Jika
berbicara mengenai sastrawan Kalbar, tentunya tidak akan luput dari nama Ahmad
Asma. Sastrawan jebolan Fisipol Untan itu bernama asli Ahmad Sofyan, sedangkan dalam
dunia sastra ia lebih dikenal dengan nama Ahmad Asma Dz, yaitu nama pena yang
ia gunakan. Saat ditanya mengenai singkatan atau makna dari Dz yang menempel di
belakang namanya, ia hanya tersenyum dan berkata, “itu rahasia karena cuma saya
yang tahu”.
Ahmad Asma
lahir dari rahim seorang wanita bernama Asma, sedangkan ayahnya bernama Anwar. Ahmad Asma
lahir pada penutupan akhir tahun, tepatnya tanggal 31 Desember silam. Satrawan
berjenggot tipis ala Onci ungu dan bergigi gingsul itu merupakan anak ketujuh
dari tujuh bersaudara alias anak bungsu.
Sastrawan
yang gemar berolahraga dengan menggunakan sepeda lipat, hingga keringat
menganak sungai di tubuhnya itu beragama Islam yang memiliki arti “tunduk”.
Pendidikan yang ditanamkan oleh orang tuanya sangatlah religius namun tidak
protektif. Jelasnya.
Ketika
masih kecil Ahmad memiliki kebiasaan bermain di kolam ikan. Kolam ikan tersebut berisi ikan mas dan ikan
cupang. Sastrawan melayu yang berdomisili di Pontianak tepatnya daerah Tanjung
Sari itu bahkan pernah terjatuh saat ia bermain di kolam ikan tersebut. Ditanya
apakah ada pengalaman yang mengesankan yang pernah ia alami, ia mengatakan
bahwa banyak pengalaman yang mengesankan yang sudah ia lewati dan satu di
antara pengalaman lucunya yaitu saat ia
tercebur di kolam ikan.
Saat
menempuh pendidikan di bangku sekolah Ahmad Asma sangat menyenangi pelajaran
sejarah dan antropologi. Ahmad Asma memang merupakan sastrawan yang sangat
peduli akan sejarah serta kebudayaan yang ada di Indonsia. Saat ditemui pada
Sabtu (12/05), ia mengungkapkan “akan sangat disayangkan apabila sejarah tiap
daerah harus punah karena tidak ada yang peduli dan melestarikannya”.
Buku
Trilogy Manuskrip Celestine merupakan buku yang ia senangi. Ditanya masalah
pelajaran yang kurang ia senangi, ia mengatakan bahwa tidak ada pelajaran yang
tidak ia senangi. Intinya semua
pelajaran ia senangi yang penting dapat menambah wawasan dan pengetahuan.
Apalagi yang berkaitan dengan negara.
Sastrawan
yang sulit membedakan antara Puron
dengan Punggur itu memiliki hobi jalan-jalan, “ya saya memang suka ketukar
antara punggur dengan Purun”. Aneh
walaupun memiliki hobi jalan-jalan ternyata sastrawan muda itu ternyata masih
sulit membedakan antara desa penghasil buah langsat, yaitu Punggur dengan
Puron, yaitu desa yang terletak di daerah Siantan.
Selain
jalan-jalan ia juga hobi menulis dan membaca. Jika tidak gemar menulis dan
membaca maka tidak mungkin terlahir kata-kata yang memiliki berjuta makna dari
sastrawan yang sudah mulai menulis sejak di bangku sekolah dasar itu. Tulisan
pertama yang ia tulis bertema tentang persahabatan saat bermain sepak bola,
karena hampir setiap peristiwa dan kejadian bisa memberinya inspirasi ide
kreatifnya dalam menulis. Sedangkan
tokoh sastrawan yang diidolakan dan menjadi inspirasi bagi Ahmad Asma adalah
Pramudya AnantaToer, Yusakh Ananda, Paulo Coelho, dan Robert Redford. Tulisannya pun
mulai memiliki warna dan cirikhas pada tahun 1999-2000.
Saat
duduk di bangju sekolah Ahmad Asma juga banyak mengikuti organisasi seperti
rohis dan OSIS. Saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi pun ia juga
menjadi anggota FKMI (Forum Komunikasi Mahasiswa Islam) LPM(Lembaga Pers
Mahasiswa)
Ahmad
Asma juga mengatakan bahwa ia menulis untuk menyalurkan hobi. Hal itulah yang
menyebabkan akhirnya ia menulis, “Untuk menyalurkan hobby dan kristalisasi pemikiran” ungkap sastrawan
bersuku Melayu itu. Ada banyak tulisan yang berkesan yang telah ia tulis satu
di antaranya “Medium strategi kebudayaan bernama Buku’
Sastrawan
lajang yang masih betah dengan kesendiriannya itu sangat semangat apabila
berbicara mengenai sastra dan budaya. Baginya sastra dan budaya memiliki
keterkaitan yang sangat erat. “Sastra adalah sebagai medium strategi dan budaya
itu adalah nilai yang terkandung di dalamnya” jelasnya.
Selain
menjelaskan pendapatnya mengenai sastra dan budaya ia juga mengemukakan
pendapatnya mengenai budaya yang berbentuk ritual dan terkadang dianggap
syirik.”Definisi menjadi syirik atau tidak tentu akan memunculkan perdebatan
dan dibutuhkan argumentasi yang berdasar. Menurut saya Sepanjang ritual itu
tidak bertentangan dengan syariat, maka sah-sah saja. Karena yang terpenting
adalah adat berdasarkan syariat dan syariat berdasarkan kitabullah” paparnya.
Meskipun
sebagai satrawan yang sudah banyak menghasilkan karya sastra ternyata Ahmad
Asma Dz memiliki cita-cita sebagai pedagang. Ditanya perihal cita-citanya itu
sudah tercapai atau belum dan apakah sesuai dengan apa yang ia jalani
sekarang, menjawab singkat “Insya
Allah”.
Pada
saat ini Ahamad Asma memang sedang menjalani
beberapa profesi yaitu, berjualan buah-buahan dan sayuran. Selain itu, ia juga
merupakan Konsultan dan fasilitator Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia
(YPPI), Surabaya, Pengelolaan Taman
Bacaan Masyarakat, penyelengaraan perpustakaan desa dan Mobil Pustaka Keliling
di beberapa daerah di Indonesia. Divisi Riset divisi riset Lembaga Pengkajian
Studi Arus Informasi Regional (LPS AIR), Pontianak. Sesuai dengan profesinya
sebagai sastrawan yang mahir dalam merangkai kata, Ahmad Asma sering menjadi juri
lomba baca puisi dan loma cipta puisi.
Beberapa
kumpulan puisi, cerpen serta riset yang ditulis oleh sastrawan yang
berperawakan lembut itu telah diterbitkan sejak tahun 2002. Kumpulan cerpennya
yang pertama diterbitkan berjudul ‘Dan AKu Dan Aku Yang lainnya’. Saat
ini Ahmad Asma juga sedang mengumpulkan cerita rakyat yang ada di Kalimantan
Barat, ia bercita-cita untuk membuat sebuah buku yang berisi tentang
dokumentasi cerita yang berisi tentang sejarah terbentuknya suatu daerah.
Sastrawan
yang menyenangi makanan daerah seperti gado-gado itu, banyak mengahsilkan karya
sastra berbentuk cerpen, puisi, dan essay. Karya sastranya kebanyakan bertema
sosial dan budaya dan saat ini ia Sedang menulis (mengedit) buku panduan wisata
dan riset.
Seperti
halnya sastrawan lain, Ahmad Asma juga memiliki filosofi hidup. Terlihat dari
filosofi dan nama penanya ‘Ahmad Asma’, ia adalah sosok yang sangat
menyayangi serta mengagumi ibunya. Asma merupakan nama ibunya yang ia semat
pada nama penanya. Sedangkan filosfi
hidup seorang Ahmad Asma yang mungkin dapat di sharing dengan satu istilah
‘bahwa sehangat-hangatnya tempat kembali adalah rahim ibu’.
Harapan hampir setiap orang, ternyata juga menjadi harapan bagi
sastrawan yang mengaku belajar menulis
secara otodidak dan sendiri itu. Ia berharap semoga ke depan ia akan menjadi orang yang lebih baik
lagi dan selalu bersyukur.
Daftar
judul kumpulan cerpen dan puisi Ahmad Asma.
·
Buku
kumpulan cerita pendek ‘ Dan AKu Dan Aku Yang lainnya’ (2002, 2008).
·
Kumpulan
puisi ’ Hitam Putih Cinta Dalam Jiwa’ (2003).
·
Kumpulan
puisi ’ Ruang Dan Waktu” Sebuah
Rangkaian Potret Dalam Kata Tentang Kehidupan, Cinta, Perjalanan Dan Rasa
Syukur (2006, 2008).
·
Mencari
Ruang Publik di Warung Kopi. Sebuah kajian budaya tentang Fenomena Warung Kopi
Dan Es Teler Di Kota Pontianak (2008).
·
Salah
satu cerpennya yang berjudul ‘Menyeberang
Jalan’ masuk dalam kumpulan cerita pendek Pada Tanah Yang Di Kandung
Bersama (2006).
·
Salah
satu cerpennya yang berjudul ‘4 budaya dalam1 hujan’ masuk dalam kumpulan
cerita pendek Akar Punya Andil Pada Daun (2012).
·
Lima
karya puisinya masuk kedalam buku kumpulan puisi ‘Anugerah Khatulistiwa’(2012)
Itulah
beberapa kumpulan cerita pendek dan puisi dari seorang sastrawan kalbar, Ahmad
Asma. Seorang sastrawan yang sangat peduli akan budaya serta sejarah kota
tempat tinggalnya “KAL-BAR”.
Penulis: Evi Marianti (F11409043)
Bisa minta emailnya Ahmad Asma , yang mengarang buku Pontianak Heritage?.. karena menurut kabar (saya belum baca bukunya), di buku tersebut ada disebutkan Ikatan Mahasiswa Pontianak (IMAPON), saya sedang coba membangunkan kembali SOMAL ... email saya mang_Udju@yahoo.com , saya tinggal di Yogyakarta ...
BalasHapuspak rencananya pontianak heritage mau saya jdikan skripsi saya, mohon sarannya dong
BalasHapus