karena Rita meneleponnya selang beberapa bulan dari waktu A’at membawanya pulang ke kampung.
Ayah Rita marah besar setelah mendengar pengakuan Rita mengenai hidupnya selama ini. Ternyata Rita menyembunyikan masalah kehidupan keluarganya kepada orangtuanya, karena ia tahu akhirnya pasti akan fatal. Benar saja, A’at dicari oleh orangtua Rita. Ayah Rita akan membunuhnya.
“Kala itu suasana benar-benar panas. Saya terkejut saat Rita mengabari saya lewat telepon. Saya tidak tahu A’at berada di mana. Rita meminta saya untuk mencari kabar mengenai keadaan A’at.” Kata Basuni.
Akhirnya Basuni mendapat kabar dari Ningsih, A’at sedang berada di Toho. Ia disembunyikan di rumah temannya. Ia telah dihantam oleh ayah Rita yang datang bersama paman dan abang Rita beserta teman-temannya.
Saat itu ningsih datang bersama suaminya. Ia membawa kabar mengenai A’at.
“Wa’ta’ mengabariku bahwa A’at berada di Toho. Dia di sembunyikan di rumah temannya.” Kata Ningsih
“bagaimana keadaannya?” tanya Nur cemas.
“kepalanya pecah dihantam oleh gerombolan Ayah Rita. Beruntung saat itu ramai yang melerainya. Kalau tidak, sekarang pasti A’at sudah tinggal nama.” Kata Ningsih.
“apakah ada cara untuk menghubunginya? Aku khawatir, sebaiknya suruh dia sembunyi di sini.” Kata Nur cemas.
“nanti aku hubungi Wa’Ta’ untuk menyampaikan kabar ini kepadanya.” Kata Ningsih.
Selang beberapa hari, A’at datang ke rumah Basuni. Dengan badan luka-luka bekas dibantai oleh gerombolan Ayah Rita. Berjalan sambil terpincang-pincang. Kepalanya yang bocor masih dibaluti perban.
“sudah begini kau masih saja tidak mendengar perkataanku, At?” kata Basuni
A’at hanya diam, tak berani menjawab.
“jika sejak dulu kau mau mendengar perkataan kami, tak mungkin keadaanmu menjadi seperti ini. Sekarang kau seperti buronan. Kau masih dicari oleh keluarga Rita.” Kata Nur.
“sudah kau nikahi anak mereka, mengapa kau sia-siakan? Hidupnya berjalan membaik di sini, tapi kau datang memaksa mereka untuk ikut pulang ke kampung bersamamu. Kau rusak lagi hidup mereka.” Sambung Nur.
“sekarang apa yang akan kita lakukan? Aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku serahkan kepadamu. Jika kau mau benar-benar berubah itu bisa membuat keadaan menjadi lebih baik.” Kata Basuni hampir putus asa.
A’at masih terdiam. Basuni mengatakan bahwa ia tidak dapat mengetahui apa yang diinginkan A’at pada waktu itu. A’at tidak memberikan jawaban sepatah kata pun. Ia hanya terdiam dengan pandangan mata menerawang jauh.
Hari berganti hari, waktu berganti waktu. Keadaan A’at pun membaik. Ia memberanikan diri untuk berbicara kepada Basuni. Ia meminta tolong kepadanya agar menemui keluarga Rita. Ia ingin memperbaiki hubungan perkawinannya dan memulai kehidupannya dari awal.
“aku sebenarnya tidak bisa mempercayaimu lagi.” Kata Basuni.
“kami ingin melihat keseriusanmu untuk berubah. Lakukan dengan perbuatan, bukan hanya sekedar omongan.” Kata Nur.
Mulai saat itu A’at berubah. Ia sangat membantu Basuni dan Nur dalam menjalankan usaha kue keringnya. Ia juga mengembangkan usaha warung yang kemarin dikelola Rita. Ia diajarkan keyakinan agama islam kembali. Ternyata selama ini ia tidak kembali kepada agama lamanya. Ia tetap mempertahakankan agama Islamnya.
“kami telah melihat usahamu berubah. Kami mencoba yakin dan percaya kepadamu.”kata Nur.
“kami tidak akan membiarkanmu hidup menderit, At. Sejak dahulu kami telah menganggapmu sebagai anak kandung kami sendiri.” Kata Basuni
“maafkan aku, mak, pak. Aku sebenarnya hanya ingin hidup mandiri. Aku merasa tidak cocok hidup seperti yang kalian jalani ini. Aku merasa hidupku lebih cocok untuk bekerja menjadi seorang petani, seorang yang bekerja untuk pekerjaan yang kasar.” Kata A’at.
“hidup seseorang berubah karena ia sendiri yang merubahnya. Setiap orang berhak hidup layak.” Kata Basuni.
Sejak saat itu, mereka mengatur cara untuk menemui keluarga Rita, karena nomor yang biasa digunakan Rita untuk menghubungi Basuni sudah tidak aktif lagi. Untungnya, beberapa bulan kemudian Rita menghubungi Basuni. Ia menanyakan kabar dari dari keluarga yang dulu pernah menampungnya itu. Basunipun menyampaikan berita mengenai A’at yang telah berubah.
“A’at ingin memperbaiki hubungannya denganmu dan keluargamu. Aku yakin kali ini ia pasti serius. Berbagai cobaan hidup telah dilaluinya. Semoga dapat menjadi pelajaran baginya.” Kata Basuni kepada Rita.
Rita yang memang masih mencintai A’at menyetujui hal itu. Ia menyampaikan berita itu kepada ayahnya. Sang ayah pun dapat menerima A’at kembali. Mereka kemudian tinggal di Sintang, hidup berdampingan dengan keluarga Rita.
“Sekitar bulan April tahun 2008 April kami berangkat mengantar A’at ke Sintang. Ayah Rita meminta agar mereka hidup berdekatan dengan keluarga Rita, ayah Rita masih khawatir jika A’at tidak benar-benar berubah.” Papar Basuni.
Mereka diberi satu kektar tanah. Lahan itu kemudian ditanam karet dan ubi kayu. Hasil dari lahan tersebut dapat menjadi biaya hidup mereka. Saat berita ini diturunkan, A’at tidak pernah berkunjung ke rumah Basuni. Bahkan kabar berita darinya pun tidak pernah terdengar. A’at tidak pernah menghubungi Basuni lagi. Basuni mengatakan semoga saja mereka hidup bahagia di sana dan A’at tidak mengulangi kesalahannya seperti yang telah lalu.
Penulis: Hira Wahyuni (F11409016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar