Rabu, 18 Juli 2012

Korem

Ku langkahkan kaki menelusuri keramaian, ku lepaskan pandanganku sejauh mungkin, dan ku biarkan telingaku mendengar setiap pembicaraan orang-orang yang ada di sekitarku. Senin (09/04) tepatnya pukul 17.15 sore aku dan temanku tiba di tempat yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian keluarga dan kaum muda-mudi itu.
Tempat itu dikenal dengan sebutan korem. Kedatangan kami ke korem disambut oleh seorang tukang parkir. “tak osah dibetolkan dek, biar jak saye yang betolkan” ucap tukang parkir dengan bahasa melayunya yang kental. Sebelum aku dan temanku beranjak pergi, kami sempat berbicara sebentar dengan tukang parkir tersebut karena kebetulan ia berasal dari satu daerah dengan kami. Dia sering dipanggil dengan sebutan Im. Dari sore hingga malam ia bekerja sebagai tukang parkir dan siang harinya ia bekerja sebagai kuli bangunan.
Korem memberikan sejuta pemandangan, mulai dari taman yang dipenuhi rumputan hijau dan bunga yang rapi, tempat pemarkiran motor yang ada di setiap jalan masuk, pedagang aksesoris, mainan anak-anak, dan pedagang makanan yang berderet bak semut berbaris, hingga orang-orang yang menjual jasa, serti pembuatan tato, dokar, dan penyewaan mainan anak-anak.
Pedagang-pedagang tersebut pun mulai membentang terpal untuk tempat mereka berjualan. Ada pula dari pedagang-pedagang itu yang sudah menata barang-barang dagangan mereka. Korem memang merupakan satu di antara sekian banyak tempat mencari rezeki.
Pedagang yang menjual makanan menawarkan berbagai makanan mulai dari gorengan, bakso, nasi goreng, dan sate. Terlihat sekelompok muda-mudi yang sedang menikmati makanan yang ada di hadapan mereka, ada yang makan nasi goreng, bakso, dan ada yang hanya minum air mineral. Melihat pemandangan tersebut, aku pun tergoda untuk memesan makanan dan kebetulan perutku memang sudah keroncongan. “ Bu, nasi goreng dan baksonya satu ya!!!” pesanku. “Minumnya apa mbak?” tanya ibu penjual makanan tersebut. “Air putih” jawabku singkat.
Terdengar oleh ku rengek seorang anak kecil, mataku pun mencari di mana asal suara tersebut. Akhirnya aku menemukan dari mana suara anak kecil itu berasal. Suara tersebut berasal dari tempat penyewaan mainan anak-anak yang berada dekat taman. Anak kecil itu bernama Dicky, ternyata ia ingin main mobil-mobilan, namun orang tuanya tidak mau menuruti permintaan Dicky. “ iky mau naik mobil-mobilan” mintanya hampir menangis. Sebelum mutiara bening terjatuh dari  mata Dicky yang mulai berkaca-kaca, orang tuanya pun menuruti permintaan Dicky. Ternyata mutiara bening yang tidak sempat jatuh itu merupakan rezeki bagi seorang bapak yang menyewakan berbagai menyewakan mainan anak-anak tersebut.
Jam di tanganku menunjukkan pukul 18.10, perutku pun sudah kenyang. Aku dan temanku memutuskan untuk pulang, tapi sebelum pulang tentunya kami harus membayar makanan terlebih dahulu. Ternyata selain mutiara bening Dicky, perutku yang keroncongan juga merupakan rezeki bagi sebagian pedagang yang ada di korem. Namun setiap pengunjung juga membawa rezeki bagi si tukang parker.
Penulis: Evi Marianti (F11409043)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar