Rabu, 18 Juli 2012

Satrawan Kalbar, Ahmad Asma Dz.


Jika berbicara mengenai sastrawan Kalbar, tentunya tidak akan luput dari nama Ahmad Asma. Sastrawan jebolan Fisipol Untan itu bernama asli Ahmad Sofyan, sedangkan dalam dunia sastra ia lebih dikenal dengan nama Ahmad Asma Dz, yaitu nama pena yang ia gunakan. Saat ditanya mengenai singkatan atau makna dari Dz yang menempel di belakang namanya, ia hanya tersenyum dan berkata, “itu rahasia karena cuma saya yang tahu”.
 Ahmad Asma  lahir dari rahim seorang wanita bernama Asma,  sedangkan ayahnya bernama Anwar. Ahmad Asma lahir pada penutupan akhir tahun, tepatnya tanggal 31 Desember silam. Satrawan berjenggot tipis ala Onci ungu dan bergigi gingsul itu merupakan anak ketujuh dari tujuh bersaudara alias anak bungsu.
Sastrawan yang gemar berolahraga dengan menggunakan sepeda lipat, hingga keringat menganak sungai di tubuhnya itu beragama Islam yang memiliki arti “tunduk”. Pendidikan yang ditanamkan oleh orang tuanya sangatlah religius namun tidak protektif. Jelasnya.
Ketika masih kecil Ahmad memiliki kebiasaan bermain di kolam ikan.  Kolam ikan tersebut berisi ikan mas dan ikan cupang. Sastrawan melayu yang berdomisili di Pontianak tepatnya daerah Tanjung Sari itu bahkan pernah terjatuh saat ia bermain di kolam ikan tersebut. Ditanya apakah ada pengalaman yang mengesankan yang pernah ia alami, ia mengatakan bahwa banyak pengalaman yang mengesankan yang sudah ia lewati dan satu di antara pengalaman  lucunya yaitu saat ia tercebur di kolam ikan.
Saat menempuh pendidikan di bangku sekolah Ahmad Asma sangat menyenangi pelajaran sejarah dan antropologi. Ahmad Asma memang merupakan sastrawan yang sangat peduli akan sejarah serta kebudayaan yang ada di Indonsia. Saat ditemui pada Sabtu (12/05), ia mengungkapkan “akan sangat disayangkan apabila sejarah tiap daerah harus punah karena tidak ada yang peduli dan melestarikannya”.
Buku Trilogy Manuskrip Celestine merupakan buku yang ia senangi. Ditanya masalah pelajaran yang kurang ia senangi, ia mengatakan bahwa tidak ada pelajaran yang tidak  ia senangi. Intinya semua pelajaran ia senangi yang penting dapat menambah wawasan dan pengetahuan. Apalagi yang berkaitan dengan negara.
Sastrawan  yang sulit membedakan antara Puron dengan Punggur itu memiliki hobi jalan-jalan, “ya saya memang suka ketukar antara punggur  dengan Purun”. Aneh walaupun memiliki hobi jalan-jalan ternyata sastrawan muda itu ternyata masih sulit membedakan antara desa penghasil buah langsat, yaitu Punggur dengan Puron, yaitu desa yang terletak di daerah Siantan.
Selain jalan-jalan ia juga hobi menulis dan membaca. Jika tidak gemar menulis dan membaca maka tidak mungkin terlahir kata-kata yang memiliki berjuta makna dari sastrawan yang sudah mulai menulis sejak di bangku sekolah dasar itu. Tulisan pertama yang ia tulis bertema tentang persahabatan saat bermain sepak bola, karena hampir setiap peristiwa dan kejadian bisa memberinya inspirasi ide kreatifnya dalam menulis. Sedangkan tokoh sastrawan yang diidolakan dan menjadi inspirasi bagi Ahmad Asma adalah Pramudya AnantaToer, Yusakh Ananda, Paulo Coelho, dan Robert Redford. Tulisannya pun mulai memiliki warna dan cirikhas pada tahun 1999-2000.
Saat duduk di bangju sekolah Ahmad Asma juga banyak mengikuti organisasi seperti rohis dan OSIS. Saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi pun ia juga menjadi anggota FKMI (Forum Komunikasi Mahasiswa Islam) LPM(Lembaga Pers Mahasiswa)
Ahmad Asma juga mengatakan bahwa ia menulis untuk menyalurkan hobi. Hal itulah yang menyebabkan akhirnya ia menulis, “Untuk menyalurkan hobby dan  kristalisasi pemikiran” ungkap sastrawan bersuku Melayu itu. Ada banyak tulisan yang berkesan yang telah ia tulis satu di antaranya “Medium strategi kebudayaan bernama Buku’
Sastrawan lajang yang masih betah dengan kesendiriannya itu sangat semangat apabila berbicara mengenai sastra dan budaya. Baginya sastra dan budaya memiliki keterkaitan yang sangat erat. “Sastra adalah sebagai medium strategi dan budaya itu adalah nilai yang terkandung di dalamnya” jelasnya.
Selain menjelaskan pendapatnya mengenai sastra dan budaya ia juga mengemukakan pendapatnya mengenai budaya yang berbentuk ritual dan terkadang dianggap syirik.”Definisi menjadi syirik atau tidak tentu akan memunculkan perdebatan dan dibutuhkan argumentasi yang berdasar. Menurut saya Sepanjang ritual itu tidak bertentangan dengan syariat, maka sah-sah saja. Karena yang terpenting adalah adat berdasarkan syariat dan syariat berdasarkan kitabullah” paparnya.
Meskipun sebagai satrawan yang sudah banyak menghasilkan karya sastra ternyata Ahmad Asma Dz memiliki cita-cita sebagai pedagang. Ditanya perihal cita-citanya itu sudah tercapai atau belum dan apakah sesuai dengan apa yang ia jalani sekarang,  menjawab singkat “Insya Allah”.
Pada saat ini Ahamad Asma  memang sedang menjalani beberapa profesi yaitu, berjualan buah-buahan dan sayuran. Selain itu, ia juga merupakan Konsultan dan fasilitator Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI), Surabaya,  Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat, penyelengaraan perpustakaan desa dan Mobil Pustaka Keliling di beberapa daerah di Indonesia. Divisi Riset divisi riset Lembaga Pengkajian Studi Arus Informasi Regional (LPS AIR), Pontianak. Sesuai dengan profesinya sebagai sastrawan yang mahir dalam merangkai kata, Ahmad Asma sering menjadi juri lomba baca puisi dan  loma cipta puisi.
Beberapa kumpulan puisi, cerpen serta riset yang ditulis oleh sastrawan yang berperawakan lembut itu telah diterbitkan sejak tahun 2002. Kumpulan cerpennya yang pertama diterbitkan berjudul ‘Dan AKu Dan Aku Yang lainnya’. Saat ini Ahmad Asma juga sedang mengumpulkan cerita rakyat yang ada di Kalimantan Barat, ia bercita-cita untuk membuat sebuah buku yang berisi tentang dokumentasi cerita yang berisi tentang sejarah terbentuknya suatu daerah.
Sastrawan yang menyenangi makanan daerah seperti gado-gado itu, banyak mengahsilkan karya sastra berbentuk cerpen, puisi, dan essay. Karya sastranya kebanyakan bertema sosial dan budaya dan saat ini ia Sedang menulis (mengedit) buku panduan wisata dan riset.
Seperti halnya sastrawan lain, Ahmad Asma juga memiliki filosofi hidup. Terlihat dari filosofi dan nama penanya  Ahmad Asma’, ia adalah sosok yang sangat menyayangi serta mengagumi ibunya. Asma merupakan nama ibunya yang ia semat pada nama penanya. Sedangkan  filosfi  hidup seorang Ahmad Asma yang  mungkin dapat di sharing dengan satu istilah ‘bahwa sehangat-hangatnya tempat kembali adalah rahim ibu’.
              Harapan hampir setiap orang, ternyata juga menjadi harapan bagi sastrawan  yang mengaku belajar menulis secara otodidak dan sendiri itu. Ia berharap semoga  ke depan ia akan menjadi orang yang lebih baik lagi dan  selalu bersyukur.

Daftar judul kumpulan cerpen dan puisi Ahmad Asma.

·         Buku kumpulan cerita pendek ‘ Dan AKu Dan Aku Yang lainnya’ (2002, 2008).
·         Kumpulan puisi ’ Hitam Putih Cinta Dalam Jiwa’ (2003).
·         Kumpulan puisi ’ Ruang Dan Waktu”  Sebuah Rangkaian Potret Dalam Kata Tentang Kehidupan, Cinta, Perjalanan Dan Rasa Syukur (2006, 2008).
·         Mencari Ruang Publik di Warung Kopi. Sebuah kajian budaya tentang Fenomena Warung Kopi Dan Es Teler Di Kota Pontianak (2008).
·         Salah satu cerpennya yang berjudul ‘Menyeberang Jalan’ masuk dalam kumpulan cerita pendek Pada Tanah Yang Di Kandung Bersama (2006).
·         Salah satu cerpennya yang berjudul ‘4 budaya dalam1 hujan’ masuk dalam kumpulan cerita pendek Akar Punya Andil Pada Daun (2012).
·         Lima karya puisinya masuk kedalam buku kumpulan puisi ‘Anugerah Khatulistiwa’(2012)

Itulah beberapa kumpulan cerita pendek dan puisi dari seorang sastrawan kalbar, Ahmad Asma. Seorang sastrawan yang sangat peduli akan budaya serta sejarah kota tempat tinggalnya “KAL-BAR”.
Penulis: Evi Marianti (F11409043)

2 komentar:

  1. Bisa minta emailnya Ahmad Asma , yang mengarang buku Pontianak Heritage?.. karena menurut kabar (saya belum baca bukunya), di buku tersebut ada disebutkan Ikatan Mahasiswa Pontianak (IMAPON), saya sedang coba membangunkan kembali SOMAL ... email saya mang_Udju@yahoo.com , saya tinggal di Yogyakarta ...

    BalasHapus
  2. pak rencananya pontianak heritage mau saya jdikan skripsi saya, mohon sarannya dong

    BalasHapus