Rosnawati
Perjalanan Hidup
yang Pahit
Rambut tomboy ala
Laura Hollins atau yang lebih dikenal dengan Agyness Deyn. Kulit sawo mateng
mulus tanpa noda sedikitpun. Tinggi semampai dengan wajah oval lengkap dengan matanya
yang bulat dan gigi gingsulnya yang membuat mata tak ingin beranjak untuk menatap keindahan ciptaan
Tuhan itu.
Rosnawati
tinggal bersama ibu dan adik-adiknya. Ya Rosnawati memang sudah tidak memiliki
ayah. Mereka tinggal di sebuah desa di jawa, tepatnya desa Watulawang. Wati
(panggilan Rosnawati) memiliki tiga adik perempuan dan dua adik laki-laki. Ya
Ros memang anak sulung dari enam bersaudara (maklum dulu belum ada KB). Adiknya
yang perempuan bernama Dewi, Sugiarti dan Hanun Sedangkan adiknya yang
laki-laki bernama Sugianto dan Nurkholis.
Rosnawati tidak
melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dengan alasan ekonomi
keluarga. “Aku adalah anak yang paling tua, jadi tidak boleh egois ”. Keadaan
ekonomi yang menghimpit dan keinginan untuk menyekolahkan adik-adiknya membuat
wati bertekad untuk mencari kerja. Sayang Wati tidak menemukan pekerjaan yang
tepat. Pernah sekali ia mendapat tawaran untuk menjaga sebuah toko namun gaji
yang ditawarkan sangatlah kecil. Hal itu membuat ia menolak pekerjaan tersebut.
“Waktu takkan
berhenti untuk menuggu kita dan uang tak mungkin berjalan sendiri untuk
menghampiri orang yang berdiam diri” itulah kata-kata yang menyemangati waktu
dikampung unkapnya. Waktu berlalu akhirnya rosnawati hijrah ke pontianak. “
Mengapa Pontianak, kenapa bukan Jakarta, atau jai TKI ke Arab Saudi atau
Malaysia?” selidikku. “kalau di pontianak ada keluarga dari bapak dan tidak
perlu bikin paspor, asalkan ada ongkos untuk transportasi” jalasnya.
Sampai di
pontianak Rosnawati langsung ke tempat kelurganya “Bude Sri” wati menyebutnya.
Rumah budenya di Gg. Ishak depan sekolah Bina Utama (Sui. Jawi). Wati hanya
beberapa hari tinggal di sana karena ia mendapat pekerjaan sebagai pembantu
rumah tangga. Majikan wati memanggilnya dengan sebutan Ros. Katanya nama Wati
mirip nama kucing peliharaannya yang
bernama katy, ujungnya sama-sama ti, maka berubahla nama Wati menjadi
Ros.
Waktu terus
berputar, hampir satu bulan Ronawati bekerja. Nama Ros pun sudah tak asing
baginya. Pas tanggal 26 maret Ros menerima gaji pertamanya, “ kalau tidak salah
gaji aku waktu Rp 650.000.” ceritanya pada sahabatku Etri. Kebetulan Etri
sahabatku bertetangga dengan Rosnawati yang biasa ia panggil dengan sebutan kak
Ros. Tiap bulan biasnya Ros mengirimkan keluarganya uang sekitar Rp.500.000.
Hampir setahun
Rosnawati bekerja, namun ada gelagat yang tak baik dari suami majikannya pak
Junaidi. Sering rosnawati dicolek-colek hingga akhirnya ia merasa tidak betah
karena merasa dilecehkan. Hanya sembilan bulan ia bertahan bekerja, kemudian
berhenti. “Entahlah sembilan bulan berapa hari aku lupa” jelasnya.
Kini si gadis
tomboy tak memiliki pekerjaan alias pengangguran. Rosnawati kembali ke tempat
keluarganya bude Sri. Ya untuk sementara memang itulah satu-satunya tempat
berteduh. Untunglah aku masih punya keluarga di Pontianak. Tak pernah terbayang
jika ia tak memiliki keluarga di kota yang ganas itu.
Rosnawati senang bukan kepalang karena belum
berapa lama ini ia bertemu dengan seorang pria yang sangat baik kepadanya. Ia
pun ditawari sebuah pekerjaan. Bertambahlah satu kabahagiaan Rosnawati meskipun
pekerjaan yang ditawarkan belum jelas.
16 Januari 2005
Ros diajak ke suatu tempat, yaitu tempat di mana ia akan bekerja. Perjalanan
yang cukup jauh dan melelahkan. Tempat yang akan dituju bukanlah kota, tapi
sebuah perkampungan dengan jalan-jalan yang rusak.
Akhirnya mereka
tiba ditempat yang di maksud. Dalam
benaknya Ros berfikir ternyata pekerjaan yang ditawarkan menjadi pelayaan, tapi
kenapa tempat ini terasa aneh. Dikatakan rumah makan bukan, kafe juga bukan
apalagi restoran. Namun anehnya di sana menyediakan minuman dan makanan ringan.
Ruangan besar dengan kursi tertata rapi, pelayaannya semua perempuan dan
seorang pelayaan memanggil Joni dengan sebutan bos. Oh……….ternyata tempat ini
milik Joni. Tempat tersebut berada di
Kabupaten Kubu Raya, tepatnya daerah Bintang Mas 4, sebuah jalan yang menuju
Rasau.
Joni mengajak
Ros ke suatu ruangan. Tempat ini adalah tempat di mana para lelaki hidung
belang menghabiskan waktunya, ya kasarnya ini tempat pelacuran atau rumah
bordil. Joni menjelaskan. Mendengar itu semua Ros pun minta diantar pulang.
“aku mengajakmu ke sini agar kamu tahu bagaimana aku yang sebenarnya dan aku
tak ingin menyembunyikan sesuatu dari mu, masalah keluargamu biar aku yang
urus”.
Waktu terasa
begitu cepat dan sudah hampir setahun Ros tinggal di rumah bordil itu. Ia pun
sambil bekerja sebagai pelayan walaupun Joni sudah melarangnya bekerja melayani
tamu. Ia merasa tidak enak kapada Joni karena tiap bulan Joni selalu mengirimi
keluaganya uang dengan jumlah yang besar. Pernah suatu hari ada tamu yang iseng
dan mengiranya sebagai PSK. Karena rata-rata pelayan di sana selain sebagai
pelayan tamu yang minum juga sebagai pelayan di ruangan yang berukuran 3x4 yang
telah disediakan di sana. Jelas Joni marah dan mengusir tamu tersebut.
Semenjak tinggal
di RM (rumah bordil) itu, Ros sudah sangat jarang sholat apa lagi mengaji. Ia
merasa tempat di sana kotor. Mungkin karena terpengaruh lingkungan juga hingga
Ros juga ikut berubah. Namun syukurlah ternyata tiap kali ia berpergian atau ke
tempat budenya ia tak pernah meninggalkan sholatnya. Sebelum ia hijrah ke
pontianak ibunya berpesan agar ia selalu mengerjakan sholat lima waktu karena
itulah yang akan menjaga kita dari semua perbuatan yang tidak baik, kenangnya.
Suatu ketika
Joni menyatakan niatnya untuk melamar Ros namun apa hendak dikata ibarat
pribahasa “jauh api dari panggang”. Joni ternyata sudah memiliki istri bernama
Mulyani. Mendengar suaminya ingin menikah lagi spontan saja Mulyani melabrak
Ros habis-habisan. “Dasar perempuan tak tahu diuntung, sudah ditolong malah
tidak tahu terima kasih” Ros menirukan ucapan istri Joni . Ternyata ada seorang
pelayan di sana yang menjadi mata-mata istri Joni. Pelayan tersebutlah yang
memberikan setiap informasi mengenai gerak-gerik suaminya itu. “Jelas saja
istrinya punya mata-mata orang suaminya hidup dikerumuni perempuan-perempuan
nakal, tapi aku berusaha menjelaskan bagaimaina kejadian sebenarnya dan aku
sama sekali tidak tahu kalau joni sudah punya istri”, cerita Ros.
Babak demi babak
kehidupan pun ia mulai. Ros sudah tidak menjadi perempuan yang istimewa lagi di
tempat itu. Anehnya ia tidak pergi setelah dilabrak oleh istri joni, ia tetap
bertahan meski suasana sudah sangat genting. Joni pun sudah tak mengirimkan
uang lagi kepada keluarga Ros. Keadaan kini sudah berubah, sudah tak ada lagi
hubungan istimewa antara Joni dan Ros karena memang hubungan mereka terlarang.
Sudah cukup cacian dan tamparan yang mendarat di pipi Ros sebagai satu peringatan
agar ia menjaga jarak dengan pemilik rumah bordil itu.
Beberapa bulan
setelah kejadian (dilabrak) itu, akhirnya Ros memutuskan untuk menjadi seorang
PSK. Ia merasa gaji yang diperolehnya sebagai pelayan sangat kecil meski
terkadang ia memperoleh tips dari para om-om yang minta ditemani ngobrol. “Mana
cukup gajiku untuk dikirimkan ke kelurga dikampung”. Ibunya sudah cukup tua dan
sering sakit-sakitan belum lagi adik-adiknya yang masih harus membayar biaya
sekolah. Di kampung ibunya hanya berternak ayam dan bebek, itu pun cuma 10—20
ekor.
Sesekali ibu dan
adiknya menelpon untuk menanyakan keadaan dan pekerjaannya. Meski demikian Ros
tetap menyimpan rapat cerita perjalanan hidupnya dari keluarga di kampung. Ia
tidak ingin keluarganya terbebani dengan
semua cerita pahit dari sebuah kehidupan yang kini dialaminya. Selain itu,
keluarganya pasti akan sangat terpukul jika tahu kalau anaknya bekerja sebagai
seorang pelacur. “Mana mungkin ibu mau menerima uangku jika ia tahu dari mana
uang itu ku peroleh dan pasti ia akan sangat terpukul”. Ratapnya.
Ros kini menjadi
seorang primadona di sebuah tempat yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
“Tak pernah terbesit difikiranku untuk bekerja di tempat yang penuh dengan
pendosa itu, meski akhirnya aku pun harus menjadi seorang yang berlumur dosa”.
Pahit memang kenyataan hidup yang harus ia jalani untuk memperoleh sebuah
kehidupan yang layak.
Sebagai seorang primadona tentunya Ros
memiliki penghasilan yang cukup besar.
Ia
pun mengirimi keluarga uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Dalam waktu satu
malam ia dapat memperoleh uang ratusan ribu. Dengan demikian ia tidak hanya
dapat mengirimi uang untuk keluarganya tapi juga dapat menabung.
Pekerjaannya sebagai seorang PSK
membuat ia bertemu dengan seorang lelaki bernama Ali. Ia seorang chainise yang
tinggal di Parit Berkat. Orang biasa menyebutnya dengan sebutan Si Ali Aciang,
karena ayahnya bernama Aciang. Ali sudah mempunyai seorang istri dan tiga orang
anak. Istrinya memang sering pulang ke rumah orang tuanya di Pontianak. Itulah
yang membuat Ali jadi sering berkunjung ke RM yang berada di Bintang Mas itu.
Ali mempunyai usaha penggilingan padi karena mayoritas masyarakat di punggur
bekerja sebagai petani.
Ali
pun menjadi langganan Ros, bahkan mereka seperti berteman karena Ros sering
bercerita tentang perjalanan hidupnya. Ali yang mulanya yang hanya berniat
untuk senang-senang kini merasa kagum kepada primadona RM itu. Siapa yang tidak
kagum dengan seorang perempuan yang memiliki rasa saya sayang terhadap keluarga
dan mau berkorban demi adik-adiknya.
Rasa
kagum itu kini telah berubah menjadi rasa cinta. Ali pun berniat untuk menikahi
Ros, tapi Ros menolak karena ia tahu kalau Ali sudah mempunyai seorang istri
dan anak. Ali mencoba untuk meyakinkan Ros agar mau menikah dengannya dan ia
berhasil membujuk Ros.
Ros
pun diajak Ali untuk menemui istrinya. Ros pasrah untuk mendapat cacian dan
makian untuk yang kedua kalinya. Ternyata benar apa yang ia pikirkan bahwa
istri Ali pasti akan memakinya. Seketika keadaan menjadi sangat kacau dan
ricuh. Keributan pun tak dapat dihindarkan. Keributan yang terjadi di rumah Ali
seolah menjadi tontonan gratis disekitar rumahnya. Istri Ali memaki-maki Ros,
ia melempar semua perabotan rumah keluar, bahkan ia menyuruh para pegawainya
untuk menghentikan mesin penggilingan padi. Tidak hanya istri tetapi anaknya
juga menentang keinginan ali tersebut.
Ali
tidak peduli dengan anak dan istri yang
menentang keras keinginannya untuk menikahi Ros. Ia tetap akan menjalankan
niatnya itu. Namun selain masalah keluarga ternyata ada masalah lain yang harus
mereka hadapi. Perbedaan agama di antara mereka menjadikan masalah kian rumit.
20
Agustus 2007 Ros pulang ke kampung halamannya di Watulawang untuk meminta restu
kepada orang tua dan adik-adiknya. Bukan kepalang terkejut keluarga Ros
mendengar calon suaminya yang berbeda agama dengan mereka. Kini pernikahan Ros
kembali ditentang oleh keluarganya sendiri. Mungkin itulah efek dari rasa cinta
yang sedang mereka rasakan.
Seperti
Ali, Ros pun tidak peduli dengan keluarganya yang tidak memberikan restu. Bukan
karena ia tidak sayang pada keluarganya, tapi karena ia sudah bosan menjadi
seorang pelacur meskipun ia akan menghancur sebuah keluaga dan menyakiti banyak
hati. Cerita Ros panjang lebar mengenai perjalanan cintanya dengan si mata
sipit.
Pernikahan
mereka dilangsungkan secara islami meskipun sebenarnya mereka berbeda agama.
Ros pun tahu bahwa sebenarnya pernikahan yang mereka jalani tidak sah menurut
agama. Karena di dalam islam pernikahan yang dijalani dengan orang yang non
muslim dianggap tidak sah dalam hukum islam.
Masalah
tidak berakhir sampai di situ. Menurut beberapa masyarakat sekitar istri Ali
yang bernama Sandra itu tidak terima dengan pernikahan tersebut akhirnya
memutuskan untuk menemui orang pintar.
Ia meminta kepada orang pintar tersebut untuk membuat Ali benci kepada
istri mudanya itu (Ros).
Selain
meminta tolong kepada orang pintar Sandra juga sering menfitnah Ros dengan
bergai tuduhan yang tidak baik. Ia mengatakan bahwa Ros sering memarahi
anak-anaknya. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa Ros malas-malasan kalau Ali
sedang tidak ada di rumah.
Usaha
Sandra tersebut tidak sia-sia, Ali dan Ros jadi sering bertengkar. Pernikahan
yang baru berumur beberapa bulan tersebut berubah menjadi seperti neraka.
Puncaknya
Sandra meminta Ali untuk membelikannya rumah baru di Pontianak. Permintaan
tersebut dikabulkan Ali. Ia membelikan Sandra rumah baru dikawasan Alianyang
dan yang lebih membuat Ros menderita Ali juga lebih sering menginap di rumah
Sandra.
Tidak
lama setelah itu Ros hamil. Kehamilan tersebut sedikit membuat Ali lebih
perhatian kapadanya. Namun tetap saja Ali tidak bisa baik seperti dulu sebelum
mereka menikah. Mungkin karena Sandra yang selalu mnghasut Ali atau memang
karena orang pintar yang Sandra temui.
Saat-saat
hamil tua Ros lebih sering ditemani sahabatku yang bernama Etri. Etri merupakan
satu-satunya tetangga yang cukup dekat dengan Ros dan merupakan tempat ia
mencurahkan segala keluh kesahnya. “Hidup aku benar-benar rumit, mulai dari
pekerjaan, menikah dengan suami orang, bahkan perbedaan agama yang aku jalani
dengan suamiku” ceritanya pada Etri dengan wajah penuh sesal.
Ros
melahir seorang anak laki-laki. Seolah tak jauh dari kesialan anak yang ia
lahirkan memiliki kelainan pada daun telinganya. Kedua telinganya tertutup oleh
daun telinga yang ujungnya menempel pada tulang pipi/pinggir pipi. Namun
demikian, seperti pepatah mengatakan ‘buah takkan jatuh jauh dari pohonnya’,
Gugun memiliki paras yang rupawan, hidungnya mancung, alisnya tebal bak semut
berbaris dan kulitnya putih seperti ayahnya yang berdarah cina. Untunglah
kekurangan fisik yang dialami anaknya tersebut tidak berpengaruh dan ternyata
Ali tetap menyayangi anaknya yang ia beri nama Gunawan dan dipanggil Gugun.
Memang anak yang Ali peroleh dari sandra semuanya perempuan.
Setelah
memperoleh seorang anak kini Ali sudah jarang meninggalkan Ros sendirian.
Bahkan ia juga sangat perhatian kepada Ros dan anaknya itu. Anak-anak Ali juga
menyayangi adik baru dari ibu tirinya itu. Tidak jarang anak-anak Ali datang ke
rumah Ros untuk bermain dengan adik kecilnya.
Kini
keluarga tersebut telah kembali utuh namun masih ada yang menjagal, yaitu
perbedaan keyakinan yang ada antara mereka. Bagaimana dengan anaknya nanti,
Gugun pasti bingung nantinya jika harus memilih agama mana yang harus ia anut.
Dengan berat hati Ros akhirnya memilih untuk berpindah keyakinan mengikuti
suaminya.
Ros
memberitahukan keluarganya tentang keputusan untuk berpindah keyakinan. Pada
mulanya orang tua Ros tidak mengizinkan karena pada mulanya saja Ros sudah
membuat kesalahan, yaitu menikah dengan orang yang berbeda agama. “Jika itu
keputusan yang terbaik untuk kamu, ibu tidak bisa melarang” ungkap ros saat menceritakan tentang pendapat
orang tuannya.
Ros
berpikir toh selama ini ia juga sudah lalai dalam menjalankan perintah agama,
bahkan sering kali ia melanggar larangan-larangan yang seharusnya tak ia
lakukan. Namun sering kali ia merasa sedih saat melihat orang ke masjid, apa
lagi ketika bulan puasa dan menjelang lebaran. Tidak jarang ia menangis saat
melihat orang pergi ke masjid dan saat bercerita tentang perjalanan hidupnya
yang pahit.
Kini
anak Ros, Gugun, sudah besar dan sudah masuk TK. Meski ada kelainan pada bentuk
telinganya tapi tidak ada ganguan terhadap pendegaran Gugun. Kehidupan dan
rumah tangga yang dijalani Ros berjalan dengan tenang tanpa suatu masalah yang
berarti.
Selain
itu, yang terpenting ia tidak lagi hidup sebagai seorang pelacur, juga dapat
mengirimkan keluarganya uang dengan uang yang halal meski mereka sudah tak satu
keyakinan. Namun sayang pernikahannya dengan Ali sampai kini masih belum dilegalkan.
“
Aku berharap seorang pelacur tak selalu dipandang rendah karena tidak satu pun
orang di dunia ini yang ingin dilahirkan sebagai pelacur, pelacur juga
sebenarnya juga tidak berniat untuk menghancurkan rumah tangga seseorang apa lagi menyakiti
hati sesame kaumnya” paparnya sambil menangis.
Penulis: Evi Marianti (F11409043)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar