Ku langkahkan kaki menelusuri keramaian, ku lepaskan
pandanganku sejauh mungkin, dan ku biarkan telingaku mendengar setiap
pembicaraan orang-orang yang ada di sekitarku. Senin (09/04) tepatnya pukul
17.15 sore aku dan temanku tiba di tempat yang mungkin sudah tidak asing lagi
bagi sebagian keluarga dan kaum muda-mudi itu.
Tempat itu dikenal dengan sebutan korem. Kedatangan
kami ke korem disambut oleh seorang tukang parkir. “tak osah dibetolkan dek,
biar jak saye yang betolkan” ucap tukang parkir dengan bahasa melayunya yang
kental. Sebelum aku dan temanku beranjak pergi, kami sempat berbicara sebentar
dengan tukang parkir tersebut karena kebetulan ia berasal dari satu daerah
dengan kami. Dia sering dipanggil dengan sebutan Im. Dari sore hingga malam ia
bekerja sebagai tukang parkir dan siang harinya ia bekerja sebagai kuli
bangunan.
Korem memberikan sejuta pemandangan, mulai dari
taman yang dipenuhi rumputan hijau dan bunga yang rapi, tempat pemarkiran motor
yang ada di setiap jalan masuk, pedagang aksesoris, mainan anak-anak, dan
pedagang makanan yang berderet bak semut berbaris, hingga orang-orang yang
menjual jasa, serti pembuatan tato, dokar, dan penyewaan mainan anak-anak.
Pedagang-pedagang tersebut pun mulai membentang
terpal untuk tempat mereka berjualan. Ada pula dari pedagang-pedagang itu yang
sudah menata barang-barang dagangan mereka. Korem memang merupakan satu di
antara sekian banyak tempat mencari rezeki.
Pedagang yang menjual makanan menawarkan berbagai
makanan mulai dari gorengan, bakso, nasi goreng, dan sate. Terlihat sekelompok
muda-mudi yang sedang menikmati makanan yang ada di hadapan mereka, ada yang
makan nasi goreng, bakso, dan ada yang hanya minum air mineral. Melihat
pemandangan tersebut, aku pun tergoda untuk memesan makanan dan kebetulan
perutku memang sudah keroncongan. “ Bu, nasi goreng dan baksonya satu ya!!!” pesanku.
“Minumnya apa mbak?” tanya ibu penjual makanan tersebut. “Air putih” jawabku
singkat.
Terdengar oleh ku rengek seorang anak kecil, mataku
pun mencari di mana asal suara tersebut. Akhirnya aku menemukan dari mana suara
anak kecil itu berasal. Suara tersebut berasal dari tempat penyewaan mainan
anak-anak yang berada dekat taman. Anak kecil itu bernama Dicky, ternyata ia
ingin main mobil-mobilan, namun orang tuanya tidak mau menuruti permintaan
Dicky. “ iky mau naik mobil-mobilan” mintanya hampir menangis. Sebelum mutiara
bening terjatuh dari mata Dicky yang
mulai berkaca-kaca, orang tuanya pun menuruti permintaan Dicky. Ternyata
mutiara bening yang tidak sempat jatuh itu merupakan rezeki bagi seorang bapak
yang menyewakan berbagai menyewakan mainan anak-anak tersebut.
Jam di tanganku menunjukkan pukul 18.10, perutku pun
sudah kenyang. Aku dan temanku memutuskan untuk pulang, tapi sebelum pulang
tentunya kami harus membayar makanan terlebih dahulu. Ternyata selain mutiara
bening Dicky, perutku yang keroncongan juga merupakan rezeki bagi sebagian
pedagang yang ada di korem. Namun setiap pengunjung juga membawa rezeki bagi si
tukang parker.
Penulis: Evi Marianti (F11409043)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar