Rabu, 18 Juli 2012

Rosnawati

Rosnawati
Perjalanan Hidup yang Pahit
Rambut tomboy ala Laura Hollins atau yang lebih dikenal dengan Agyness Deyn. Kulit sawo mateng mulus tanpa noda sedikitpun. Tinggi semampai dengan wajah oval lengkap dengan matanya yang bulat dan gigi gingsulnya yang membuat mata tak ingin  beranjak untuk menatap keindahan ciptaan Tuhan itu.
Rosnawati tinggal bersama ibu dan adik-adiknya. Ya Rosnawati memang sudah tidak memiliki ayah. Mereka tinggal di sebuah desa di jawa, tepatnya desa Watulawang. Wati (panggilan Rosnawati) memiliki tiga adik perempuan dan dua adik laki-laki. Ya Ros memang anak sulung dari enam bersaudara (maklum dulu belum ada KB). Adiknya yang perempuan bernama Dewi, Sugiarti dan Hanun Sedangkan adiknya yang laki-laki bernama Sugianto dan Nurkholis.
Rosnawati tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dengan alasan ekonomi keluarga. “Aku adalah anak yang paling tua, jadi tidak boleh egois ”. Keadaan ekonomi yang menghimpit dan keinginan untuk menyekolahkan adik-adiknya membuat wati bertekad untuk mencari kerja. Sayang Wati tidak menemukan pekerjaan yang tepat. Pernah sekali ia mendapat tawaran untuk menjaga sebuah toko namun gaji yang ditawarkan sangatlah kecil. Hal itu membuat ia menolak pekerjaan tersebut.
“Waktu takkan berhenti untuk menuggu kita dan uang tak mungkin berjalan sendiri untuk menghampiri orang yang berdiam diri” itulah kata-kata yang menyemangati waktu dikampung unkapnya. Waktu berlalu akhirnya rosnawati hijrah ke pontianak. “ Mengapa Pontianak, kenapa bukan Jakarta, atau jai TKI ke Arab Saudi atau Malaysia?” selidikku. “kalau di pontianak ada keluarga dari bapak dan tidak perlu bikin paspor, asalkan ada ongkos untuk transportasi” jalasnya.
Sampai di pontianak Rosnawati langsung ke tempat kelurganya “Bude Sri” wati menyebutnya. Rumah budenya di Gg. Ishak depan sekolah Bina Utama (Sui. Jawi). Wati hanya beberapa hari tinggal di sana karena ia mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Majikan wati memanggilnya dengan sebutan Ros. Katanya nama Wati mirip nama kucing peliharaannya yang  bernama katy, ujungnya sama-sama ti, maka berubahla nama Wati menjadi Ros.
Waktu terus berputar, hampir satu bulan Ronawati bekerja. Nama Ros pun sudah tak asing baginya. Pas tanggal 26 maret Ros menerima gaji pertamanya, “ kalau tidak salah gaji aku waktu Rp 650.000.” ceritanya pada sahabatku Etri. Kebetulan Etri sahabatku bertetangga dengan Rosnawati yang biasa ia panggil dengan sebutan kak Ros. Tiap bulan biasnya Ros mengirimkan keluarganya uang sekitar Rp.500.000. 
Hampir setahun Rosnawati bekerja, namun ada gelagat yang tak baik dari suami majikannya pak Junaidi. Sering rosnawati dicolek-colek hingga akhirnya ia merasa tidak betah karena merasa dilecehkan. Hanya sembilan bulan ia bertahan bekerja, kemudian berhenti. “Entahlah sembilan bulan berapa hari aku lupa” jelasnya.
Kini si gadis tomboy tak memiliki pekerjaan alias pengangguran. Rosnawati kembali ke tempat keluarganya bude Sri. Ya untuk sementara memang itulah satu-satunya tempat berteduh. Untunglah aku masih punya keluarga di Pontianak. Tak pernah terbayang jika ia tak memiliki keluarga di kota yang ganas itu.
 Rosnawati senang bukan kepalang karena belum berapa lama ini ia bertemu dengan seorang pria yang sangat baik kepadanya. Ia pun ditawari sebuah pekerjaan. Bertambahlah satu kabahagiaan Rosnawati meskipun pekerjaan yang ditawarkan belum jelas.
16 Januari 2005 Ros diajak ke suatu tempat, yaitu tempat di mana ia akan bekerja. Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan. Tempat yang akan dituju bukanlah kota, tapi sebuah perkampungan dengan jalan-jalan yang rusak.
Akhirnya mereka tiba ditempat yang di  maksud. Dalam benaknya Ros berfikir ternyata pekerjaan yang ditawarkan menjadi pelayaan, tapi kenapa tempat ini terasa aneh. Dikatakan rumah makan bukan, kafe juga bukan apalagi restoran. Namun anehnya di sana menyediakan minuman dan makanan ringan. Ruangan besar dengan kursi tertata rapi, pelayaannya semua perempuan dan seorang pelayaan memanggil Joni dengan sebutan bos. Oh……….ternyata tempat ini milik Joni.  Tempat tersebut berada di Kabupaten Kubu Raya, tepatnya daerah Bintang Mas 4, sebuah jalan yang menuju Rasau.
Joni mengajak Ros ke suatu ruangan. Tempat ini adalah tempat di mana para lelaki hidung belang menghabiskan waktunya, ya kasarnya ini tempat pelacuran atau rumah bordil. Joni menjelaskan. Mendengar itu semua Ros pun minta diantar pulang. “aku mengajakmu ke sini agar kamu tahu bagaimana aku yang sebenarnya dan aku tak ingin menyembunyikan sesuatu dari mu, masalah keluargamu biar aku yang urus”.
Waktu terasa begitu cepat dan sudah hampir setahun Ros tinggal di rumah bordil itu. Ia pun sambil bekerja sebagai pelayan walaupun Joni sudah melarangnya bekerja melayani tamu. Ia merasa tidak enak kapada Joni karena tiap bulan Joni selalu mengirimi keluaganya uang dengan jumlah yang besar. Pernah suatu hari ada tamu yang iseng dan mengiranya sebagai PSK. Karena rata-rata pelayan di sana selain sebagai pelayan tamu yang minum juga sebagai pelayan di ruangan yang berukuran 3x4 yang telah disediakan di sana. Jelas Joni marah dan mengusir tamu tersebut.
Semenjak tinggal di RM (rumah bordil) itu, Ros sudah sangat jarang sholat apa lagi mengaji. Ia merasa tempat di sana kotor. Mungkin karena terpengaruh lingkungan juga hingga Ros juga ikut berubah. Namun syukurlah ternyata tiap kali ia berpergian atau ke tempat budenya ia tak pernah meninggalkan sholatnya. Sebelum ia hijrah ke pontianak ibunya berpesan agar ia selalu mengerjakan sholat lima waktu karena itulah yang akan menjaga kita dari semua perbuatan yang tidak baik, kenangnya.
Suatu ketika Joni menyatakan niatnya untuk melamar Ros namun apa hendak dikata ibarat pribahasa “jauh api dari panggang”. Joni ternyata sudah memiliki istri bernama Mulyani. Mendengar suaminya ingin menikah lagi spontan saja Mulyani melabrak Ros habis-habisan. “Dasar perempuan tak tahu diuntung, sudah ditolong malah tidak tahu terima kasih” Ros menirukan ucapan istri Joni . Ternyata ada seorang pelayan di sana yang menjadi mata-mata istri Joni. Pelayan tersebutlah yang memberikan setiap informasi mengenai gerak-gerik suaminya itu. “Jelas saja istrinya punya mata-mata orang suaminya hidup dikerumuni perempuan-perempuan nakal, tapi aku berusaha menjelaskan bagaimaina kejadian sebenarnya dan aku sama sekali tidak tahu kalau joni sudah punya istri”, cerita Ros.
Babak demi babak kehidupan pun ia mulai. Ros sudah tidak menjadi perempuan yang istimewa lagi di tempat itu. Anehnya ia tidak pergi setelah dilabrak oleh istri joni, ia tetap bertahan meski suasana sudah sangat genting. Joni pun sudah tak mengirimkan uang lagi kepada keluarga Ros. Keadaan kini sudah berubah, sudah tak ada lagi hubungan istimewa antara Joni dan Ros karena memang hubungan mereka terlarang. Sudah cukup cacian dan tamparan yang mendarat di pipi Ros sebagai satu peringatan agar ia menjaga jarak dengan pemilik rumah bordil itu.
Beberapa bulan setelah kejadian (dilabrak) itu, akhirnya Ros memutuskan untuk menjadi seorang PSK. Ia merasa gaji yang diperolehnya sebagai pelayan sangat kecil meski terkadang ia memperoleh tips dari para om-om yang minta ditemani ngobrol. “Mana cukup gajiku untuk dikirimkan ke kelurga dikampung”. Ibunya sudah cukup tua dan sering sakit-sakitan belum lagi adik-adiknya yang masih harus membayar biaya sekolah. Di kampung ibunya hanya berternak ayam dan bebek, itu pun cuma 10—20 ekor.
Sesekali ibu dan adiknya menelpon untuk menanyakan keadaan dan pekerjaannya. Meski demikian Ros tetap menyimpan rapat cerita perjalanan hidupnya dari keluarga di kampung. Ia tidak ingin  keluarganya terbebani dengan semua cerita pahit dari sebuah kehidupan yang kini dialaminya. Selain itu, keluarganya pasti akan sangat terpukul jika tahu kalau anaknya bekerja sebagai seorang pelacur. “Mana mungkin ibu mau menerima uangku jika ia tahu dari mana uang itu ku peroleh dan pasti ia akan sangat terpukul”. Ratapnya.
Ros kini menjadi seorang primadona di sebuah tempat yang sama sekali tak pernah ia bayangkan. “Tak pernah terbesit difikiranku untuk bekerja di tempat yang penuh dengan pendosa itu, meski akhirnya aku pun harus menjadi seorang yang berlumur dosa”. Pahit memang kenyataan hidup yang harus ia jalani untuk memperoleh sebuah kehidupan yang layak.
Sebagai seorang primadona tentunya Ros memiliki penghasilan yang cukup besar.
Ia pun mengirimi keluarga uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Dalam waktu satu malam ia dapat memperoleh uang ratusan ribu. Dengan demikian ia tidak hanya dapat mengirimi uang untuk keluarganya tapi juga dapat menabung.

            Pekerjaannya sebagai seorang PSK membuat ia bertemu dengan seorang lelaki bernama Ali. Ia seorang chainise yang tinggal di Parit Berkat. Orang biasa menyebutnya dengan sebutan Si Ali Aciang, karena ayahnya bernama Aciang. Ali sudah mempunyai seorang istri dan tiga orang anak. Istrinya memang sering pulang ke rumah orang tuanya di Pontianak. Itulah yang membuat Ali jadi sering berkunjung ke RM yang berada di Bintang Mas itu. Ali mempunyai usaha penggilingan padi karena mayoritas masyarakat di punggur bekerja sebagai petani.
Ali pun menjadi langganan Ros, bahkan mereka seperti berteman karena Ros sering bercerita tentang perjalanan hidupnya. Ali yang mulanya yang hanya berniat untuk senang-senang kini merasa kagum kepada primadona RM itu. Siapa yang tidak kagum dengan seorang perempuan yang memiliki rasa saya sayang terhadap keluarga dan mau berkorban demi adik-adiknya.
Rasa kagum itu kini telah berubah menjadi rasa cinta. Ali pun berniat untuk menikahi Ros, tapi Ros menolak karena ia tahu kalau Ali sudah mempunyai seorang istri dan anak. Ali mencoba untuk meyakinkan Ros agar mau menikah dengannya dan ia berhasil membujuk Ros.
Ros pun diajak Ali untuk menemui istrinya. Ros pasrah untuk mendapat cacian dan makian untuk yang kedua kalinya. Ternyata benar apa yang ia pikirkan bahwa istri Ali pasti akan memakinya. Seketika keadaan menjadi sangat kacau dan ricuh. Keributan pun tak dapat dihindarkan. Keributan yang terjadi di rumah Ali seolah menjadi tontonan gratis disekitar rumahnya. Istri Ali memaki-maki Ros, ia melempar semua perabotan rumah keluar, bahkan ia menyuruh para pegawainya untuk menghentikan mesin penggilingan padi. Tidak hanya istri tetapi anaknya juga menentang keinginan ali tersebut.
Ali tidak peduli dengan  anak dan istri yang menentang keras keinginannya untuk menikahi Ros. Ia tetap akan menjalankan niatnya itu. Namun selain masalah keluarga ternyata ada masalah lain yang harus mereka hadapi. Perbedaan agama di antara mereka menjadikan masalah kian rumit.
20 Agustus 2007 Ros pulang ke kampung halamannya di Watulawang untuk meminta restu kepada orang tua dan adik-adiknya. Bukan kepalang terkejut keluarga Ros mendengar calon suaminya yang berbeda agama dengan mereka. Kini pernikahan Ros kembali ditentang oleh keluarganya sendiri. Mungkin itulah efek dari rasa cinta yang sedang mereka rasakan.
Seperti Ali, Ros pun tidak peduli dengan keluarganya yang tidak memberikan restu. Bukan karena ia tidak sayang pada keluarganya, tapi karena ia sudah bosan menjadi seorang pelacur meskipun ia akan menghancur sebuah keluaga dan menyakiti banyak hati. Cerita Ros panjang lebar mengenai perjalanan cintanya dengan si mata sipit.
Pernikahan mereka dilangsungkan secara islami meskipun sebenarnya mereka berbeda agama. Ros pun tahu bahwa sebenarnya pernikahan yang mereka jalani tidak sah menurut agama. Karena di dalam islam pernikahan yang dijalani dengan orang yang non muslim dianggap tidak sah dalam hukum islam.
Masalah tidak berakhir sampai di situ. Menurut beberapa masyarakat sekitar istri Ali yang bernama Sandra itu tidak terima dengan pernikahan tersebut akhirnya memutuskan untuk menemui orang pintar.  Ia meminta kepada orang pintar tersebut untuk membuat Ali benci kepada istri mudanya itu (Ros).
Selain meminta tolong kepada orang pintar Sandra juga sering menfitnah Ros dengan bergai tuduhan yang tidak baik. Ia mengatakan bahwa Ros sering memarahi anak-anaknya. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa Ros malas-malasan kalau Ali sedang tidak ada di rumah.
Usaha Sandra tersebut tidak sia-sia, Ali dan Ros jadi sering bertengkar. Pernikahan yang baru berumur beberapa bulan tersebut berubah menjadi seperti neraka.
Puncaknya Sandra meminta Ali untuk membelikannya rumah baru di Pontianak. Permintaan tersebut dikabulkan Ali. Ia membelikan Sandra rumah baru dikawasan Alianyang dan yang lebih membuat Ros menderita Ali juga lebih sering menginap di rumah Sandra.
Tidak lama setelah itu Ros hamil. Kehamilan tersebut sedikit membuat Ali lebih perhatian kapadanya. Namun tetap saja Ali tidak bisa baik seperti dulu sebelum mereka menikah. Mungkin karena Sandra yang selalu mnghasut Ali atau memang karena orang pintar yang Sandra temui.
Saat-saat hamil tua Ros lebih sering ditemani sahabatku yang bernama Etri. Etri merupakan satu-satunya tetangga yang cukup dekat dengan Ros dan merupakan tempat ia mencurahkan segala keluh kesahnya. “Hidup aku benar-benar rumit, mulai dari pekerjaan, menikah dengan suami orang, bahkan perbedaan agama yang aku jalani dengan suamiku” ceritanya pada Etri dengan wajah penuh sesal.
Ros melahir seorang anak laki-laki. Seolah tak jauh dari kesialan anak yang ia lahirkan memiliki kelainan pada daun telinganya. Kedua telinganya tertutup oleh daun telinga yang ujungnya menempel pada tulang pipi/pinggir pipi. Namun demikian, seperti pepatah mengatakan ‘buah takkan jatuh jauh dari pohonnya’, Gugun memiliki paras yang rupawan, hidungnya mancung, alisnya tebal bak semut berbaris dan kulitnya putih seperti ayahnya yang berdarah cina. Untunglah kekurangan fisik yang dialami anaknya tersebut tidak berpengaruh dan ternyata Ali tetap menyayangi anaknya yang ia beri nama Gunawan dan dipanggil Gugun. Memang anak yang Ali peroleh dari sandra semuanya perempuan.
Setelah memperoleh seorang anak kini Ali sudah jarang meninggalkan Ros sendirian. Bahkan ia juga sangat perhatian kepada Ros dan anaknya itu. Anak-anak Ali juga menyayangi adik baru dari ibu tirinya itu. Tidak jarang anak-anak Ali datang ke rumah Ros untuk bermain dengan adik kecilnya.
Kini keluarga tersebut telah kembali utuh namun masih ada yang menjagal, yaitu perbedaan keyakinan yang ada antara mereka. Bagaimana dengan anaknya nanti, Gugun pasti bingung nantinya jika harus memilih agama mana yang harus ia anut. Dengan berat hati Ros akhirnya memilih untuk berpindah keyakinan mengikuti suaminya.
Ros memberitahukan keluarganya tentang keputusan untuk berpindah keyakinan. Pada mulanya orang tua Ros tidak mengizinkan karena pada mulanya saja Ros sudah membuat kesalahan, yaitu menikah dengan orang yang berbeda agama. “Jika itu keputusan yang terbaik untuk kamu, ibu tidak bisa melarang”  ungkap ros saat menceritakan tentang pendapat orang tuannya.
Ros berpikir toh selama ini ia juga sudah lalai dalam menjalankan perintah agama, bahkan sering kali ia melanggar larangan-larangan yang seharusnya tak ia lakukan. Namun sering kali ia merasa sedih saat melihat orang ke masjid, apa lagi ketika bulan puasa dan menjelang lebaran. Tidak jarang ia menangis saat melihat orang pergi ke masjid dan saat bercerita tentang perjalanan hidupnya yang pahit.
Kini anak Ros, Gugun, sudah besar dan sudah masuk TK. Meski ada kelainan pada bentuk telinganya tapi tidak ada ganguan terhadap pendegaran Gugun. Kehidupan dan rumah tangga yang dijalani Ros berjalan dengan tenang tanpa suatu masalah yang berarti. 
Selain itu, yang terpenting ia tidak lagi hidup sebagai seorang pelacur, juga dapat mengirimkan keluarganya uang dengan uang yang halal meski mereka sudah tak satu keyakinan. Namun sayang pernikahannya dengan Ali  sampai kini masih belum dilegalkan.
“ Aku berharap seorang pelacur tak selalu dipandang rendah karena tidak satu pun orang di dunia ini yang ingin dilahirkan sebagai pelacur, pelacur juga sebenarnya juga tidak berniat untuk menghancurkan  rumah tangga seseorang apa lagi menyakiti hati sesame kaumnya” paparnya sambil menangis.

Penulis: Evi Marianti (F11409043)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar